Menilai karya seni rupa dua dimensi

Menilai karya seni rupa dua dimensi - Pada prinsipnya, seni rupa dapat digolongkan menjadi dua, yaitu seni rupa dua dimensi dan seni rupa tiga dimensi. Karya seni rupa dua dimensi hanya dapat dilihat dari satu arah, memiliki ukuran luas (panjang dan lebar), contoh lukisan, peta, mozaik, dan anyaman. Karya seni rupa tiga dimensi ialah karya yang dapat dilihat dari berbagai arah, memiliki volume (ruang) contoh patung, bangunan, dan mobil.

Menurut fungsinya, seni rupa dapat digolongkan menjadi dua, yaitu seni rupa murni (fine art) yang berfungsi sebagai penghias dan seni pakai (applied art) yang berfungsi sebagai pendukung benda pakai atau seni terapan.

Seni kriya atau seni kerajinan dapat dikatakan sebagai seni terapan pada prinsipnya merupakan seni hias dan seni pakai. Proses penciptaan seni kriya memerlukan ketrampilan dan kecekatan. Pada umumnya seni kriya cenderung digunakan sebagai barang produksi atau seni industri.

Menilai karya seni rupa dua dimensi

Proses pemahaman apresiasi sangat berpengaruh dalam menentukan niilai suatu karya seni terapan. Oleh karena itu, langkah yang perlu diperhatikan ialah pengamatan, penghayatan, dan pengalaman memahami karya yang bersangkutan atau sejenisnya sehingga muncul sikap simpati pada karya yang dinilai.

Apresiasi terhadap karya seni dapat dikatakan benar dan memiliki tingkatan cukup tinggi apabila telah mendekati kebenaran, sesuai nilai yang terkandung dalam karya seni yang diamati. Dalam proses apresiasi terjadi empat tahapan kegiatan, antara lain sebagai berikut ini :

1. Kegiatan mengamati.

Reaksi terhadap rangsangan yang datang dari objek dengan cara observasi, meneliti menganalisa, dan menilai sehingga terjadi respon tentang objek karya yang diamati, ketepatan tanggapan tergantung sikat kritis pengamat.

2. Kegiatan menghayati.

Proses selektif terhadap objek karya dan menyesuaian bobot yang terkandung dalam karya dengan hasil olahrasa yang dilakukan, namun kadang apresiator langsung menerima karya seni yang bersangkutan secara keseluruhan tanpa mengkritik, sifat tersebut dinamakan empati.

3. Kegiatan evaluasi.

Evaluasi dapat terjadi apabila apresiator dapat mengukur nilai seni yang dievaluasi dengan memberi kritik membangun pada karya seni yang diamati secara objektif.

Baca juga selanjutnya



4. Kegiatan mengapresiasi.

Perasaan bergetar, hanyut dalam dunia maya yang terkandung dalam sebuah karya seni seakan-akan merasakan getar yang sama dengan pencipta karya seni yang bersangkutan. Apresiator tersebut disebut simpati pada karya seni yang diamati, orang tersebut seakan-akan berada antara sadar dan tidak sadar terhadap objek yang dihayati, kesadaran yang diiringi dengan penalaran rasio yang matang untuk menilai dan memberi kritik serta saran, namun tidak mengurangi rasa simpati, justru menambah nilai. Orang semacam ini telah memiliki tingkat apresiasi yang benar terhadap karya seni.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel