Organisasi militer jepang di indonesia

Gerakan Seinendan (barisan pemuda) diresmikan dengan tujuan untuk melatih dan mendidik pemuda Indonesia agar mampu menjaga dan mempertahankan tanah airnya dengan kekuatan sendiri (Maret 1943). Anggotanya terdiri atas pemuda usia 14 -22 tahun.

Selain di masyarakat juga dibentuk di perusahaan-perusahaan. Para pelajar diwajibkan masuk dalam Gakutotai (barisan pelajar). Kedua organisasi tersebut secara tidak disadari oleh Jepang merupakan tempat persemaian semangat nasionalis Indonesia.

Sebagai pimpinan sejumlah tokoh seperti Sukarni dan Abdul Latif memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh Jepang tersebut demi kemajuan bangsanya sendiri. Jumlah Seinendan mencapai setengah juta.

Suatu organisasi lain yang dibentuk Jepang dikalangan pemuda Indonesia adalah Keibodan (barisan pembantu polisi). Anggotanya terdiri atas pemuda-pemuda antara 23 - 35 tahun dan berbadan sehat. Di setiap desa harus diadakan organisasi tersebut, khususnya demi menjaga keamanan, karena itu pembinaannya diserahkan kepada Kepolisian.

Di Sumatra Keibodan dikenal dengan nama Bogodan, sedangkan di Kalimantan dengan sebutan Borneo Konon Hokokudan. Jumlah seluruhnya lebih dari sejuta orang. Karena Keibodan adanya di desa-desa dan usianya rata-rata di atas pemuda, maka kaum nasionalis tidak dapat memanfaatkan untuk membinanya. Inilah yang justru dimanfaatkan oleh Jepang.

Di kalangan pemuda Islam dibentuk Hizbullah (tentara Allah) yang sejalan dengan pembentukan Masyumi. Mereka juga memperoleh pendidikan setengah militer yang kemudian pada awal kemerdekaan Indonesia merupakan salah satu kekuatan masyarakat yang kuat.

Di samping itu dibentuk Jawa Sentotai (Benteng Perjuangan Jawa) yang sejalan dengan Jawa Hokokai. Salah satu bagian dari Jawa Sentotai adalah Suisyintai (Barisan Pelopor) yang dipimpin oleh tokoh-tokoh nasionalis sekuler seperti Ir. Soekarno, Sudiro, R.P. Suroso, Oto Iskandardinata, dan dr. Buntaran Martoatmojo.

Kesempatan yang diberikan oleh Jepang kepada kaum nasionalis Indonesia adalah karena kedudukan Jepang dalam perang makin terdesak sejak tahun 1943. Di samping keadaan peperangannya yang makin terdesak, Jepang juga mulai kekurangan prajurit tempurnya.

Karena itu tenaga bangsa Indonesia akan dimanfaatkan. Dikeluarkan pengumuman tentang penerimaan menjadi Heiho (pembantu prajurit Jepang). Syarat-syaratnya ialah pemuda berusia 16 - 25 tahun, pendidikan paling rendah sekolah dasar.

Sebagai pembantu prajurit mereka ditempatkan langsung pada Angkatan Perang Jepang. Untuk Angkatan Darat dikenal dengan nama Heiho, sedangkan di Angkatan Laut dengan sebutan Kaigun. Walaupun kedudukannya disebutkan sebagai pembantu prajurit seperti menjalankan kendaraan, dan memelihara senjata, namun dalam peperangan praktiknya mereka juga berfungsi sebagai prajurit, yaitu ikut bertempur seperti yang terjadi dalam medan perang di Solomon, Irian, dan Birma.

Sedangkan untuk pertahanan tanah air Indonesia, atas usul R. Gatot Mangkupradja, Pemerintah Jepang mengeluarkan pengumuman tentang pembentukan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (Peta) bulan Oktober 1943.

Beberapa ketentuan pengumuman tersebut antara lain : Peta beranggotakan penduduk asli Indonesia yang di dalamnya terdapat militer Jepang untuk keperluan latihan, dan merupakan tentara teritorial untuk mempertahankan darah masing-masing (syu).

Peta ditempatkan langsung di bawah Gunseikan (panglima tentara) lepas dari badan mana pun dan untuk pengawasan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan oleh Jepang, maka setiap batalyon mempunyai tugas terhadap kesatuan Peta.

Di dalam setiap karesidenan terdapat sejumlah daidan (batalyon) yang terbagi atas empat cudan (kompi) dan terdiri atas empat syodan (peleton) yang terbagi lagi atas empat bundan (regu). Setiap kesatuan dipimpin oleh seorang co (komandan).

Di Jawa terdapat 66 daidan yang masing-masing terdiri kurang lebih 535 anggota Peta, sedangkan seluruhnya terdapat 36.915 anggota. Senjata yang dapat diberikan kepada Peta adalah pistol, karaben, senapan mesin ringan, senapan mesin, dan mortir lima inci.

Peluru tidak dibagikan kepada anggota, tetapi disimpan oleh perwira Jepang dalam gudang. Pakaian seragamnya berwarna hijau dengan model seragam tentara Jepang, demikian juga tanda-tanda pangkatnya. 

Tunggul batalyon berwarna ungu pada pinggirnya dengan latar berwarna hijau, garis-garis yang memberikan arti sinar berwarna merah, sedangkan yang menjadi simbol ialah bulan sabit berwarna putih.

Baca juga di bawah ini :



Karena setiap daidan merupakan kesatuan sendiri dan mendapat pengawasan ketat dari kesatuan Jepang, mudah dipahami mengapa dalam pemberontakan Peta di Blitar (April 1945) sulit mendapat dukungan dari daidan malahan syudan yang lain. Bagaimanapun keadaannya, Peta merupakan kesatuan tentara yang kemudian menjadi inti untuk membentuk TNI.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel