Perhimpunan Indonesia (1924)

Pada permulaan abad ke-20 telah ada sejumlah bangsa Indonesia yang belajar di negeri Belanda. Mereka mendirikan Indische Vereeniging, artinya perkumpulan Hindia tahun 1916. Tokoh-tokoh pendirinya adalah : R. Panji Sosrokartono saudara tua R.A. Kartini, R.M. Notosuroto putra pangeran dari Paku Alam, R. Husein Jayadiningrat keturunan Sultan Banten.

Perkumpulan itu merupakan perkumpulan sosial yang memperhatikan kepentingan anggotanya di rantau. Diterbitkan Majalah Hindia Putra sebagai media komunikasi (1916). Pembuangan tokoh-tokoh Indische Party di negeri Belanda banyak mendorong dan menggiatkan perkumpulan mereka.

Pada tahun 1917 diadakan penggabungan organisasi-organisasi China dan Belanda dengan Indische Vereeniging dan lahirlah Verbond van Studenten. Sayang bahwa perkumpulan yang telah mengandung persatuan yang lebih luas itu tidak mendapat hasil yang diharapkan, karena adanya perbedaan ras yang masih tebal. Perkumpulan tersebut hanya dapat bertahan lima tahun.

Perhimpunan Indonesia (1924)

Nasionalisme yang makin kuat telah mendorong mahasiswa Indonesia di negeri Belanda untuk mengubah nama Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging (1922) dan dua tahun kemudian menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

Tokoh-tokohnya antara lain dr. Sutomo yang sekolah lagi untuk memperoleh persamaan ijazah, dr. Gunawan Mangunkusumo ipar dr. Sutomo dan juga pendiri dari Boedi Oetomo, Moh. Hatta, Iwa Kusumasumantri, Moh. Bazir, Nazir Datuk Pamuncak, dr. Sukiman Wiryosanjoyo, Ali Sastroamijoyo, dan Herman Kartowisastro.

Majalah Hindia Putra diubah namanya menjadi Indonesia Merdeka. Beberapa lambang Indonesia yang dibuat antara lain adalah Merah Putih sebagai bendera, kepala kerbau sebagai lambang, Pangeran Diponegoro sebagai tokoh perjuangan.

Dasar perjuangan yang disusun tahun 1923 diperbarui tahun 1925 dan berisi beberapa hal yaitu sebagai berikut ini :

  • Hanya Indonesia yang merasa dirinya satu dapat mematahkan kekuasaan penjajahan. Tujuannya ialah pembebasan Indonesia dengan mengikutsertakan semua lapisan rakyat atas kekuasaan sendiri (selfhelp).
  • Kepentingan penjajah dan yang terjajah berlawanan, tidak mungkin diadakan kerja sama (nonkooperasi).
  • Harus ada kerja sama yang keras untuk menormalkan keadaan jiwa dan raga kehidupan bangsa Indonesia akibat penjajahan.

Di dalam kegiatannya mencapai kemerdekaan, PI di bawah Moh. Hatta mengadakan suatu persetujuan dengan Semaun tokoh PKI, bertempat di negeri Belanda (1929) yang berisi hal-hal berikut ini :

  • Perhimpunan Indonesia harus menjelma menjadi partai rakyat kebangsaan Indonesia demi kepentingan rakyat, dan PI berkewajiban memegang pimpinan tertinggi dalam pergerakan itu.
  • PKI mengakui pimpinan PI dengan sepenuh hati dan tidak merintangi pergerakan kebangsaan Indonesia selama PI tetap menjalankan politik untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.
  • Semua percetakan yang ada di tangan PKI akan diserahkan kepada PI dan PI akan mengadakan surat kabar kebangsaan.
Tindakan Semaun yang mengakui gerakan kebangsaan Indonesia itu dicela keras oleh Komite Eksekutif Komintern, sehingga ia harus mencabutnya secepat mungkin dan terang-terangan. Tetapi badan internasional yang komunis itu merestui diadakan pemberontakan di Jawa dan Sumatera tahun 1926 - 1927.

Adanya hubungan PI dengan PKI dan terjadinya pemberontakan tahun 1926, menyebabkan pemerintah Belanda mengadakan penangkapan terhadap tokoh PI (September 1927). Tokoh-tokoh PI yang ditangkap yaitu Moh. Hatta, Ali Sastroamijoyo, dan Nazir Datuk Pamuncak. 

Mereka dituduh sebagai penghasut dalam menentang pemerintah. Timbullah protes-protes antara lain melalui Liga Internasional, sehingga mereka itu kemudian dibebaskan tahun 1928. Perhimpunan Indonesia menggabungkan diri dengan League against Imperialism and for national independence yang didirikan oleh Munzenberg, seorang komunis Jerman anggota Reichstag (Parlemen) dan berpusat di Berlin.

Di dalam Liga Internasional tersebut tokoh-tokoh PI banyak berhubungan dengan mahasiswa Asia lainnya seperti Jawaharal Nehru dari India, Hafes Ramadhan Bey dari Mesir. Banyak tokoh PI setelah kembali ke tanah air katif dalam gerakan kebangsaan, seperti dr. Sukiman dalam PSII, dr. Sutomo dalam Parindra, Moh. Hatta, dan Ali Sastroamijoyo dalam PNI.

Tetapi sebagian tokoh-tokohnya dapat dipengaruhi Komintern (Komunis Internasional), di antaranya Setiaji, Suripno, Abdulmajid, dan Maruto Darusman yang baru kembali tahun 1926 dan ikut serta dalam pemberontakan PKI di Madiun (1948).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel