Gerakan radikal PKI (1921)

Partai Komunis Indonesia (PKI) lahir setelah SI mengadakan disiplin partai, sehingga SI Merah di bawah Semaun dan Darsono dikeluarkan dari SI (1921). SI Merah menjelma menjadi PKI. PKI sebenarnya dari ISDV yang didirikan oleh H. Sneevliet di buruh, khususnya buruh kereta api.

Anggota ISDV kebanyakan dari Vereeniging van Spoor en Tramweg Personeel (VSTV), yaitu serikat buruh kereta api. Kaum buruh dapat mudah memahami ajaran sosialisme, karena mereka lebih terdidik daripada kaum tani. Setelah Revolusi Sosialis Rusia tahun 1917, kaum sosialis makin kuat kedudukannya dan aksi-aksi yang dilancarkan makin hebat.

Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan kelanjutan dari ISDV. Pada tanggal 23 Mei 1920, ISDV merubah namanya menjadi Partai Komunis Hindia dan pada bulan Desember tahun yang sama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Gerakan radikal PKI (1921)

Waktu PKI lahir tahun 1920 telah merupakan partai yang beranggota banyak, sebagai hasil sistem sel yang dijalankan dalam tubuh Sarekat Islam Semaun dan Darsono yang melawat ke luar negeri terutama ke Rusia (1921). Setelah melihat keadaan sebenarnya mereka berpendapat bahwa organisasi komunis diatur sesuai dengan situasi dan kondisi setempat.

Apa yang dapat dilakukan di Rusia tidak dapat diterapkan di Indonesia karena situasi dan kondisinya berlainan. Tokoh komunis lainnya adalah Tan Malaka yang karena aktivitasnya dalam pemogokan kaum buruh ia diusir dari Indonesia oleh pemerintah Belanda (1922).

Serikat buruh bukan monopoli PKI yang berhaluan sosialis. Perkumpulan lain seperti Boedi Oetomo dan Sarekat Islam juga memiliki massa dalam perburuhan. PKI memperoleh massa kaum buruh dari Sarekat Islam juga. Dalam kongres Persatuan Pergerakan Kaum Buruh (PPKB) di Yogyakarta, Semaun dengan organisasi buruhnya keluar dari perkumpulan itu (1921).

Kemudian didirikanlah serikat buruh yang baru bernama Revolutionere Vakcentrale berkedudukan di Semarang yang memang merupakan basis kaum sosialis sebelumnya. Sedangkan Suryopranoto dan Agus Salim meneruskan organisasi PPKB dengan Yogyakarta sebagai pusatnya.

Kaum buruh mulai menjalankan aksi-aksi mogok sebagai senjata ampuh untuk menuntut kenaikan upah dan menghancurkan kaum kapitalis. Pada bulan April 1923 dilancarkan pemogokan buruh kereta api, kemudian diikuti oleh buruh percetakan dan juru mudi di Semarang.

Baca juga di bawah ini :



Pemogokan di Semarang meluas ke Surabaya. Pada tahun 1925 buruh di Surabaya mogok sebagai protes terhadap tekanan upah dan tidak disediakan perumahan untuknya. Akibat pemogokan tersebut, maka pemimpin-pemimpin PKI seperti Semaun dan Darsono diusir dari Indonesia dan tinggal beberapa lama di luar negeri. Pada tahun 1926 - 1927 pemimpin-pemimpin PKI yang masih tinggal di Indonesia mengadakan pemberontakan yang merupakan penyimpangan dari pola umum Kebangkitan Nasional.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel