Sebab terjadinya perang aceh paling lama 30 tahun

Sebab terjadinya perang aceh paling lama 30 tahun - Perang Aceh merupakan perang paling lama dan terakhir yang dilakukan Belanda dalam rangka mengadakan Pax Neerlandica.

Sebab-sebab terjadinya perang Aceh ialah sebagai berikut ini :

  • Aceh berpendapat, bahwa daerah-daerah Sumatera Timur merupakan wilayah yang diperoleh pada masa kejayaannya. Adapun pihak Belanda menganggap bahwa daerah itu merupakan wilayahnya yang diperoleh dari Sultan Siak sebagai upah membantu Sultan dalam perang saudara (Traktat Siak 1858).
  • Setelah Terusan Suez selesai tahun 1869, Aceh merupakan daerah yang penting, karena pelayaran internasional dari Eropa ke Asia melalui perairan Aceh.
  • Makin berkembangnya imperialisme modern yang berusaha memperoleh tanah jajahan untuk dijadikan sumber bahan industri dan pasaran hasil industri. Negara-negara imperialisme berlomba-lomba memperoleh tanah jajahan untuk keperluan tersebut.
  • Politik ekspansi Belanda ke luar Jawa dalam usahanya mewujudkan Pax Neerlandica tidak terhalang lagi untuk daerah Aceh. Karena dalam Treaty of Sumatera (1871) Inggris berjanji tidak akan menghalangi Belanda meluaskan daerahnya di Sumatera.
  • Sebab khusus, Aceh yang mau mempertahankan kedaulatannya menolak tuntutan Belanda untuk tidak berhubungan dengan negara asing dan mengakui Belanda sebagai yang dipertuan.

Sebab terjadinya perang aceh paling lama 30 tahun

Perang Aceh yang berlangsung tiga puluh tahun memiliki dua sifat perlawanan, sesuai dengan susunan masyarakat pemerintahan di kerajaan tersebut, yaitu bersifat nasional dan keagamaan. Perlawanan yang sifatnya nasional bertujuan mempertahankan kemerdekaan negara dari jajahan Belanda.

Pemimpin-pemimpin perlawanan ialah kaum bangsawan (Teuku) seperti Sultan Dawotsyah, Teuku Umar, dan Panglima Polem. Pada umumnya mereka mau berkompromi dengan Belanda, agar kedudukannya dalam pemerintahan dan masyarakat tidak hilang.

Mereka bersedia menandatangani Perjanjian Pendek (Korte Verklaring). Adapun yang bersifat keagamaan cenderung menolak kedatangan Belanda yang dianggap akan menyebarkan agama Kristen di wilayah Aceh.
Tokoh-tokoh perlawanan terdiri atas golongan ulama (Teungku) seperti Teungku Cik di Tiro. Golongan ini tidak mengenal kompromi atau tidak mudah menyerah kepada Belanda, mereka berpendapat bahwa perang yang dilancarkan merupakan perang jihad, artinya perang suci karena didasarkan agama.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel