Merancang atau desain sebagai panduan karya seni rupa terapan

Menurut tujuannya, karya seni rupa dibedakan menjadi dua macam, yaitu karya seni rupa murni dan seni rupa terapan :

1. Definisi Seni Rupa Terapan.

Karya seni rupa terapan ialah karya seni rupa yang dirancang untuk tujuan fungsional, yaitu untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis (kejiwan). Bentuknya berupa benda-benda pakai atau benda guna untuk kebutuhan manusia. Contoh : alat perkakas rumah tangga (meja, kursi, bufet, almari, tempat tidur) benda-benda gerabah, keramik, dan mainan anak. Seni terapan dibedakan menjadi dua bagian yaitu seni karya (kerajinan) dan desain (rancangan).

Agar sebuah karya seni dapat berhasil baik, sebelum dibuat, diperlukan rancangan atau desain lebih dahulu. Di sini, kita akan membuat rancangan (merancang) karya seni rupa terapan dengan memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat. Apa yang dimaksud karya seni rupa terapan daerah setempat itu ? Perhatikan penjelasannya berikut ini!

Merancang atau desain sebagai panduan karya seni rupa terapan

2. Karya seni rupa terapan daerah setempat.

Karya seni rupa terapan daerah setempat juga disebut seni terapan tradisional. Karya seni rupa terapan terciptakan dengan tujuan untuk melestarikan tradisi seni rupa suatu daerah setempat. Digarap oleh masyarakat tertentu sebagai ciri khas suatu daerah yang terikat oleh nilai-nilai filosofi dan nilai-nilai tradisi.

Seni terapan daerah dikerjakan secara tradisi, dengan keterampilan tangan yang sederhana. Bahan atau media yang digunakan umumnya diambil dari alam yang ada di daerah setempat. Contoh bahan : bambu, kayu, daun-daunan, kulit binatang, rumput-rumputan, batu cadas, tanah liat, batu endesit, akar pohon jati, rumah kerang, tulan dan tanduk.

Seni terapan daerah atau seni pakai di samping untuk kegunakan praktis juga memperhatikan nilai keindahan (estetis).

3. Pembuatan karya seni rupa terapan daerah setempat.

Pembuatan seni terapan atau karya seni pakai berupa seni kerajinan (seni kriya) harus memenuhi syarat-syarat, yaitu :

  • Bentuk dibuat bagus, indah, menarik.
  • Memiliki kegunakaan praktis (nilai guna).
  • Bentuknya selarah dengan kegunaannya.
  • Bila dijual berharga murah.
  • Memenuhi selera keinginan masyarakat.
  • Komposisi dan proporsi benda harmonis atau serasi.

4. Ragam karya seni terapan berdasarkan matra atau dimensi.

Karya seni terapan dapat meliputi karya seni dua dimensi dan tiga dimensi. Karya seni ini mempunyai fungsi sosial atau fungsi pakai. Benda seni terapan mempunyai nilai guna di samping nilai seni.

a. Karya seni terapan dua dimensi (dwimatra).

  • Seni batik hampir di seluruh Nusantara mempunyai kesaman dalam pembuatannya, baik teknik, bahan, media, maupun motif ragam hias dan warna dominan. Bahan terdiri dari kain, malam, dan pewarna.
  • Seni karya (kerajinan) dua dimensi berupa anyaman bambu, gambar hiasan atau ornamen, gambar aplikasi bulu, tikar, dan permadani. Tenun kain songket dengan berbagai motif ragam hias etnik, relief, atau seni ukir, yaitu gambar yang berbentuk tinggi rendah dan wayang kulit.

b. Karya seni terapan tiga dimensi (trimatra).

  • Seni kriya (kerajinan) tiga dimensi seperti cinderamata (suvenir).
  • Funitur berupa meja dan kursi dengan berbagai desain tradisional dan modern.
  • Perabotan dapur dari terakota, logam, dan keramik.
  • Seni keramik tiga dimensi, seperti gerabah, guci, kendi, vas bunga, dan perhiasan.

5. Gagasan karya seni rupa terapan.

Merancang sebuah karya seni rupa tumbuh dari adanya gagasan atau ide, dan imajinasi. Gagasan atau ide yang baik dan diwujudkan atau dibabarkan dalam wujud rupa akan menjadi sebuah karya yang ideal. Pada penciptaan karya seni rupa terapan dibedakan antara seni kriya dan desain yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri :

a. Seni kriya (seni kerajinan).

Seni kriya (seni kerajinan) adalah suatu usaha membuat barang-barang hasil pekerjaan tangan, atau dapat pula berarti pekerjaan tangan. Benda seni kriya biasanya dibuat untuk dipergunakan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sekaligus melestarikan tradisi kesenirupaan suatu daerah.

Hal ini artinya seni rupa dibuat oleh masyarakat tertentu sebagai ciri khas daerahnya. Gagasan seni terapan daerah umumnya terikat aturan-aturan tertentu berupa adat dan tradisi daerah setempat, misalnya membuat terapan untuk :

  • Keperluan religius, untuk upacara keagamaan (di Bali), untuk sesaji laut, dan bersih desa.
  • Membuat ketupat (makanan dari beras dibungkus janur segi empat) untuk menyambut Idul Fitri.
  • Membuat kerajinan merangkai janur sebagai hiasan atau dekorasi pengantin adat.
  • Membuat seni batik atau kain tenun secara tradisi turun-temurun dengan pola, teknik, dan bahan yang sama.
  • Membuat pakaian adat pengantin dan pakaian daerah setempat.
  • Membuat hiasan dan perabotan rumah tangga untuk rumah adat.

b. Desain.

Desain merupakan perencanaan sebelum proses berkarya seni rupa. Desain seni terapan daerah diciptakan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan produk seni. Prosedur pembuatan desain cenderung rumit karena selain sebagai sarana berekspresi bagi desainer juga sebagai upaya menjembatani antara harapan pemakai desain (konsumen) kenyataan yang ada (keadaan pasar).

1. Proses pembuatan desain meliputi 4 (empat) tahap, yaitu :

  • Studi kelayakan.
  • Studi awal.
  • Studi detail (rinci).
  • Pembuatan karya jadi.

2. Dalam mencipta bentuk desain harus berpegang teguh pada prinsip-prinsip organisasi unsur seni (prinsip-prinsip desain) yang meliputi :
  • Keseimbangan atau kesetimbangan (balance).
  • Kesatuan (unity).
  • Irama (rythm, ritme).
  • Kontras (berbeda jauh).
  • Selaras atau serasi (harmoni).

3. Desain karya seni terapan tradisi daerah pada umumnya tidak diketahui siapa penciptanya. Hal ini karena sudah ada dan dilanjutkan dari generasi ke generasi berikutnya yang diakui sebagai milik masyarakat daerah setempat atau milik umum.

Contohnya antara lain macam-macam motif ragam hias daerah yang beraneka ragam, seperti motif untuk walang, geometris, garis potong (motif tangga, kawung, meander atau swastika, fauna, flora atau bunga, tubuh manusia, alam atau matahari, bumi, bulan, binatang, api, air, awan, anyaman, dan motif religius.

c. Gagasan atau ide berkarya seni terapan.

Gagasan atau ide berkarya seni terapan dapat berupa :

  • Ide atau gagasan awal, yaitu sebelum tahu atau melihat media-media dicipta bentuknya lebih dahulu. Media (bahan atau alat) menyesuaikan dari ide.
  • Ide atau gagasan setelah melihat atau ada media lebih dahulu, ide menyesuaikan.

Contoh : ada janur (daun kelapa muda) baru digagas untuk dibuat : ketupat, lepet, hiasan dinding, penjor, atau bentuk-bentuk lain. Ada bahan dari akar bambu, akar pohon jati, balok kayu limbah, dan bekas limbah atau barang bekas. Setelah melihat, baru diangan-angan untuk apa baiknya, lalu diciptakan bentuk dan dibuat jadi. Gagasan seperti ini diperlukan kreatifitas yang kuat karena ide atau gagasan menyesuaikan keadaan bahan dan dapat menghasilkan benda seni yang disenangi dan bermanfaat bagi orang banyak.

