Perang padri periode 1821 - 1825 dan periode 1826 -1830

Perang padri periode 1821 - 1825 dan periode 1826 -1830 - 
Periode perang padri 1821 - 1825.

Merupakan masa permulaan perang. Ciri utama periode ini ialah adanya perlawanan yang gigih dari kaum Padri terhadap kaum adat yang dibantu Belanda. Serangan Belanda atas Sulit Air dapat digagalkan oleh kaum Padri, malahan kaum Padri dapat menyerang pos Belanda di Simawang.

Belanda terpaksa mendatangkan tentaranya dan Batavia di bawah pimpinan Letkol Raaf. Dengan kekuatan 494 orang dan lima meriam, Raaf berhasil menguasai Tanah Datar dan mendirikan benteng di Batu Sangkar yang diberi nama Fort van der Capellen, sesuai dengan nama gubernur jenderal waktu itu.

Perlawanan rakyat dilakukan di bawah Tuanku Lintau. Pertahanan kaum Padri yang kuat terdapat di Marapalam, Rao dan Alahan Panjang. Untuk menghindarkan krugian yang makin besar, Belanda mengadakan perundingan di Masang, yang kemudian menghasilkan Perjanjian Padang (1824), tetapi peperangan masih juga berlanjut.

Dibawah pimpinan Kolonel Stuers diusahakan perjanjian baru di Padang pada tahun 1825 yang berisi ; kdua belah pihak tidak serang-menyerang, kekuasaan Tuanku Lintau diakui, bersama-sama mengusahakan perlindungan atas lancarnya perdagangan dan Belanda tidak akan campur tangan soal agama penduduk.

Periode perang padri 1826 - 1830.

Merupakan masa pertengahan yang bagi Belanda merupakan kesempat untuk mengambil napas sebab pada waktu itu Belanda harus menghadapi perang Jawa di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro (1825 - 1830).

Perang padri periode 1821 - 1825 dan periode 1826 -1830

Walaupun telah diadakan Perjanjian Padang, namun pertempuran di Sumatera Barat berlangsung juga. Misalnya, serangan kaum Padri dari Lima Puluh Kota atas kedudukan Belanda di Padang Tarab, dan pertempuran antara kaum adat dengan kaum Padri di Lintau.
Belanda memperkuat kedudukannya di Bukittinggi dengan membuat benteng Fort De Kock, sesuai dengan nama panglima Belanda di Indonesia. Belanda juga menembaki daerah Pariaman dari laut karena rakyat menentang monopoli garam pemerintah Belanda.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel