Pembaharuan PPPKI 1927

Kaum nasionalis dalam studie club berusaha bersatu agar dapat cepat mencapai tujuan bersama yaitu Indonesia merdeka. Atas usul PNI yang disetujui PSI dapat dibentuk Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) pada tanggal 17 Desember 1927. Anggotanya terdiri atas PNI, PSI, Boedi Oetomo, Pasundan, Sarekat Sumatra, Kaum Betawi, dan Indonesische Studie Club.

Tujuan PPPKI adalah berikut ini :

  • Menyamakan arah aksi kebangsaan, memperkuat diri dengan memperbaiki organisasi, dan kerja sama antara anggota-anggotanya.
  • Menghindarkan perselisihan sesama anggota yang dapat melemahkan.

Organisasinya memiliki Majelis Pertimbangan yang terdiri atas seorang ketua, penulis dan bendahara, serta wakil-wakil dari anggota. Keputusan diambil berdasarkan suara bulat. Dibandingkan dengan Radicale Concentratie, PPPKI memiliki beberapa kelebihan, yaitu sudah benar-benar nasionalis, berdirinya lebih lama, dan sifatnya umum.

Kegiatan PPPKI antara lain menentang segala pasal dalam Undang-undang Hukum Pidana yang merintangi orang-orang menyatakan pikiran secara merdeka. Menuntut agar orang-orang yang diasingkan ke Digul dimerdekakan kembali.

Membentuk panitia untuk pengajaran kebangsaan. Menyerahkan suatu memorandum kepada Ketua Konferensi Perburuhan Internasional tentang Poenale Sanctie. Dibentuk dana untuk membiayai propaganda di Indonesia dan luar negeri. Atas usul PNI diangkat PI sebagai wakil di Eropa.

Kelemahan-kelemahan yang dimiliki PPPKI :

  • Gabungan itu tidak memiliki asas dan dasar yang sama. Ada yang berasaskan kebangsaan, agama, dan kedaerahan.
  • Sikapnya terhadap Belanda tidak sama. Ada yang menjalankan nonkooperasi, tetapi ada yang menjalankan kooperasi.

Baca juga di bawah ini :



Oleh karena itu, Bung Hatta menyebut PPPKI sebagai persatean bukannya persatuan. Sedangkan Bung Karno berusaha memberikan pengertian agar dijauhkan hal-hal yang sifatnya berbeda-beda dan mengutamakan persatuan demi tercapainya cita-cita bersama.

Banyak tantangan dari PSII dalam PPPKI, seperti protesnya partai itu karena PPPKI menyampaikan selamat atas kongres Muhammadiyah, tidak disetujui adanya Bank Nasional karena bank dianggap memperoleh riba (bunga uang). Akhirnya PSII keluar dari PPPKI (1930).

Untuk menghindarkan perpecahan lebih besar dan agar dapat menarik anggota baru, diadakanlah pembaruan pada PPPKI. Namanya diubah menjadi Persatuan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kemerdekaan Indonesia (PPPKI). Setiap tahun diadakan Kongres Indonesia Raya yang dapat dihadiri juga oleh bukan anggota dengan hak memberikan suara.

Kesulitan baru timbul setelah Partindo dilarang mengadakan rapat-rapat, sehingga untuk menjaga agar PPPKI tetap dapat menyelenggarakan rapat-rapat, partai itu keluar dari PPPKI. Dengan demikian maka PPPKI kehilangan anggotanya yang kuat, sehingga mengalami kemunduran.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel