Perang pasifik (serbuan jepang terhadap sekutu)

Perang Pasifik yang merupakan bagian dari Perang Dunia II sudah dipersiapkan secara saksama sebelum Jepang menyerbu China (1937) oleh Laksamana Yamamoto. Serangan mendadak dilakukan oleh Jepang di bawah pimpinan Laksamana Nagano atas pelabuhan Pearl Harbour (hari Minggu pagi buta, 7 Desember 1941).

Satuan tugas (task force) Jepang memiliki kekuatan 6 kapal induk, 9 kapal perusak, 2 kapal tempur, 2 kruiser, 3 kapal selam, dan 353 kapal terbang. Serangan (strike) oleh Jepang membawa kerugian besar bagi Amerika Serikat berupa 19 kapal tenggelam, 56 kapal terbang hancur di landasan, 2403 orang meninggal, dan 1178 luka-luka.

Beberapa jam setelah pembukaan Perang Pasifik oleh Jepang, Amerika Serikat menyatakan perang terhadapnya (sebelumnya selalu netral seperti yang dilakukan dalam Perang Dunia I). Hindia Belanda pun pada tanggal 7 Desember 1941 menyatakan perang terhadap Jepang.

Dari basis militernya di Indo China, Jepang menyerbu secara kilat tiga jurusan. Ke barat melalui Thailand menyerbu Birma (Myanmar) guna menutup Birma Road, ke timur diarahkan ke Filipina terus ke Pulau Jawa, dan ke barat daya menyerbu Malaya dan Singapura.

Sekutu di Asia Tenggara praktis tidak siap, dengan buru-buru mereka membentuk komando gabungan dengan nama ABDACOM (American-British, Dutch-Australian Command) tanggal 15 Januari 1942. Sebagai komandan tertinggi Marsekal Sir Archibald Wavell (Inggris), komandan di laut Laksamana Thomas C. Hart (Amerika).

Sedangkan komandan di darat Letnan Jenderal Hein Ter Poorten (Belanda), komandan di udara Marsekal Richart E.C. Pierce (Australia). Markas besarnya ditetapkan di Lembang (Jawa Barat), sedangkan basis angkatan laut ditetapkan di Surabaya (Jawa Timur).

Untuk menahan serbuan Jepang melalui laut, pertahanan Sekutu dilakukan dengan membagi Indonesia atas tiga bagian wilayah. Wilayah barat mulai Laut China Selatan, Lautan India, dan Singapura tugas Inggris, dari perairan Selat Makasar terus ke timur tugas Amerika dan Australia, sedang di Laut Jawa tugas Belanda.

ABDACOM memiliki sejumlah kelemahan yaitu jumlah prajuritnya jauh lebih sedikit daripada kekuatan Jepang, mereka tidak pernah mengadakan latihan bersama, siasat perang dan sistem komandonya berbeda-beda.

Sementara itu Jepang maju dengan pesatnya. Kapal penjelajah berat Inggris Prince of Wales dan penjelajah Repulse dapat ditenggelamkan oleh 50 pesawat pembom-torpedo Jepang di perairan Laut China Selatan, padahal kedua kapal tersebut diandalkan sebagai benteng Inggris di Asia Tenggara.

Baca juga di bawah ini :



Jatuhnya Singapura (14 Februari 1942) dan sebagian Filipina membuat prajurit Sekutu khususnya Belanda turun semangat tempurnya. ABDACOM menjadi berantakan setelah Sir Archibald Wavell meninggalkan Indonesia yang tidak mungkin dipertahankan lagi, sementara tenaganya lebih dibutuhkan di India dalam menahan masuknya Jepang di jajahannya yang penting.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel