Kapitulasi Kalijati

Pendaratan Jepang dalam Gurita Barat di bawah Jenderal Imamura mendapat gangguan dari Belanda di Teluk Banten yaitu sebuah kapalnya tenggelam dan serangan udara menimbulkan sejumlah korban. 

Tetapi semua masih dalam batas-batas rencana, sehingga tanggal 1 Maret 1942 pendaratan berhasil dilakukan di Banten maupun Eretan. Mereka bertugas merebut Batavia (ibu kota Hindia Belanda), Kalijati (lapangan udara Belanda).

Tanpa pertempuran yang berarti, akhirnya Jakarta dinyatakan oleh Belanda sebagai kota terbuka untuk dimasuki Jepang tanpa pertempuran. Sedangkan yang mendarat di Eretan terus melaju ke Kalijati yang dijadikan basis menggempur Belanda di dataran tinggi Bandung.

Sementara itu pasukan yang mendarat di Kragan bertugas memotong garis hubungan Bandung dengan Surabaya, dengan jalan menguasai jalur Kragan-Cilacap. Sebagian kecil pasukan Hindia Belanda sempat melarikan diri ke Australia sebelum Cilacap jatuh ke tangan Jepang.

Sebagian besar tertinggal di dataran tinggi Bandung, sementara itu pengungsi Belanda bersama keluarganya makin memadatinya. Jepang pun secara sporadis mulai menyerang dataran tinggi Bandung.

Untuk menghindarkan jatuhnya korban yang lebih besar maka Gubernur Jenderal Tjarda van Stakenborg Stachhouwer dengan didampingi Letnan Jenderal Ter Poorten datang ke Kalijati untuk mengadakan perundingan.

Baca juga di bawah ini :



Jenderal Imamura menolaknya, sehingga Belanda harus menyerah tanpa syarat di Kalijati (Kapitulasi Kalijati) pada tanggal 9 Maret 1942. Berakhirlah kekuasaan Belanda atas Indonesia dan ganti Jepang yang menjadi penguasa baru.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel