Masa Radikal (non kooperatif) tahun 1920 - 1930.

Masa Radikal (non kooperatif) tahun 1920 - 1930. Pada masa nonkooperasi partai-partai besar dan radikal tidak mau mengirimkan wakilnya dalam Volksraad, tetapi membina massa di luar badan itu untuk mencapai kemerdekaan.

1) PKI (1921).

Partai Komunis Indonesia (PKI) lahir setelah SI mengadakan disiplin partai, sehingga SI Merah di bawah Semaun dan Darsono dikeluarkan dari SI (1921). SI Merah menjelma menjadi PKI. PKI sebenarnya dari ISDV yang didirikan oleh H. Sneevliet di Semarang (1914). Kota itu dipilih karena terdapat banyak kaum buruh, khususnya buruh kereta api. Anggota ISDV kebanyakan dari Vereeniging van Spoor en Tramweg Personeel (VSTV), yaitu serikat buruh kereta api. Kaum buruh dapat memahami ajaran sosialisme, karena mereka lebih terdidik daripada kaum tani. Setelah Revolusi Sosialis Rusia tahun 1917, kaum sosialis makin kuat kedudukannya dan aksi-aksi yang dilancarkan makin hebat.

Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan kelanjutan dari ISDV. Pada tanggal 23 Mei 1920, ISDV merubah namanya menjadi Partai Komunis Hindia dan pada bulan Desember tahun yang sama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Waktu PKI lahir tahun 1920 telah merupakan partai yang beranggotakan banyak, sebagai hasil sistem sel yang dijalankan dalam tubuh Sarekat Islam Semaun dan Darsono yang melawat ke luar negeri terutama ke Rusia (1921). Setelah melihat keadaan sebenarnya, mereka berpendapat bahwa organisasi komunis diatur sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Apa yang dapat dilakukan di Rusia tidak dapat diterapkan di Indonesia karena situasi dan kondisinya berlainan. Tokoh komunis lainnya adalah Tan Malaka yang karena aktivitasnya dalam pemogokan kaum buruh ia diusir dari Indonesia oleh pemerintah Belanda (1922).

Serikat buruh bukan monopoli PKI yang berhaluan sosialis. Perkumpulan lain seperti Boedi Oetomo dan Sarekat Islam juga memiliki massa dalam perburuhan. PKI memperoleh massa kaum buruh dari Sarekat Islam juga. Dalam kongres Persatuan Pergerakan Kaum Buruh (PPKB) di Yogyakarta, Semaun dengan organisasi buruhnya keluar dari perkumpulan itu (1921). Kemudian, didirikanlah serikat buruh yang baru bernama Revolutionere Vakcentrale berkedudukan di Semarang yang memang merupakan basis kaum sosialis sebellumnya. Sedangkan Suryopranoto dan Agus Salim meneruskan organisasi PPKB dengan Yogyakarta sebagai pusatnya.

Kaum buruh mulai menjalankan aksi-aksi mogok sebagai senjata ampuh untuk menuntut kenaikan upah dan menghancurkan kaum kapitalis. Pada bulan April 1923 dilancarkan pemogokan buruh kereta api, kemudian diikuti oleh buruh percetakan dan juru mudi di Semarang. Pemogokan di Semarang meluas ke Surabaya. Pada tahun 1925 buruh di Surabaya mogok sebagai protes terhadap tekanan upah dan tidak disediakan perumahan untuknya. Akibat pemogokan tersebut, maka pemimpin-pemimpin PKI seperti Semaun dan Darsono diusir dari Indonesia dan tinggal beberapa lama di luar negeri. Pada tahun 1926 - 1927 pemimpin-pemimpin PKI yang masih tinggal di Indonesia mengadakan pemberontakan yang merupakan penyimpangan dari pola umum Kebangkitan Nasional.

2) Perhimpunan Indonesia (1924).

Pada permulaan abad ke-20 telah ada sejumlah bangsa Indonesia yang belajar di negeri Belanda. Mereka mendirikan Indische Vereeniging, artinya perkumpulan Hindia tahun 1916. Tokoh-tokoh pendirinya adalah : R. Panji Sosrokartomo saudara tua R.A. Kartini, R.M. Notosuroto putra pangeran dari Paku Alam, R. Husein Jayadiningrat keturunan Sultan Banten. Perkumpulan itu merupakan perkumpulan sosial yang memperhatikan kepentingan anggotanya di rantau. Di terbitkan Majalah Hindia Putra sebagai media komunikasi (1916). Pembuangan tokoh-tokoh Indische Party di negeri Belanda banyak mendorong dan menggiatkan perkumpulan mereka.

Pada tahun 1917 diadakan penggabungan organisasi-organisasi China dan Belanda dengan Indische Vereeniging dan lahirlah Verbond van Studenten. Sayang bahwa perkumpulan yang telah mengandung persatuan yang lebih luas itu tidak mendapat hasil yang diharapkan, karena adanya perbedaan ras yang masih tebal. Perkumpulan tersebut hanya dapat bertahan lima tahun.

Nasionalisme yang makin kuat telah mendorong mahasiswa Indonesia di negeri Belanda untuk mengubah nama Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging (1922) dan dua tokohnya antara lain dr. Sutomo yang sekolah lagi untuk memperoleh persamaan ijazah, dr. Gunawan Mangunkusumo ipar dr. Sutomo dan juga pendiri dari Boedi Oetomo, Moh. Hatta, Iwa Khusumasumantri, Moh. Nazir Datuk Pamuncak, dr. Sukiman Wiryosanjoyo, Ali Sastroamijoyo, dan Herman Kartowisastro. Majalah Hindia Putra diubah namanya menjadi Indonesia Merdeka. Beberapa lambang Indonesia yang dibuat antara lain adalah Merah Putih sebagai bendera, kepala kerbau sebagai lambang, Pangeran Diponegoro sebagai tokoh perjuangan.

Dasar perjuangan yang disusun tahun 1923 diperbarui tahun 1925 dan berisi beberapa hal sebagai berikut :


  • Hanya Indonesia yang merasa dirinya satu dapat mematahkan kekuasaan penjajahan. Tujuannya adalah pembebasan Indonesia dengan mengikutsertakan semua lapisan rakyat atas kekuasaan sendiri (selfhelp).
  • Kepentingan penjajah dan yang terjajah berlawanan, tidak mungkin diadakan kerja sama (nonkooperasi).
  • Harus ada kerja sama yang keras untuk menormalkan keadaan jiwa dan raga kehidupan bangsa Indonesia akibat penjajahan.

Dalam kegiatannya mencapai kemerdekaan, PI di bawah Moh. Hatta mengadakan suatu persetujuan dengan Semaun tokoh PKI, bertempat di negeri Belanda (1926) yang berisi hal-hal berikut :

  • Perhimpunan Indonesia harus menjelma menjadi partai rakyat kebangsaan Indonesia demi kepentingan rakyat, dan PI berkewajiban memegang pimpinan tertinggi dalam pergerakan itu.
  • PKI mengakui pimpinan PI dengan sepenuh hati dan tidak merintangi pergerakan kebangsaan Indonesia selama PI tetap menjalankan politik untuk kemerdekaan Indonesia.
  • Semua percetakan yang ada di tangan PKI akan diserahkan kepada PI dan PI akan mengadakan surat kabar kebangsaan.

Tindakan Semaun yang mengakui gerakan kebangsaan Indonesia itu dicela keras oleh Komite Eksekutif Komintern, sehingga ia harus mencabutnya secepat mungkin dan terang-terangan. Tetapi badan internasional yang komunis itu merestui diadakan pemberontakan di Jawa dan Sumatera tahun 1926 - 1927. Adanya hubungan PI dengan PKI dan terjadinya pemberontakan tahun 1926, menyebabkan pemerintah Belanda mengadakan penangkapan terhadap tokoh PI (September 1927). Tokoh-tokoh PI yang ditangkap yaitu Moh. Hatta, Ali Sastroamijoyo, dan Nazir Datuk Pamuncak. Mereka dituduh sebagai penghasut dalam menentang pemerintah. Timbullah protes-protes antara lain melalui Liga Internasional, sehingga mereka itu kemudian dibebaskan tahun 1928.

Perhimpunan Indonesia menggabungkan diri dengan League against Imperialism and for national independence yang didirikan oleh Munzenberg, seorang komunis Jerman anggota Reichstag (Parlemen) dan berpusat di Berlin. Dalam Liga Internasional tersebut tokoh-tokoh PI banyak berhubungan dengan mahasiswa Asia lainnya seperti Jawaharal Nehru dari India, Hafes Ramadhan Bey dari Mesir. Banyak tokoh PI setelah kembali ke tanah air aktif dalam gerakan kebangsaan, seperti dr. Sukiman dalam PSII, dr. Sutomo dalam Parindra, Moh. Hatta, dan Ali Sastroamijoyo dalam PNI. Tetapi sebagian tokoh-tokohnya dapat dipengaruhi Komintern (Komunis Internasional), di antaranya Setiaji, Suripno, Abdulmajid, dan Maruto Darusman yang baru kembali tahun 1948 dan ikut serta dalam pemberontakan PKI di Madiun (1948).

3) Studie Club.

Para mahasiswa di Indonesia pada mulanya tidak memiliki wadah organisasi seperti PI di negeri Belanda. Organisasi yang telah ada seperti Boedi Oetomo, Sarekat Islam, PKI tidak memuaskan baginya. Karena itulah didirikan Studie Club yang mengadakan penyelidikan dalam masyarakat dan yang berhubungan dengan teori yang diperolehnya di bangku kuliah. Persoalan-persoalan masyarakat didiskusikan dan kadang-kadang dikemukakan dalam rapat umum.

Studie Club yang terkenal adalah Indonesische Studie Club dan Algemene Studie Club Indonesische Studie Club didirikan oleh dr. Sutomo di Surabaya tahun 1924. Tokoh pendiri Boedi Oetomo dan bekas pengurus PI ini telah banyak makan asam garam perjuangan, sehingga kepemimpinannya lebih dirasakan pada kehidupan yang praktis dan riil. Banyak kegiatan yang langsung dirasakan oleh masyarakat dengan mengadakan koperasi, membentuk serikat buruh, dan sebagainya. Terhadap pemerintah Belanda dijalankan asas koperasi insidental, sehingga dr. Sutomo sebagai pemimpin pergerakan tidak pernah ditangkap oleh Belanda. Indonesische Studie Club kemudian menjadi Partai Bangsa Indonesia (PBI).

Algemene Studie Club didirikan oleh Ir. Soekarno di Bandung tahun 1926. Pemimpin yang baru lulus dari Technische Hoge School (ITB sekarang) itu masih muda, belum banyak pengalaman dalam masyarakat, tetapi memiliki semangat berapi-api. Club ini lebih banyak berdiskusi soal-soal teori dan cenderung mengadakan kegiatannya dalam bidang politik. Media yang semula bernama Suluh Indonesia kemudian diubah namanya menjadi Suluh Indonesia Muda, karena banyak generasi muda yang menjadi anggota Algemene Studie Club Sikap keras tercermin dari asas nonkooperasi yang mereka jalankan. Partai yang lahir dari club ini bernama Partai Nasional Indonesia (PNI). Pemerintah Belanda menganggap partai ini berbahaya, lebih-lebih setelah terjadi pemberontakan PKI tahun 1926. Sehingga tokoh-tokoh PNI seperti Ir. Soekarno lebih lama meringkuk dalam penjara atau pembuangan daripada sebagai orang bebas.

4) PNI (1927)

Pemimpin-pemimpin Algemene Studie Club di Bandung mendirikan perkumpulan baru yang diberi nama Perserikatan Nasional Indonesia (1927) kemudian berganti nama menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI). Beberapa tokoh pendirinya adalah Ir. Soekarno, Mr. Iskak Cokroadisuryo, Mr. Sartono, Mr. Ali Sastroamidjojo, dr. Cipto. Sebagai ketua dipilih Ir. Soekarno. Pada waktu singkat, berkembang menjadi partai yang berpengaruh dan berperanan besar.

Beberapa faktor yang menyebabkan PNI demikian cepat berkembang :

  • Kesadaran nasional makin tinggi di kalangan bangsa Indonesia setelah Kebangkitan Nasional berumur dua puluh tahun.
  • Makin banyak kaum cerdik yang berpendidikan tinggi terjun dalam lapangan politik, sehingga kepemimpinan mereka dapat diandalkan. Di antaranya tokoh-tokoh dari Algemene Studie Club dan Perhimpunan Indonesia.
  • Dilarang PKI sebagai partai (1827) setelah terjadi pemberontakan yang dapat ditindas, menyebabkan sebagian dari massa PKI kehilangan wadah dalam perjuangan dan memerlukan wadah baru seperti PNI.

Strategi yang diletakkan dan menjadi dasar perjuangan PNI sifatnya tegas, yaitu antikapitalisme, antiimperialisme, nonkooperasi, dan mendasarkan kekuatannya pada kaum Marhaen. Kaum Marhaen adalah golongan masyarakat di Indonesia yang hidupnya menderita akibat penjajahan, terdiri atas kaum buruh yang gajinya sedikit, petani yang penghasilannya rendah, dan pedagang yang keuntungannya kecil. Sedangkan tujuannya ialah mencapai kemerdekaan nasional. Kemerdekaan merupakan jembatan emas menuju masyarakat yang adil dan makmur.