6. Teknik karya seni terapan.

Teknik merupakan cara yang digunakan dalam proses membuat karya seni rupa. Teknik pembuatan pada karya seni rupa terapan tradisional (daerah setempat) umumnya dikerjakan secara sederhana, buatan tangan (handmade) dan bantuan mesin sederhana.

a. Teknik pembuatan karya seni terapan dua dimensi.

Contoh :
  • Teknik membuat gambar hiasan (dekorasi) dengan arsir (garis) dan balok (siluet).
  • Membuat kain tenun tradisi dengan ATBM (alat temuan bukan mesin) yang terbuat dari kayu dan dikerjakan dengan tangan.
  • Menyulam, membuat kristik, dan bordir kain dengan cara menggunakan tangan dengan peralatan jarum saja atau mesin jahit sederhana.
  • Membuat kain batik, seluruhnya dikerjakan dengan tangan secara sederhana. Proses atau langkah-langkah membatik meliputi : Pada kain mori - penulisan, membuat garis, dan menggambar sesuai shet dengan canting yang diisi malam cair panas - pemberian warna dengan cat batik - melorod, yaitu memberikan malam dengan air panas - membersihkan atau dibilas dengan menggunakan air hingga tampak bersih - pengeringan, dijemur dengan tidak terkena sinar matahari secara langsung.
  • Membuat kerajinan wayang kulit dengan teknik mengukir (memahat) kulit, lalu digambar (sungging) dengan bahan car dan alat sederhana. Dikerjakan tangan dengan lembut, sabar, dan tekun. Desain wayang sudah ada sejak dahulu, sehingga tinggal mencontoh atau dengan pola yang sudah diterapkan.

b. Teknik berkarya seni terapan tiga dimensi.

Teknik membuat seni terapan tiga dimensi biasanya disesuaikan dengan media (bahan) yang digunakan.

Contoh :
  • Membuat kerjainan berupa patung atau ukiran dari bahan batu atau kayu menggunakan teknik pahat. Alatnya berupa pahat (tatah) dan martil saja.
  • Membuat kerajinan keranjang, bakul tenong, topi dari bahan bambu dengan menggunakan teknik anyaman.
  • Membuat kerajinan vas bunga, celengan (tempat menabung), gerabah, guci, kendi dari tanah liat atau keramik dengan menggunakan teknik membentuk, butsir, putar.

Teknik atau cara yang digunakan dalam membuat karya seni kriya daerah adalah sangat sederhana. Umumnyadikerjakan dengan tangan (handmade), dikerakan secara bersama (orang banyak) dan secara individu. Cara tersebut antara lain dengan teknik :
  • Butsir.
  • Membentuk.
  • Menempel atau sambung.
  • Cetakan sederhana.
  • Palster.
  • Pahat atau ukir.
  • Btik, arsir, blok, (untuk karya dua dimensi).

7. Merancang atau menciptakan seni karya kriya daerah.

Seni kriya disebut pula seni kerajinan. Seni kriya daerah setempat sering disebut seni kriya tradisional karena dikerjakan dengan cara atau teknik sederhana sekali. Media (bahan atau alat) yang digunakan diambil dari daerah setempat, kebanyakan dari bahan alam.

Corak yang digunakan umumnya menunjukkan ciri khas daerah setempat dan bersifat statis, itu-itu saja. Oleh karena itu, kita dalam membuat karya seni kriya daerah membutuhkan ide atau gagasan yang bersifat pengembangan dan inovasi (pembaharuan) sehingga akan tercipta karya yang bercorak daerah, namun dalam bentuk dan kreasi baru.

Pembuatan rancangan bertujuan untuk menciptakan sebuah karya seni kriya menjadi kary ayang baik. Karya seni kriya yang sangat baik ialah karya seni kriya yang dapat memenuhi kepuasan pencipta dan pemakai. Pembuatan karya seni kriya harus memenuhi faktor-faktor sebagai berikut :

a. Faktor estetis (memiliki nilai indah)

Karya dikatakan indah apabila komposisi atau susunan unsur-unsur rupa tepat, serasi atau harmonis. Di samping itu, karya yang indah adalah halus, lembut, rapi, rajin.

b. Faktor artistik.

Karya seni kriya dikatakan artetistik (bernilai seni) apabila mengandung unsur seni dan fungsi seni.

c. Faktor kegunaan.

Seni kriya (seni terapan) harus memiliki nilai guna maksudnya dapat dipakai (digunakan). Untuk itu, perlu dipertimbangkan tentang keluwesan (flexibility), keamanan (scurity), dan kenyamanan (comfori).

d. Faktor rasa bahan (karakteristik bahan).

Faktor rasa bahan adalah yang menyangkut sifat bahan. Misalnya, tanah liat bersifat elastis, bila kering mudah retak. Rotan bersifat lentur. Kayu ada yang lunak ada yang keras.

e. Faktor selera.

Karya seni kriya dibuat dengan tujuan agar memenuhi selera pemakai atau permintaan pasar. Hal ini karena seni kriya memiliki tujuan komersial.

f. Faktor tempat.

Seni kriya dan cipta harus mempertimbangkan segi tempat yang digunakan untuk meletakkan benda kriya (kerajinan)tersebut.

8. Corak seni kriya daerah setempat.

Seni kriya atau seni kerajinan pada umumnya dibuat denan tujuan untuk melestarikan tradisi seni rupa daerah atau suku bangsa, dengan ciri-ciri khusus daerah yang terikat oleh norma dan nilai filosofis daerah atau suku bangsa.

  • Bentuk corak dan warna yang digunakan dalam karya seni kriya tidak sama (berbeda) antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya karena melambangkan nilai-nilai simbolik. Selain dipengaruhi tradisi suatu daerah , kriya seni terapan juga berbeda coraknya, dipengaruhi kurun waktu pada zamannya.  Misalnya motif, bentuk, corak, dan warna pada suatu masa atau zaman. Perbedaan motif, bentuk, corak, dan warna pada zaman prasejarah, Hindu, Budha, Islam, dan modern dipengaruhi oleh nilai-nilai dan ajaran agama serta sosial budaya. Misalnya, bentuk bangunan candi, masjid, ragam hias, motif batik, perabotan rumah tangga, mode pakaian, perhiasan.
  • Ragam hias daerah banyak variasi dan perbedaannya, seperti yang kita lihat pada motif ukur dan motif batik yang kita kenal antara lain motif gaya Cirebon, Bli, Madura, Jepara, Mjapahit, Pekalongan, Pajajaran, Surakarta, Yogyakarta, Dayak, Tpanuli, Sriwijaya, Papua, dan Timor. Motif ragam hias yang digunakan untuk menghias atau memperindah bidang dua dimensi atau tiga dimensi yang berupa gambar hias, ukiran, anyaman, seni bangunan, dan perabot rumah tangga ada banyak macam atau jenisnya. Tiap ragam hias daerah yang disiptakan mempunyai arti dan makna tersendiri.

Macam-macam motif ragam his tersebut, antara lain sebagai berikut ini :

  • Motif geometris atau motif ilmu ukur.
  • Motif garis potong (motif tangga).
  • Motif untu walang.
  • Motif kawung.
  • Motif meander dan swastika.
  • Motif binatang (fauna).
  • Motif tanaman (flora) dan bunga.
  • Motif tubuh manusia.
  • Motif alam.
  • Motif bersifat religius atau keagamaan.
  • Motif anyaman.

Pada dasarnya, seni kriya yang disebut juga dengan pani kriya memiliki sifat yang berfungsi sebagai benda pakai (aplied art) serta sebagai benda hiasan yang tidak terlepas dari nilai estetika (keindahan) dan nilai artistik (nilai seni).

Baca juga selanjutnya Menilai karya seni rupa dua dimensi.

Corak karya seni kriya daerah adalah tradisional, monoton (tetap itu-itu saja) secara turun-menurun. Corak tersebut antara lain :
  • Dekoratif (bersifat menghias dua dimensi).
  • Ornamen atau hiasan.
  • Klasik atau tradisional ada sejak zaman dulu.
  • Halus, indah, lembut.
  • Memiliki arti dan makna simbolik.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel