Fase akhir perang dunia II (jepang terdesak 1944)

a. Jepang Terdesak Sekutu.

Kedudukan Jepang dalam Perang Pasifik makin terdesak dalam tahun 1944. Angkatan Laut Amerika Serikat di bawah Laksamana Nimitz berhasil merebut kedudukan penting di Kepulauan Mariana seperti Saipan, Tinian, dan Guam, sehingga jalan menuju ke Kepulauan Jepang makin terbuka.

Angkatan darat Amerika Serikat di bawah Jenderal Dauglas Mac Arthur dengan taktik loncat katak menyusur pantai utara Irian dan bermarkas di Hollandia (Jayapura) untuk kembali ke Filipina seperti dijanjikan. Kekalahan beruntun demikian menyebabkan Jenderal Hedeki Tojo digantikan oleh Jenderal Kiniaki Koiso sebagai perdana menteri.

Dari kedudukannya di Biak ataupun Morotai, angkatan udara Sekutu mulai mengadakan pemboman atas kedudukan Jepang di Indonesia, seperti Ambon, Ujungpandang, Surabaya, dan Semarang. Rakyat mulai kurang percaya akan kemampuan dan semangat Jepang melawan Sekutu.

Untuk memperoleh dukungan rakyat yang lebih banyak lagi dari sebelumnya, maka Perdana Menteri Kiniaki Koiso memberikan janji kemerdekaan di kelak kemudian hari (September 1944). Diduga bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan bila Sekutu sudah menyerang Indonesia, seperti telah dilakukan terhadap Filipina dan Birma.

Baca juga di bawah ini :



b. Janji September.

Sejak janji September tersebut, Jepang mengizinkan untuk mengibarkan bendera Merah Putih di samping bendera Jepang Hinomaru dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya setelah lagu kebangsaan Jepang Kimigayo. Di samping itu Jepang makin banyak mengerahkan tenaga bangsa Indonesia untuk pertahanan.

Dibentuklah Barisan Pelopor (Suishintai), Barisan Berani Mati (Jibakutai), Barisan Pelajar (Gakutotai), Hizbullah (Kaikyo Seinen Teishintai). Barisan Pelopor diusulkan oleh Badan Penasihat Jepang Pusat (Chuo Sangi-in) di bawah Ir Soekarno dan berhasil menghimpun tenaga pemuda sekitar 60.000 orang.

Dalam Barisan Pelopor hampir seluruhnya tenaga bangsa Indonesia yang persyaratannya sebagai anggota minimum 20 tahun. Barisan Berani Mati merupakan organisasi yang diilhami oleh semangat pasukan Kamikaze Jepang, jumlahnya mencapai 50.000 orang.

Mereka dipersiapkan untuk menghadapi kalau musuh datang menyerang dan akan bertahan bersama tentara Peta yang sudah ada. Barisan Pelajar merupakan organisasi semiliter di kalangan pelajar sekolah lanjutan. Barisan-barisan tersebut dipimpin oleh kaum nasionalis sekuler, sedangkan kaum nasionalis agama dipercayakan untuk membina Hizbullah dan jumlahnya mencapai 50.000 orang.

Terasa suasana masyarakat dan jiwa bangsa Indonesia yang makin dekat ke gerbang kemerdekaan. Sementara itu terjadi pemberontakan oleh tentara Peta di Blitar (lihat pasal 2) dan kedudukan tentara Sekutu makin dekat dengan Kepulauan Jepang, dalam jangkauan pemboman pesawat udara. 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel