Masa permulaan perang kotaraja banda aceh 1873 - 1883

Masa permulaan perang kotaraja banda aceh 1873 - 1883 - Belanda menyerang Kotaraja (Banda Aceh) dan menduduki daerah sekitarnya sehingga Sultan Aceh menyingkir ke pedalaman. Belanda tidak memperoleh jawaban atas tuntutannya agar Aceh tidak mengadakan hubungan dengan negara asing dan mengakui Belanda sebagai yang dipertuan.

Oleh karena itu, Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada tanggal 26 Maret 1873. Kemudian dilakukan serangan pertama dengan kekuatan tiga ribu orang di bawah pimpinan Jenderal Kohler. Perlawanan sengit dilakukan oleh Aceh yang antara lain dapat menewaskan Jenderal Kohler yang tengah mengadakan peninjauan dekat Masjid Raya Aceh.

Masa permulaan perang kotaraja banda aceh 1873 - 1883

Usaha Belanda merebut istana Sultan tidak berhasil, karena kehilangan pimpinan dan beratnya perlawanan sehingga akhirnya Belanda terpaksa menarik kembali pasukannya. Serangan kedua diadakan dengan kekuatan 7.000 orang di bawah pimpinan Letjen van Swieten pada bulan Desember 1873.

Pasukan itu terdiri atas infantri yaitu pasukan pejalan kaki, pasukan kavaleri yaitu pasukan berkuda, dan pasukan zenie yaitu pasukan pembangunan militer. Belanda menduduki daerah sebelah timur sungai Aceh dan menuntut lagi agar Sultan mengakui Belanda sebagai yang dipertuan.

Karena tidak memperoleh jawaban, mereka menyeberangi jembatan yang dibangun pasukan genie menuju istana Sultan. Pertempuran kembali berkobar sekitar masjid dan setelah istana ditinggalkan barulah Belanda dapat menduduki tempat tersebut dan memerikan nama Kotaraja sebagai nama baru untuk Banda Aceh.

Sultan Aceh yang menyingkir ke Pagar Aye wafat dan digantikan oleh Tuanku Muhammad Dawotsyah. Pemimpin peperangan dari Aceh ialah Panglima Polem. Tokoh lainnya ialah Teuku Muda Ba'et dari Aceh Raya, tetapi ia cepat menyerah kepada Belanda pada tahun 1878.

Belanda dapat ditahan di Aceh Raya, yaitu daerah ujung utara Aceh. Pasukan lain di daratkan ke pantai timur, Samalanga dapat diduduki dan rajanya menyerah. Sementara itu Belanda telah mengalami beberapa kali pergantian panglima selama fase pertama.

Kolonel Pel tewas dalam pertempuran, Mayjen Van Kerchem, Mayjen Dirmont, Jenderal Van der Heijden yang terkena tembakan di matanya dan digelari Jenderal Buta dan Pruijs van der Hoeven. Oleh karena itu sistem senjata teknik (sistek) artinya dengan senjata atau kekerasan, Perang Aceh tidak juga dapat diselesaikan maka dipergunakan sistem senjata sosial (sissos).
Sistem senjata sosial dilaksanakan dengan cara membujuk Perdana Menteri Habib Abdurrakhman Al Zahir agar mau berdamai, dengan dijanjikan uang tahunan $ 10.000 dan bertempat tinggal di negara asalnya Arab (1878). Adapun raja-raja kecil dapat cepat dikuasai dengan disodorkan perjanjian pendek.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel