Pergerakan sarekat Islam (1911)

Seperti halnya Boedi Oetomo, Sarekat Islam juga lahir karena ada pelopornya. Sarekat Islam pelopornya ialah seorang bangsawan, wartawan, dan pedagang yang berasal dari Solo bernama R.M. Tirtoadisuryo yang pada tahun 1909 mendirikan perkumpulan dagang bernama Sarekat Dagang Islamiyah.

Beliau bercita-cita tinggi, yaitu ingin mendirikan perkumpulan dagang atas dasar koperasi supaya kaum pengusaha bumiputra yang ekonominya lemah dapat bersaing dengan pedagang-pedagang Cina yang lebih kuat. Waktu itu bangsa Cina sudah banyak bergerak dalam perdagangan batik dan bahan-bahan bakunya, sehingga lapangan dagang bangsa Indonesia terdesak. Hal itu dikemukakan kepada H. Samanhudi seorang pengusaha batik di Solo.

Pergerakan sarekat Islam (1911)

Atas dorongan R.M. Tirtoadisuryo, maka H. Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) di Solo (1911). Ternyata bahwa perkumpulan baru ini cepat berkembang, karena adanya beberapa faktor berikut ini :

  • Kesadaran sebagai bangsa mulai tumbuh akibat tekanan yang makin berat dari bangsa asing, baik dari Belanda sebagai pengusaha maupun China dalam bidang perdagangan.
  • Sifatnya kerakyatan, karena perkumpulan itu membuka pintu untuk semua lapisan masyarakat, tidak terbatas pada kaum bangsawan atau pelajar saja seperti Boedi Oetomo.
  • Didasari agama Islam yang merupakan agama terbesar di Indonesia. Pada waktu itu Belanda sedang giat membantu penyiaran agama Kristen di Indonesia, sedangkan untuk agama Islam pemerintah kolonial kurang memberikan perhatian. Keadaan itu mendorong Sarekat Islam mengembangkan agama Islam, agar pemeluk-pemeluknya lebih sempurna menjalankan perintah agama.
  • Adanya saingan dalam perdagangan dari bangsa China. Kota Solo waktu itu merupakan salah satu pusat perdagangan batik dari pengusaha bumiputra, tetapi kedudukannya kian terdesak oleh pengusaha China.

Keempat faktor itu mendorong pengembangan Sarekat Islam menjadi organisasi yang bersifat nasional, demokrasi, religius (keagamaan), dan ekonomi. Dengan sifat-sifat itu SDI bergerak dengan lincahnya, sehingga dalam waktu singkat menjadi perkumpulan besar, melebihi perkumpulan lain yang lahir lebih dahulu.

SDI sebagai perkumpulan dagang beralih pusatnya ke Surabaya yang merupakan kota dagang utama di Indonesia. Tokoh dari kota ini adalah Haji Umar Said Cokroaminoto. Maka diletakkanlah dasar-dasar baru yang bertujuan memajukan semangat dagang bangsa Indonesia, memajukan kecerdasan rakyat, hidup menurut perintah agama, dan menghilangkan paham-paham yang keliru tentang agama Islam. SDI kemudian diubah namanya menjadi Sarekat Islam (SI).

Kongres SI yang pertama di Surabaya tahun 1913 dipimpin oleh HOS Cokroaminoto sebagai wakil ketua organisasi. Di dalam kongres itu ditegaskan oleh beliau bahwa SI bukan suatu partai politik dan tidak bermaksud menentang pemerintah Belanda. Tetapi dengan agama Islam sebagai dasar persatuan, diusahakan untuk meningkatkan derajat bangsa Indonesia.

Cabang SI berdiri di berbagai daerah dan anggotanya sangat banyak. Di Jakarta yang waktu itu penduduknya belum banyak seperti sekarang, dalam tahun pertamanya telah memiliki sebanyak 12.000 anggota. Kemajuan yang dicapai oleh SI dirasakan sebagai suatu bahaya oleh pemerintah Belanda (1913).

Dikeluarkan peraturan bahwa cabang harus berdiri sendiri dan terbatas daerahnya (SI Daerah). Pemerintah Belanda tidak berkeberatan SI Daerah mengadakan badan perwakilan yang diurus oleh Pengurus Sentral (Centraal Sarekat Islam). Pada tahun 1915 SI telah berhasil membentuknya dan mengorganisir 50 cabang.

Setelah Pemerintah Belanda mengizinkan berdirinya partai politik, maka SI yang semula merupakan organisasi nonpolitik menjadi partai politik. SI mengirimkan wakilnya dalam Volksraad dan ikut memegang peranan penting dalam Radicale Concentratie, yaitu gabungan perkumpulan yang memiliki sifat radikal.

Pemerintah Belanda yang dianggap pelindung kapitalisme mulai ditentang. Dalam bidang perburuhan, SI ikut aktif mengorganisir perkumpulan buruh. Sarekat Islam sebagai perkumpulan besar mulai dimasuki oleh orang-orang yang telah menjadi anggota Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV) seperti Semaun dan Darsono.

Anggota-anggota baru itu sangat aktif dalam organisasi, sehingga dalam waktu singkat pengaruhnya sangat besar dan berhasil duduk dalam pimpinan. Mereka banyak menentang pimpinan SI yang asli sehingga menyebabkan terjadi keretakan dalam partai. Timbullah kelompok SI Putih di bawah HOS Cokroaminoto dan SI Merah di bawah Semaun dan Darsono.

Dalam kongresnya di Surabaya tahun 1921 diadakan disiplin partai, artinya anggota partai harus berdisiplin atau setia pada satu partai saja. Mereka yang tidak disiplin, dikeluarkan dari partai. SI Merah dikeluarkan dari SI dan menjelma menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). SI Putih dapat memurnikan diri dan kembali pada asas-asasnya semula.

Nasionalisme PSI tampak dengan perubahan namanya menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) pada tahun 1929 karena mendapat dorongan dari PNI yang dibentuk tahun 1927 dan lahir Sumpah Pemuda tahun 1928. Kemudian juga aktif mengambil bagian dalam Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Ke Indonesia (PPPKI). Dalam menghadapi krisis dunia atau malaise, PSII menganjurkan kepada anggota-anggotanya untuk memajukan pertanian dan kerajinan bangsa Indonesia.

Baca juga di bawah ini :



Dengan semakin banyaknya tenaga-tenaga muda dalam PSII, terjadi juga perbedaan paham antara generasi tua dengan generasi muda. Pada tahun 1932 terjadi perpecahan. Timbul Partai Islam Indonesia (PARII) di bawah dr. Sukiman yang berpusat di Yogyakarta, sedangkan Agus Salim dan Sangaji mendirikan Barisan Penyedar yang berusaha menyadarkan diri sesuai dengan tuntutan zaman.

Kemudian pada tahun 1940 Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo mendirikan PSII tandingan terhadap PSII asli di bawah pimpinan Abikusno Cokrosuyoso. Akibat perpecahan yang sering terjadi, PSII mengalami kemunduran. Peranannya sebagai partai Islam dilanjutkan oleh Partai Islam Indonesia (PII) yang merupakan lanjutan dari PARII di bawah dr. Sukiman.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel