Penderitaan rakyat Indonesia karena Jepang

Dengan adanya pemerasan yang dilakukan Jepang terhadap rakyat, baik tenaga dan harta benda, menimbulkan kemelaratan dan kesengsaraan. Rakyat sangat menderita hidupnya. Jiwanya tertekan, karena tidak diizinkan hidup dan mengeluarkan pendapat secara bebas.

Terhadap mereka yang dianggap tidak sejalan dengan pemerintahan Jepang akan dicap sebagai mata-mata musuh dan akan berurusan dengan kenpeitai. Persediaan sandang makin menipis orang yang masih memiliki kain jendela atau pintu, atau kain sprei, ataupun kelambu, digunakan sebagai pakaian. 

Rakyat kecil yang tidak memilikinya terpaksa mempergunakan kain goni (bagor) sebagai pakaiannya itu pun terbatas hanya sebagai penutup auratnya. Dicoba untuk mempergunakan bahan dari karet, ternyata tidak praktis karena panas. 

Telah diusahakan untuk mengembangkan pertenunan sebagai pengganti kapas dipergunakan kapuk, hasilnya juga tidak memuaskan, karena tenunannya jarang dan setelah dicuci beberapa kali sudah hancur. Akibat adanya kewajiban setor padi, rakyat kekurangan makanan.

Bukan hanya beras, palawija yag dijadikan sebagai pengganti beras pun tidak mencukupi. Oleh karena itu tanah banyak dipakai untuk menanam jarak dan tenaga pria di desa makin berkurang dengan adanya romusha.

Banyak penduduk yang pindah ke kota (urbanisasi) dengan harapan memperoleh hidup lebih baik. Nyatanya malahan lebih buruk, sehingga banyak yang mati tanpa dikenal namanya akibat akibat kelaparan.

Orang yang bernasib malang demikian biasanya diangkut oleh dinas kesehatan dan dibungkus dengan tikar untuk dimakamkan di pemakaman umum sebagai orang yang tidak dikenal dan tapa dihadiri atau diketahui oleh keluarganya.

Kesehatan rakyat sudah makin jauh dari perhatian pemerintah penjajahan Jepang. Biaya perawatan makin sedikit disediakan, sedangkan obat-obatan makin sulit diperoleh. Dalam kondisi yang kurang gizi, penyakit mudah merajalela di kalangan rakyat.

Tidak jarang wabah khususnya penyakit perut berjangkit. Mungkin seorang yang sakit pada suatu malam, paginya telah meninggal, siang dimakamkan, dan pada malamnya orang yang dimakamkan sudah pula menyusul meninggal.

Di daerah Wonosobo angka kematian mencapai 53,7%, sedangkan di Purworejo 24,7%. Rumah yang merupakan keperluan pokok manusia juga tidak terjangkau oleh rakyat bilamana sudah mulai rusak, karena tidak adanya biaya untuk memperbaikinya.

Baca juga di bawah ini :



Mereka yang bergelandangan di kota menempati rumah liliput yang berlantaikan tanah, beratap kardus atau seng buruk untuk sekadar tempat berbaring dan sekadar bebas dari sengatan matahari atau curahan hujan secara langsung. Sementara itu rumah gedongan tampak suram, karena tidak terpelihara dan pagar besinya telah disetorkan untuk peperangan.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel