PNI Baru (1931)

Waktu Mr. Sartono membubarkan PNI tahun 1930 ada golongan yang tidak setuju dan menyebut dirinya sebagai golongan merdeka. Mereka giat mengadakan studie club-studie club baru, misalnya di Jakarta ada Studie Club Nasional Indonesia dan di Bandung ada Studie Club Rakyat Indonesia.

Mereka mendirikan Komite Perikatan Golongan Merdeka di Jakarta untuk memperoleh ikatan secara organisasi dalam menghadapi Partindo dan berhasil menarik sebagian anggota-anggota PNI lama ke dalamnya. Di Yogyakarta golongan merdeka membentuk Pendidikan Nasional Indonesia yang disebut juga PNI Baru (Desember 1931).

Pada mulanya Sutan Sjahrir dipilih sebagai ketua, kemudian setelah Moh. Hatta kembali dari negeri Belanda beliau dipilih sebagai penggantinya (1932). Strategi dan perjuangannya tidak terlalu jauh berbeda dengan PNI lama dan Partindo. PNI Baru didasarkan atas nasionalisme dan demokrasi.

PNI Baru (1931)

Tanah air merdeka dapat dicapai dengan jalan mendidik rakyat dalam soal jiwa dan organisasi, sehingga rakyat matang mengadakan aksi. Dengan aksi rakyat kemerdekaan dapat dijalankan. Demokrasi ekonomi dijalankan dengan sistem kolektivisme, artinya usaha bersama untuk menggantikan peranan kapitalisme.

Kelas-kelas dalam masyarakat dilenyapkan dan alat-alat produksi harus dikuasai oleh negara. PNI Baru bersikap nonkooperatif dan perjuangan mencapai kemerdekaan harus dilakukan dengan tenaga sendiri (selfhelp) tanpa bantuan dari mana pun.

Antara PNI baru dengan Partindo terdapat beberapa perbedaan :

  • Soal PPPKI dinilai oleh PNI Baru sebagai persatean, bukannya persatuan. PPPKI yang merupakan federasi tidak mungkin memiliki kekuatan, karena anggota-anggotanya memiliki dasar-dasar berlainan. Sedangkan bagi Partindo, PPPKI yang berhasil dibentuk PNI dapat merupakan persatuan, dibandingkan bila anggota-anggotanya berjuang sendiri-sendiri.
  • Soal mencapai kemerdekaan. Bagi PNI Baru usaha mencapai kemerdekaan dilakukan dengan pembentukan kader dalam masyarakat, sehingga masyarakat matang untuk merdeka. Sedangkan bagi Partindo, kemerdekaan mau dicapai secara langsung dengan kekuatan massa rakyat. Setelah kemerdekaan yang merupakan jembatan emas diperoleh, barulah diadakan pembangunan masyarakat. Perbedaan tersebut mencerminkan perbedaan antara Bung Hatta yang berpendidikan ekonomi dan berasal dari Sumatera dengan Bung Karno yang berpendidikan arsitektur dan berasal dari Jawa.

Baca juga di bawah ini :



Untuk mematangkan masyarakat dalam mencapai kemerdekaan dilakukan kegiatan-kegiatan berupa penerangan untuk rakyat dan penyuluhan dalam koperasi. Kegiatan Bung Hatta dalam bidang perkoperasian itulah yang menyebabkan beliau kemudian diakui sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Pada tahun 1933 PNI Baru telah memiliki 65 cabang.

Pembinaan masyarakat dengan cara demikian juga dianggap berbahaya bagi Belanda dan lebih-lebih sikap PNI Baru yang nonkooperatif. Sehingga setelah Bung Karno sebagai pemimpin Partindo ditangkap (1933), Bung Hatta beserta kawan-kawannya pun ditangkap (Februari 1934).

Di antara kawan-kawannya yang ikut ditangkap adalah Sutan Sjahrir, Maskun, Burhanudin, Murwoto, dan Bondan. Bung Hatta diasingkan ke hulu sungai Digul (Boven Digul) di Irian Jaya (1935), kemudian dipindahkan ke Bandaneira (1936), akhirnya ke Sukabumi 1942).

Tidak adanya pemimpin yang kuat dari PNI Baru menyebabkan partai itu mundur. Rapat-rapat partai dilarang. Jalan yang masih dapat dilakukan oleh sisa-sisa pemimpinnya adalah menulis artikel-artikel di surat kabar atau majalah.

Hal itu pun kemudian dianggap berbahaya juga oleh pemerintah Belanda, sehingga pada tahun 1936 dilakukan lagi pembersihan. Hanya partai-partai yang sifatnya lunak dan menjalankan kooperasi yang dibiarkan hidup oleh Belanda.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel