Nasionalisme pengertian Joseph Ernest Renan (1822-1892)

a. Pengertian nasionalisme.

Pengertian nasionalisme berkembang sesuai dengan zamannya. Karena itu, ada pendapat yang disarankan atas manusia, atau perpaduan politik - ekonomi - sosial - budaya. Joseph Ernest Renan (1822 - 1892) mengemukakan pengertian nasionalisme yang didasarkan atas manusia, dimana dikatakan bahwa bangsa itu adalah segerombolan manusia dan berkehendak untuk bersatu.

Sebagai contoh bangsa Swis yang berasal dari bermacam-macam bangsa dan kebudayaan dapat menjadi satu bangsa dan memiliki negara. Sedangkan Otto Bauer (1882 - 1939) mengemukakan bahwa bangsa adalah perasaan perangai yang timbul karena persatuan nasib.

Misalnya, nasionalisme Asia dan Afrika timbul karena persamaan nasib sebagai bangsa terjajah. Paham nasional yang didasarkan perpaduan politik, ekonomi sosial, dan budaya dikemukakan oleh Hans Kohn, bahwa nasionalisme adalah paham dengan penekanan pada kesetiaan tertinggi individu yang harus diserahkan kepada negara kebangsaan.

Negara kebangsaan adalah sumber dari semua tenaga kebudayaan kreatif dan kesejahteraan ekonomi. Sedangkan Louis Snyder mengatakan bahwa nasionalisme adalah hasil dari faktor-faktor politis, ekonomi, sosial, dan intelektual pada suatu taraf dalam sejarah. Sebagai contoh adalah timbulnya nasionalisme Indonesia.

Setelah suatu negara kebangsaan kuat, timbul nafsu untuk mengembangkan negaranya dengan jalan menguasai negara kebangsaan lain dengan alasan dicari-cari, misalnya pengembangan paham. Sehingga timbul paham ultranasionalisme yang sesungguhnya merupakan bentuk baru dari kolonialisme-imperialisme. Nasionalisme di Eropa masih berkembang menurut keadaan dan keperluan.

b. Nasionalisme di Inggris.

Inggris merupakan negara pertama yang mengalami Revolusi Industri. Dengan ditunjang oleh perusahaan-perusahaan dagang dan angkatan lautnya yang kuat, Inggris meluaskan jajahannya di dunia. Negarawan-negarawan Inggris melahirkan semboyan seperti Wright or wrong is my country, rest at home and prestige abroad, rules Britania rules the waves, yang mengandung arti kebangsaan nasionalnya sebagai bangsa besar.

Tetapi, bagi bangsa lain yang daerahnya dikuasai Inggris, nasionalisme Inggris tersebut diartikan sebagai penjajahan. Misalnya Irlandia yang asal agama, dan ekonominya berbeda dengan Inggris, walaupun dalam gugusan sama, tetap menghendaki kebebasan sendiri.

Mula-mula dengan tuntutan Home Rule (Sinn Fein), kemudian meningkat menjadi status dominion, akhirnya melepaskan diri dari Commonwealth of Nations. Sampai sekarang bangsa Irlandia terus berusaha agar Inggris melepaskan Irlandia Utara.

Inggris mulai kehilangan jajahannya dengan lepasnya Amerika Serikat sebagai negara merdeka (1783), disusul Canada (1864), Australia (1904), dan Afrika Selatan (1910) yang memperoleh status dominion. Setelah Perang Dunia II sebagian besar jajahan telah meninggalkan kebudayaan khususnya bahasa, sehingga menjadi bahasa utama di dunia.

c. Nasionalisme di Jerman.

Bangsa Jerman yang pernah dipersatukan oleh Friedrich Akbar menjadi negara besar (abad ke-18) dipecah belah menjadi negara-negara kecil dalam Deutsche Bund yang diketuai oleh Austria. Penjajahan Austria tersebut menimbulkan gerakan nasional dibawah Otto Von Bismarck.

Dengan semboyan durch Eisen und Blut, yang berarti dengan besi dan darah cita-cita tersebut dilaksanakan. Mula-mula melawan Denmark (1864), kemudian melawan Austria (1866), dan akhirnya melawan Perancis (1870 - 1871).

Di istana Versailles itulah Kaisar Wilhelm I dinobatkan sebagai Kaisar Negara Kesatuan II yang menimbulkan rasa dendam bangsa Perancis terhadap bangsa Jerman (revanche idea). Kemudian Bismarck juga menghadapi Partai Sentrum (Katolik) sebagai lawan, karena partai itu dianggap sebagai alat kekuasaan asing yaitu Austria dan Vatikan).

Terhadap partai tersebut diadakan pembatasan kegiatan. Perjuangan itu disebut oleh Bismarck sebagai Kulturkampf (1871 - 1878). Kemudian Bismarck melawan kaum sosialis yang dianggap menganut paham internasionalisme karena meniadakan paham nasionalisme Jerman. Kekaisaran Jerman hancur karena kalah dalam Perang Dunia I.

Baca juga di bawah ini :



d. Nasionalisme di Italia.

Negara Italia pada mulanya merupakan negara-negara kecil (abad ke-18). Kebesaran Kerajaan Romawi Kuno menjadi salah satu inspirasi untuk menyatukan negara-negara kecil itu dalam satu negara kesatuan.

Tokoh pemersatunya adalah Camillo Canvour perdana menteri Negara Sardinia yang mendapat tunjangan dari Garibaldi. Usaha mempersatukan Italia dilakukan dengan peperangan dan bantuan luar negeri. Tahun 1861 usaha membentuk Negara Kesatuan Italia berhasil dilakukan dengan Victor Emmanuel sebagai rajanya.

Tetapi, masih ada beberapa wilayah yang belum dipersatukan, yaitu Venesia dikuasai Austria dan Roma didukung Perancis. Cita-cita membebaskan wilayah tersebut melahirkan paham Italia Irredenta, artinya daerah Italia yang belum dibebaskan. Setelah Italia menjadi negara kuat, semangat memperbesar negara dan bangsanya timbul sehingga Italia makin menjadi negara ultranasional dan bentrok dengan bangsa lain.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel