Bidang sosial pengaruh revolusi negara perancis terhadap negara-negara lain

Bidang sosial pengaruh revolusi negara perancis terhadap negara-negara lain.
1. Susunan masyarakat baru.

Susunan masyarakat feodal yang membagi kedudukan warga dalam masyarakat atas tiga golongan dihapuskan. Susunan baru didasarkan pada fungsinya dalam masyarakat, sehingga dikenal adanya petani, buruh, golongan pertengahan, dan kapitalis. Dalam perkembangannya, golongan pertengahan bergabung dengan kapitalis untuk menghadapi kaum buruh sebagai lawannya.

2. Pendidikan dan pengajaran menjadi hak warga negara.

Sebelumnya pendidikan merupakan monopoli kaum bangsawan kemudian pemerintah mengatur pendidikan dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, dengan cara yang disentralisasi. Pendidikan tidak lagi dikhususkan pendidikan agama atau gereja.

Revolusi Perancis mendapat tantangan (reaksi) dari golongan reaksioner berupa tujuh kali Perang Koialisi. Setelah Napoleon dibuang ke Pulau Elba, mereka mengadakan Kongres Wina (1814 - 1815). Kongres yang sifatnya reaksioner (kolot) itu bertujuan untuk mengembalikan Eropa seperti sebelum terjadi revolusi, yang berarti mengembalikan kdudukan raja yang memerintah secara absolut.

Bidang sosial pengaruh revolusi negara perancis terhadap negara-negara lain

Keputusan Kongres Wina ialah sebagai berikut :


  • Austria menjadi Ketua Deutsche Bund yang merupakan perserikatan tiga puluh delapan negara kecil dan kota merdeka.
  • Italia dipecah menjadi beberapa negara agar tidak membahayakan bagi Austria.
  • Negara Belanda menjadi negara merdeka dan agar negara ini dapat menjadi benteng yang kuat, daerah selatan (Belgia) disatukan dengan daerah utara (Belanda).
  • Inggris memperoleh daerah baru yang diperlukan untuk memperkuat kedudukannya sebagai negara laut, misalnya Helgoland, Malta, Tanjung Harapan, dan Sailan.

Kongres diadakan di kota Wina dengan tokoh reaksionernya Perdana Menteri Von Metternich dari Austria. Jalannya terganggu untuk beberapa lama akibat Napoleon kembali ke Perancis dan terjadi Perang Koalisi VII (1815). Setelah Napoleon dapat dikalahkan dan dibuang ke Sint Helena, kongres dilanjutkan kembali.

Kemudian atas prakarsa Tsar Alexander I dari Rusia dibentuk Perserikatan Suci (26 September 1815). Anggotanya terdiri atas Rusia, Austria, dan Prusia. Tujuannya ialah kerjasama antara anggota untuk menindas pemberontakan rakyat terhadap raja.

Perserikatan tersebut kurang jelas dan kurang tegas, karena itu Von Metternich membentuk Perserikatan Besar (20 November 1915) yang anggotanya terdiri atas Rusia, Austria, Prusia, dan Inggris. Tujuannya untuk menahan timbulnya kembali keturunan Napoleon, mempertahankan keputusan Kongres Wina, dan memecahkan persoalan bersama dalam satu kongres. Pada tahun 1818 Perancis diizinkan menjadi anggota.

Dalam praktiknya anggota perserikatan sulit bersatu, karena kepentingannya berbeda-beda. Seperti Inggris tidak bersedia membantu Spanyol-Portugis untuk menindas pemberontakan di Amerika Latin demi pasaran hasil industrinya.
Ketika rakyat Yunani berontak terhadap Sultan Turki mereka juga membiarkan saja. Selain pemberontakannasional tersebut, terjadi pemberontakan yang bersifat liberal dari rakyat yang telah berpaham baru melawan raja yang berpaham kolot, misalnya revolusi Juli 1830, Revolusi Februari 1848, Revolusi April 1871 di Perancis, dan revolusi-revolusi di negara lain.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel