Perang padri periode 1831 - 1838 perang terakhir yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol

Perang padri periode 1831 - 1838 perang terakhir yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol - Merupakan masa akhir perang. Belanda bertekad menyelesaikan Perang Padri setelah berhasil mengalahkan Pangeran Diponegoro. Setelah Belanda berhasil merebut Marapalam, daerah Lintau merupakan daerah yang perlu dikuasai.

Belanda mempergunakan legioen (pasukan) Sentot Ali Basah Prawirodirjo untuk memenangkan perang. Pasukan Padri mengutamakan pertahanannya di sebelah utara dengan Bonjol sebagai pusatnya. Pimpinan dipercayakan kepada Tuanku Imam Bonjol.

Perang padri periode 1831 - 1838 perang terakhir yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol

Untuk merebut daerah itu Belanda mengadakan penyerangan dari dua jurusan. Daerah selatan yang telah dikuasai dan dari barat dengan mendaratkan pasukan baru di Tiku. Setelah bertahan beberapa lama, Bonjol jatuh ke tangan Belanda (1837), tetapi perlawanan dilanjutkan di daerah hutan secara gerilya.

Seperti juga siasat Belanda di Jawa, Belanda mengajak Tuanku Imam Bonjol berunding di Palupuh yang diakhiri dengan penangkapan. Imam Bonjol dibuang ke Cianjur, kemudian dipindahkan ke Ambon, akhirnya ke Manado dan wafat tahun 1854.

Perlawanan diteruskan kaum Padri di Rao dan Mandailing (Tapanuli Selatan) di bawah Tuanku Tambusai (Tuanku Rao), tetapi pada tahun 1838 pertahanan di daerah tersebut dapat direbut Belanda. Perlawanan di Sumatera Barat berakhir.
Perang Padri di Sumatera Barat memiliki dua arti sebagai berikut :

  • Pada periode akhir Perang Padri, kaum adat dan kaum ulama bersatu untuk melawan Belanda. Oleh karena itu, mereka tidak memperuncing perbedaan pahamnya. Adat bersendikan Syara dan sebaliknya Syara pun bersendikan adat. Persoalan yang tidak terpecahkan menurut adat akan dipecahkan menurut hukum agama dan sebaliknya. Adat di wilayah itu tetap dipegang teguh, tetapi hukum agama dapat pula ditegakkan dengan baik.
  • Belanda dapat menguasai Sumatera Barat. Produksi daerah Sumatera Barat dapat dikuasai sehingga penyelundupan ke Singapura dapat dicegah. Dari Sawahlunto Belanda kemudian menemukan tambang batu bara yang waktu itu merupakan bahan bakar utama untuk menggerakkan mesin. Untuk penambangannya dikerahkan orang-orang hukuman, sedangkan untuk ekspornya dibangun pelabuhan Teluk Bayur. Setelah Belanda dapat menguasai Sumatera bagian selatan (1822 - 1824) dan Sumatera bagian tengah (1837) perhatiannya ditujukan ke Sumatera bagian utara. Dengan persetujuan dari Inggris dalam Treaty of Sumatera (1871), dilancarkan peperangan ke Tapanuli dan Aceh.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel