Siasat-siasat Belanda untuk mengalahkan atau menangkap Pangeran Diponegoro

Siasat-siasat Belanda untuk mengalahkan atau menangkap Pangeran Diponegoro - Menghadapi perlawanan yang begitu gigih dan telah memakan waktu bertahun-tahun maka Belanda mempergunakan banyak siasat untuk mengalahkan Pangeran Diponegoro. Siasat-siasat tersebut ialah sebagai berikut ini :

Siasat-siasat Belanda untuk mengalahkan atau menangkap Pangeran Diponegoro

a. Mengangkat lagi Sultan Sepuh sebagai Sultan Yogyakarta (1826 - 1828) dengan harapan agar dengan pengaruhnya dapat meredakan perlawanan cucunya. Sultan Sepuh mengirim surat kepada cucunya agar menghentikan perlawanan tetapi tidak memperoleh tanggapan.

b. Untuk mengatasi siasat gerilya yang banyak merugikan Belanda dibentuk pasukan kontra gerilya yang anggota-anggotanya terdiri atas bangsa Indonesia yang mau berkhianat karena memperoleh bayaran yang tinggi. Tetapi usaha ini pun tidak membawa hasil.

c. Di jalankan siasat devide et impera dikalangan pengikut Pangeran Diponegoro. Mereka yang bersedia meninggalkan Pangeran Diponegoro akan diberi pekerjaan. Gelar yang pernah diperoleh dapat dipergunakan terus dan malahan ditawarkan hadiah F 50.000 bagi siapa yang dapat menyerahkan Pangeran Diponegoro dalam keadaan hidup atau mati.

Sebagian siasat itu berhasil, karena lamanya penderitaan hidup dalam mengadakan perang gerilya. Misalnya Sentot yang demikian hebatnya melawan Belanda akhirnya menyerah, tetapi tetap dapat memiliki legioen sendiri dan memperoleh gaji dari Belanda. Legioen inilah yang dipergunakan Belanda menghadapi Perang Padri.

d. Siasat hebat yang dijalankan oleh Jenderal Markus de Kock terkenal dengan Benteng Stesel. Dengan stelsel ini dibuatlah benteng dalam jumlah banyak. Dari benteng-benteng dilakukan operasi-operasi yang menyebabkan daerah gerilya, Pangeran Diponegoro dapat dipersempit.

Hubungan satu benteng dengan benteng lainnya dilakukan dengan pasukan gerak cepat walaupun memakan biaya yang tidak kecil. Tekanan-tekanan dari de Kock itulah antara lain yang menjadi sebab Pangeran Diponegoro mau menerima perundingan yang ditawarkan Belanda.

Masa akhir peperangan dilakukan oleh Pangeran Diponegoro dengan menerima tawaran perundingan yang diselenggarakan di rumah Residen Kedu di Magelang. Tetapi diperoleh kesediaan Belanda, bahwa bilamana perundingan gagal, Pangeran Diponegoro dapat kembali lagi di medan peperangan.

de Kock menanyakan kepada Pangeran Diponegoro apa yang dikehendaki, setelah memperoleh jawaban dikatakannya bahwa apa yang dikehendaki Pangeran Diponegoro itu tidak dapat dipenuhi. Akhirnya Pangeran Diponegoro dinyatakan sebagai tawanan dan dibawa ke Semarang.

Dari Semarang diangkut dengan kapal ke Batavia, kemudian dibawa ke Manado akhirnya dari Manado dipindahkan ke Ujungpandang. Di kota terakhir tersebut di dalam Benteng Rotterdam beliau wafat tanggal 8 Januari 1855.

Dengan tertawannya Pangeran Diponegoro Perang Jawa dianggap selesai. Ada pendapat yang mengatakan bahwa de Kock melakukan cara licik itu karena diperintahkan oleh Gubernur Jenderal baru bernama Johannes van den Bosh yang mendapat tugas secepatnya memulai Tanam Paksa (1830).
Perang Diponegoro yang berlangsung selama lima tahun membawa akibat atau arti yang luas sebagai berikut ini :

  • Kekuasaan dan wilayah Sultan Yogyakarta dan Sunan Solo dikurangi, sehingga krajaan-krajaan yang sudah sempit itu makin dipersempit. Daerah Banyumas, Kedu, Bagelen diambil oleh Belanda. Sunan Paku Buwono VI yang semula membantu Belanda kecewa, sehingga beliau mengasingkan diri. Hal ini dianggap sebagai tindakan perlawanan, sehingga Sunan itu ditangkap dan diasingkan ke Ambon (1830). Di kota itu beliau wafat tahun 1849, setelah Indonesia merdeka jenazahnya dipindahkan ke Imogiri.
  • Belanda memperoleh daerah Yogyakarta dan Solo yang tanahnya subur dan penduduknya padat. Di daerah inilah Tanam Paksa dilakukan dan diharapkan dapat mengisi kas Kerajaan Belanda.
  • Kerugian jiwa maupun harta yang berjumlah besar. Dari pihak Diponegoro tidak diperoleh angka-angka, karena belum dirasakan pentingnya catatan pada waktu itu. Sedangkan di pihak Belanda, kerugian jiwa sebanyak 8.000 orang Belanda, 7.000 orang Indonesia dan biaya yang dikeluarkan F 20.000.000.
  • Untuk menghindarkan rasa tidak puas dari rakyat, peraturan-peraturan yang merugikan dihapuskan, misalnya penghapusan gerbang cukai di Yogyakarta maupun Surakarta.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel