Zaire nasionalisme di afrika tengah

Sebelum menjadi negara merdeka kembali, Zaire bernama Kongo yang merupakan jajahan Belgia; Gubernur Jenderal berkedudukan di Leopoldville. Bangsa kulit putih banyak yang bertempat tinggal di Katanga, pusat pertambangan tembaga, intan, kobal, dan seng yang mendatangkan enam puluh persen devisa negara.

Produksi tersebut diekspor melalui pelabuhan Luansa dan Lobito. Luas Zaire hampir sama dengan Amerika Serikat. Gerakan Nasional Kongo (MNC) dipimpin oleh Patrice Lumumba yang kemudian menjadi perdana menteri.

Sedangkan partai lainnya ialah Konakat yang dipimpin oleh Moise Tsombe yang kemudian menjadi tokoh pemisah dari daerah Katanga. Masih banyak partai lain, puluhan jumlahnya dan bersifat kesukuan. Belgia sebagai negara penjajah tidak mampu menghadapi gerakan nasional dan memberikan kemerdekaan kepada Kongo, maka lahirlah Republik Demokrasi Kongo (1960).

Kasavubu menjadi presiden dan Patrice Lumumba menjadi perdana menteri pertama. Kongo mengalami kesulitan karena Moise Tsombe melepaskan daerah asalnya Katanga sebagai negara merdeka yang harus dihadapi oleh Patrice Lumumba dengan kekerasan.

Karena Patrice Lumumba berusaha meminta bantuan dari Rusia, maka ia ditangkap oleh Kasazubu. Keadaan negara yang kacau menyebabkan PBB memberi bantuan untuk menjaga keamanan dan memulihkan ekonominya yang merosot.

Indonesia mengirimkan Pasukan Garuda II dan III ke Kongo sebagai partisipasinya ikut menciptakan perdamaian dunia. Tahun 1965 kekuasaan Kasavubu direbut oleh Jenderal Joseph Mobutu. Disusunlah UUD baru, kemudian Mobutu diangkat menjadi presiden.

Dibentuk partai baru sebagai partai tunggal di Kongo. Afrikanisasi dilakukan dengan mengubah nama-nama yang berbau Barat menjadi nama Afrika, seperti Kongo menjadi Zaire, Leopoldville menjadi Kinshasa, Joseph Mobutu menjadi Mobutu Sese Seko.

Baca juga di bawah ini :



Mobutu menghadapi tantangan berat pada tahun 1977 dan 1978, ketika Propinsi Shaba diserbu Angola oleh para pelarian. Mereka diusir oleh pasukan Perancis dan Belgia yang dikirim untuk membantu Mobutu. Tahun 1980-an terwujudlah stabilitas politik meskipun masih diwarnai dengan kelesuan ekonomi dan menumpuknya utang luar negeri.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel