Langsung ke konten utama

Jenderal Chiang Kai-Shek tokoh nasional china

Jenderal Chiang Kai-Shek tokoh nasional china - Chiang Kai Shek (juga dikenal sebagai Jiang Jie Shi) merupakan seorang tokoh nasionalis dari Partai Nasionalis Cina Kuomintang. Ia memimpin partai tersebut setelah kematian tokoh revolusioner Cina yang sangat terkenal, yaitu Sun Yat Sen. Selanjutnya, ia menjadi Presiden Republic of China (yang sekarang disebut People's Republic of China) sampai tahun 1949. 

Setelah kekalahan melawan partai komunis, ia bersama pengikutnya kemudian hijrah ke pulau Formosa dan mendirikan kembali negara Republic of China di sana dan kemudian menjadi presiden di negara tersebut sampai ajal menjemputnya. Latar Belakang Idiosinkratik Chiang Kai-Shek Chiang Kai-Shek adalah seorang pemimpin Partai Nasionalis Cina Guomindang atau disebut juga Kuomintang. 

 Jenderal Chiang Kai-Shek tokoh nasional china

Ia juga adalah seorang pemimpin militer dari Republik Cina. Ia dikenal juga sebagai generalissimo. Chiang Kai Shek adalah seorang pengikut Dr. Sun Yat Sen yang merupakan tokoh Partai Nasionalis Cina yang paling terkenal. Chiang Kai-Shek beralih menggantikan posisi Sun Yat Sen sebagai pemimpin partai setelah Sun Yat Sen meninggal dunia. 

Sebelumnya, Sun Yat Sen yang menggagas Revolusi tahun 1911 digantikan posisinya sebagai Presiden Republik Cina oleh Yuan Shih Kai dan hijrah ke Cina Selatan hingga ia meninggal dan posisinya sebagai pemimpin Partai Nasionalis Cina digantikan oleh Chiang Kai Shek. 

Ia kemudian melanjutkan perjuangan Republik Cina dalam perang melawan Jepang dan juga Partai Komunis Cina dibawah pimpinan Mao Zedong. Selain itu, ia juga berperang melawan para warlord atau para jenderal yang saling berusaha memperoleh pengaruh pasca kematian Yuan Shih Kai. 

Ia berhasil meraih cita-cita untuk menyatukan seluruh daratan Cina karena kepiawaiannya sebagai seorang jenderal besar. Chiang Kai Shek adalah seorang yang berhaluan nasionalis yang banyak dipengaruhi oleh Sun Yat Sen. Namun, berbeda dengan Sun yang seorang dokter, Chiang adalah seseorang yang berasal dari kalangan militer yang sudah ditempa pendidikan tersebut hampir sepanjang hidupnya. 

Pendidikan militer yang keras membentuk wataknya menjadi keras. Layaknya sebagai seorang jenderal, ia merupakan pemimpin yang disegani sehingga berhasil menyatukan hampir seluruh Cina dibawah pemerintahannya. Ia merupakan orang pertama yang berhasil melakukan hal itu pasca revolusi yang mengubah Cina menjadi negara Republik. 

Namun, ia juga adalah orang yang menyebabkan daratan Cina dikuasai oleh komunis yang akhirnya memaksanya bersama para pengikutnya dalam Partai Kuomintang untuk hijrah ke pulau Formosa yang sekarang dikenal dengan Taiwan. Chiang Kai Shek adalah seorang diktator yang memerintah negaranya secara otoriter. 

Akan tetapi, kecuali masalah sensitif seperti komunisme dan kaum separatis Taiwan, ia tidak benar-benar otoriter, dunia pers di Taiwan sangat bebas, boleh mengecam negara dan pemerintah daerah, masyarakat Taiwan memiliki kebebasan ekonomi, asalkan dia tidak terlibat dalam politik, sebagai individu atau keluarga bisa hidup dengan bahagia. 

Inilah yang membedakan Chiang Kai Shek dengan pemimpin – pemimpin diktator lainnya, termasuk musuhnya, Mao Zedong. Sifat kerasnya muncul karena kebenciannya terhadap siapapun yang menjadi musuhnya, dan jika ada orang ataupun pihak – pihak yang terlihat cenderung mendukung musuhnya, ia akan bertindak secara otoriter karena sifat kerasnya tadi.

Kediktatorannya muncul lebih banyak disebabkan oleh latar belakang dia sebagai jenderal yang sudah ditempa pendidikan secara militer yang keras sehingga ia dikenal sebagai generalissimo. Hal tersebut wajar dialami oleh seorang yang berlatarbelakang militer. Dalam hal ia memberikan kebebasan kepada siapapun untuk mengkritik negara, hal tersebut lebih dikarenakan posisinya sebagai seorang nasionalis yang ingin menjadikan negaranya lebih baik lagi dan juga karena ia menganut tiga prinsip Sun Yat Sen, yaitu Nasionalis, Sosialis dan Demokrasi. 

Ia menerapkan demokrasi di negaranya yang menjanjikan kebebasan kepada siapapun untuk mengkritik pemerintah, kecuali dalam urusan komunis dan separatis. Hal ini menjadikannya seorang diktator yang otoriter, tetapi lebih demokratis. Pemikiran Nasionalis Yang Disumbangkan Pemikiran - pemikiran dari Chiang Kai Shek lebih dipengaruhi oleh pemikiran Sun Yat Sen. Salah satunya adalah tiga prinsip dari Sun Yat Sen, yaitu Nasionalis, Sosialis, Demokrasi. 

Boleh dibilang ia merupakan pengikut setia dari Sun Yat Sen dan sebagai penerus cita - cita Sun Yat Sen untuk mempersatukan seluruh bangsa Tionghoa yang saat itu dikuasai oleh pemerintahan Dinasti Qing yang berbangsa Manchu. Namun, bedanya ia memiliki watak yang lebih keras sehingga ia cenderung keras kepala dalam menghadapi setiap permasalahan yang melanda negerinya. 

Ia sangat jarang mendengar para penasihatnya sehingga ia tidak bisa menyelesaikan masalah dalam negerinya. Semenjak Jepang melancarkan peperangan, keadaannya semakin terdesak dan ia disarankan untuk bersatu dengan partai komunis dalam menghadapai Jepang. Akan tetapi, ia tidak langsung menurutinya karena kebenciannya yang sangat mendalam terhadap komunis.

Setelah keadaan yang semakin mendesak, akhirnya ia memutuskan untuk bersatu dengan partai komunis dan bersama – sama melawan Jepang. Setelah rentetan peperangan melawan Jepang dan peperangan lain pada Perang Dunia II, pemerintahan nasionalis yang dipimpinnya kembali menghadapi pertikaian dengan Partai Komunis Cina pimpinan Mao Zedong. 

Karena kekuatan negara yang masih lemah dan belum kembali pulih pasca Perang Dunia II, pemerintahan nasionalis semakin terdesak oleh pemberontakan yang dilakukan oleh kaum komunis. Setelah posisinya yang semakin terdesak oleh kaum komunis, ia terpaksa hengkang bersama pengikutnya ke pulau Formosa (Taiwan). 

Di sana, ia melanjutkan perjuangan nasionalis dan mendirikan Republic of China yang baru dan menjadikan ia sebagai presiden. Kediktatoran Chiang Kai Shek terlihat ketika ia melalui tentaranya menindas penduduk Taiwan dengan brutal karena memprotes pemerintahan nasionalis partainya yang sangat korup. 

Pemerintah nasionalis menyadari kesalahan mereka sehingga mereka terpaksa meninggalkan daratan China, yakni mengabaikan masalah sosial – ekonomi. Karena hal tersebut, pemerintah nasionalis di bawah pimpinan Chiang kemudian melakukan perubahan – perubahan dalam bidang tersebut untuk menyejahterakan rakyat Taiwan. 

Kediktatoran Chiang Kai Shek tampaknya semakin memudar setelah ia memerintah Republik Cina di Taiwan. Hal tersebut karena ia mengesampingkan egonya dalam memerintah dan lebih mementingkan kepentingan rakyatnya berdasarkan pemikiran nasionalisme Sun Yat Sen. Chiang Kai Shek berubah menjadi orang yang lebih demokratis setelah itu. 

Ia lebih mengutamakan kemajuan negara yang dipimpinnya dan mengesampingkan wataknya yang keras kepala. Kemajuan ekonomi adalah prioritasnya yang buktinya pada tahun 1970an, Taiwan merupakan negara Asia yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang paling pesat setelah Jepang , dan bersama Korea Selatan, Singapura dan Hong Kong dikenal sebagai Four Asian Tigers. 

Pengaruh Pemikiran Pemikiran nasionalis Chiang Kai Shek telah mempengaruhi banyak orang di Taiwan, terutama sekali orang – orang terdekatnya, yaitu anaknya sendiri, Chiang Ching Kuo yang kemudian menggantikan dirinya menjadi Presiden Republic of China selanjutnya. Sang anak meneruskan perjuangan ayahnya dalam membangun negaranya. 

Gaya kepemimpinan anaknya lebih demokratis dari ayahnya yang dahulu terkenal sebagai diktator, namun pemikirannya tetap meneruskan pemikiran nasionalis dari ayahnya. Dapat dibilang bahwa sang ayah menurunkan semangat pemikiran nasionalis dari Sun Yat Sen kepada sang anak dan kepemimpinan Partai Nasionalis Kuomintang dilanjutkan oleh sang anak. 

Chiang Kai Shek disegani oleh rakyatnya karena berhasil memajukan kesejahteraan masyarakat Taiwan dan kematiannya membuat seluruh rakyat Taiwan berduka. Untuk mengenang jasanya, dibangun Chiang Kai Shek Memorial Hall di Taipei dan juga dibuatkan lagu Chiang Kai Shek Memorial Song. Pemikiran Chiang Kai Shek mewarisi pemikiran nasionalis Sun Yat Sen dan bertujuan meraih cita - cita nasionalisme yang ingin diraih oleh Sun Yat Sen. 

Pemimpin - pemimpin Taiwan selanjutnya banyak berkontribusi untuk menegakkan prinsip - prinsip nasionalisme yang belum tercapai selama masa pemerintahan Chiang Kai Shek, seperti demokrasi yang masih belum berjalan dengan maksimal yang kemudian ditegakkan pada pemerintahan - pemerintahan selanjutnya. 

Chiang Kai Shek adalah seorang nasionalis sejati dan dapat dikatakan sebagai seorang pahlawan Republic of China. Jasa - jasanya telah menghindarkan Cina dari perpecahan. Jatuhnya Cina ke tangan komunis tidak serta merta membuatnya tidak dihormati karena ia masih memiliki pengikut yang setia yang akhirnya berhasil membangun Taiwan menjadi negara yang maju, bahkan Republic of China sudah maju terlebih dahulu dibanding People's Republic of China yang dipimpin Mao Zedong. 

Chiang Kai Shek telah membuat kemajuan yang pesat bagi masyarakat Taiwan dengan prinsip nasionalismenya. Pengaruh pemikirannya sangat kuat dan para pengikutnya selanjutnya meneruskan perjuangan Chiang, salah satunya adalah memperjuangkan pengakuan Republic of China sebagai negara berdaulat oleh dunia internasional.


Postingan populer dari blog ini

Arti makna Nefo dan Oldefo

Federasi Malaysia nantinya beranggotakan semua bekas jajahan Inggris di wilayah Asia Tenggara. Usaha pembentukan Federasi Malaysia juga mendapat dukungan dari pemerintah Inggris, khususnya dan negara-negara Barat pada umumnya. Pemerintah Indonesia yang ketika itu dipimpin oleh Presiden Soekarno melihat pembentukan Federasi Malaysia menyatakan bahwa itu merupakan bentuk kolonialisme baru.
Apalagi, pada saat itu berkembang wacana The New Emerging Forces (Nefo) melawan The Old Established Forces (Oldefo). Nefo adalah lambang kelompok negara-negara yang baru merdeka atau yang menentang imperialisme dan kolonialisme, sosialisme, serta komunis.

Pengertian Nefo, Oldefo, Ganefo

Oldefo adalah lambang negara-negara yang telah mapan dan melaksanakan imperialisme dan kolonialisme/kapitalisme dan negara sedang berkembang yang cenderung pada imperialisme/kolonialisme. Dengan demikian apapun bentuknya imperialisme dan kolonialisme harus dihapuskan.
Pada umumnya hubungan antara negara-negara yang bar…

Materi kandungan Q.S. Yunus ayat 101 dan Q.S. Al-Baqarah ayat 164

a. Kandungan Q.S. Yunus ayat 101
1. Allah SWT menyerukan kepada Rasulullah SAW, orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan agar mereka mau memperhatikan dan berpikir tentang jagad raya ini.


2. Di jagad raya Allah SWT telah menciptakan bintang, bulan, matahari, bumi, langit, asteroid, planet, dan lain-lain.
3. Allah SWT menciptakan matahari dengan sinarnya yang terang hanyalah satu dari sekitar 100 miliar bintang yang terdapat dalam galaksi Bimasakti.
4. Allah SWT telah menciptakan planet, komet, asteroid, meteor, dan satelit yang mengorbit, sebagai benda-benda langit yang senantiasa mengelilingi matahari.
5. Dialah Allah SWT yang menciptakan bumi ini untuk seluruh makhluk yang hidup dan berkembang biak di dalamnya yang memiliki jarak 149.600.000 km antara bumi dan matahari.
b. Kandungan Q.S. Al-Baqarah ayat 164
1. Langit terdiri dari berbagai jenis benda-benda yang berkelompok. Setiap kelompok memiliki tatanannya sendiri secara beraturan dan setiap satuan da…

Beberapa pendapat peristiwa G 30 S/PKI

Menurut Cleren W. Hall dalam Readers Digest edisi November 1996 peristiwa G 30 S/PKI sebagai manuver PKI dan Sukarno untuk melanjutkan skenario politik yang telah mereka susun selama Demokrasi Terpimpin . Versi ini menyimpulkan bahwa Sukarno dan PKI dalang dibalik peristiwa tersebut.
Menurut Benedick Richard Ogusman Anderson dan Ruth Mc. Key yang dikenal sebagai Curnell Paper. Sebuah artikel yang menyimpulkan peristiwa G 30S/PKI adalah peritiwa listen AD dan PKI bukanlah dalangnya.

Sedangkan Peter Dele Scott, menulis dalam Pasific Affairs (1984), bahwa CIA adalah dalang dibelakang G 30 S/PKI. Sementara Kathy Kadene, wartawati kantor berita State New Servis AS, menyatakan bahwa CIA telah memberikan 5000 nama tokoh PKI kepada Angkatan Darat 1965 yang kemudian dibunuh akibat kegagalan G 30 S/PKI.
Kemudian menurut buku putih yang diterbitkan oleh Sekneg mengungkap keterkaitan Presiden Soekarno tidak dinilai sebagai aktor pasif. Presiden Soekarno hanya memberi peluang PKI untuk memenuhi a…