Pandangan-pandangan politik yang tajam dan dikaitkan dengan situasi internasional, sehingga lingkup perjuangannya lebih luas. Belanda selalu mempropagandakan, bahwa bahwa kedatangannya di Indonesia adalah karena mission sacre, artinya tugas suci, untuk meninggikan peradaban bangsa Indonesia. Hal itu dibantah oleh PNI dan dikatakan bahwa kedatangan Belanda adalah karena soal kerezekian, yaitu mau mengeruk keuntungan bumi Indonesia bagi kemakmurannya. Dengan demikian maka kepentingan bangsa Belanda dengan bangsa Indonesia bertentangan. Politik Asosiasi, artinya politik kerja sama, tidak mungkin dilakukan. Kepentingan kaum imperialis adalah mengokohkan penjajahannya, sedangkan kepentingan bangsa Indonesia adalah merdeka. Politik yang dijalankan adalah nonkooperasi, artinya tidak kerja sama. Dari Belanda tidak mungkin dapat diharapkan untuk mencapai kemerdekaan, sehingga bangsa Indonesia harus menjalankan selfhelp artinya menolong diri sendiri. Bangsa Indonesia juga memiliki self reliance, artinya percaya pada diri sendiri, dan self determination artinya menentukan sendiri, menjadi bangsa merdeka. Dalam menghadapi daerah jajahan bangsa Belanda tidak berdiri sendiri mereka bekerja sama dengan sesama imperialis. Karena itu perlu digalang persatuan dan kerja sama antara bangsa Asia yang disebut Pan-Asiatisme. Kaum Marhaen yang mempergunakan asas atau dasar sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi harus diikutsertakan, sehingga dapat diperoleh massa yang cakup untuk mengadakan aksi. Untuk mencapai cita-cita nasional, rakyat bersama pemimpinnya harus berani berkorban tanpa pamrih.

Kegiatan PNI mencakup bidang yang luas, yaitu berikut ini :

  • Dalam bidang politik diusahakan untuk memperkuat rasa kebangsaan dan rasa kesatuan, memperkokoh hubungan dengan bangsa Asia lain, menghilangkan segala rintangan bagi kemerdekaan individu dan politik.
  • Dalam bidang ekonomi diusahakan untuk meningkatkan penghidupan  yang merdeka seperti perdagangan nasional, mendirikan bank, dan mendirikan koperasi.
  • Dalam bidang sosial diusahakan memajukan pengajaran nasional, memperbaiki kedudukan kaum wanita dengan menentang poligami dan kawin di bawah umur, mengurangi pengangguran, mendorong transmigrasi, menghilangkan pengisapan madat dan minum alkohol.

Program PNI tersebut belum dapat seluruhnya diwujudkan karena Belanda menganggap PNI sebagai partai baru yang berbahaya, sehingga perlu ditekan dan dibubarkan. Beberapa hal yang dapat dicapai pada waktu singkat adalah menyelenggarakan kursus-kursus untuk membentuk kader, membentuk Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia yang merupakan federasi partai waktu itu dan membentuk serikat-serikat buruh dan koperasi. Menjadikan Merah Putih sebagai warna kebangsaan, benteng sebagai simbol kekuatan, peci sebagai pakaian nasional yang diperolehnya dari PI dan menjadikan lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan.

Ir. Soekarno sebagai pemimpin partai terkenal sebagai tokoh cerdas dan pemikiran-pemikirannya banyak dimuat dalam surat kabar atau majalah yang sekarang telah dihimpun dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid I. Di samping itu ia terkenal sebagai seorang agitator artinya ahli pidato dengan semangat yang berkobar-kobar. Sehingga cepat memperoleh massa yang dapat digerakkan mencapai kemerdekaan Indonesia dengan selfhelp.

Pada tanggal 29 Desember 1929 diadakan penangkapan terhadap tokoh-tokoh PNI, yaitu Ir. Soekarno, Maskun, Supriadinata, dan Gatot Mangkupraja. Walaupun setelah diadakan penggeledahan tidak terdapat bukti tentang adanya rencana pemberontakan, tetapi mereka dihadapkan juga ke Pengadilan Bandung pada bulan Agustus 1930 dengan tuduhan melanggar pasal 153 bis karena dianggap menghasut yang dapat mengganggu ketenteraman umum. Pasal-pasal demikian dinamai artikel karet oleh kaum pergerakan, karena dapat diartikan bermacam-macam sehingga orang dapat mudah dijerat.

Mereka dibela oleh Mr. Sartono dan kawan-kawannya. Ir. Soekarno memberikan pembelaan atas tuduhan yang diberikan. Pembelaan tersebut setelah dibukukan diberi judul Indonesia Menggugat. Pengadilan kolonial yang memang merupakan alat untuk melumpuhkan PNI memutuskan hukuman kepada keempat tokohnya yang diadili. Ir. Soekarno empat tahun, Maskun dua tahun, Supriadinata satu tahun delapan bulan, dan Gatot Mangkupraja satu tahun tiga bulan. Keputusan itu disahkan oleh Raaf van Justitie tahun 1931 dan diartikan juga bahwa PNI merupakan organisasi yang dilarang. Keputusan yang tidak adil itu mendapat tantangan dari bangsa Belanda sendiri, sehingga diadakan pengurangan atas waktu hukuman yang telah diputuskan.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel