Arti Pengertian Seni Rupa Terapan Nusantara

A. Menilai Keunikan Seni Rupa Terapan

1. Gagasan dan Teknik Seni Rupa Terapan Nusantara 

Nusantara yang terdiri dari Tiga Belas Ribu lebih pulau didiami lebih dan” 300 suku bangsa dengan berbagai bahasa daerah sebagai sarana komunikasi mereka, dapat kita bayangkan betapa luas hal mengenai budaya, khususnya seni rupa terapan. Namun, gagasan dan teknik yang akan kita coba telusuri, walau mungkin hanya dasar dan sebagian besar yang dapat dilihat di sekitar lingkungan kita. 

Seni rupa terapan di berbagai wilayah Nusantara banyak mendapat pengaruh dari budaya lain. Nusantara sebagai persinggahan bangsa lain untuk meneruskan perjalanan sambil menunggu datangnya angin, mereka banyak mempengaruhi bentuk, corak, ataupun gagasan dalam berkreasi seni terapan atau kerajinan. Gagasan, gaya seni rupa terapan Nusantara banyak terinspirasi dari zaman Prasejarah, jauh sebelum bangsa Austronesia datang sekitar 5000 tahun yang lalu. 

Arti Pengertian Seni Rupa Terapan Nusantara

Seni Kriya merupakan bentuk seni rupa terapan. Seni kriya dapat disebut seni kerajinan karena merupakan bagian dari seni rupa yang mengarah pada seni hias dan seni pakai. Pembuatannya mengutamakan keterampilan dan kecekatan. Pada umumnya, seni kriya atau kerajinan cenderung dibuat sebagai barang produksi atau seni industri. 

Pemerhati atau pengamat karya seni rupa terapan (seni kriya) dapat menghargai dan menikmati suatu karya apabila dapat mengerti, memahami, dan menilai melalui kepekaan rasa estetisnya. Kemampuan ini disebut kemampuan mengapresiasi seni terapan. Apresiasi sangat penting bagi kita karena hasil karya seni dapat melatih kepekaan rasa, memberi kenikmatan, dan memperkaya jiwa serta memperhalus budi pekerti.

2. Menilai Karya Seni Rupa Terapan (Seni Kriya) 

Dalam menilai suatu karya seni kriya diperlukan proses pemahaman apresrasr seni rupa secara utuh, yaitu dengan pengamatan, penghayatan terhadap karya dan pengalaman berkarya seni sehingga dapat menumbuhkan rasa haru, sikap empati, dan simpati yang akhirnya berkemampuan menikmati, menilai, dan menghargai seni. 

a. Setiap karya seni rupa mempunyai bobot yang berbeda satu dengan yang lainnya. Bobot atau nilai sebuah karya seni rupa sangat ditentukan oleh pembuat karya seni atau seniman (perupa) dalam penggarapannya yang di dalamnya meliputi: 

1). konsepsi atau gagasan; 

2). kreasi atau kreativitas dalam penciptaan karya; 

3). teknik ialah cara yang digunakan dalam membuat suatu karya. sering disebut juga teknik pribadi; 

4). corak; 

5). keunikan, yakni bagaimana cara menentukan bentuk dan mengatur komposisi dari unsur seni.

Selain perupa (seniman) sebagai penentu utama, karya seni rupa juga tidak lepas dari media (alat dan bahan) yang digunakan dalam membuat karya seni rupa tersebut. Media dengan sifatnya dapat membuat sebuah karya seni mempunyai nilai (bobot) tersendiri. Misalnya, karya seni kriya yang dibuat dengan bahan berkualitas tinggi, hasilnya akan lebih baik dan sempurna dibandingkan dengan menggunakan bahan berkualitas rendah. 

b. Kriteria menilai karya seni rupa terapan (seni kriya). Seni kriya merupakan bagian dari seni rupa. Dalam menilai atau memilih karya seni yang berbobot atau yang baik diperlukan apresiasi seni rupa. 

Di sini perlu disampaikan hal-hal sebagai berikut: 

1) prinsip seni atau asas seni; 

2) fungsi seni; 

3) komposisi atau unsur seni. 

Penjelasan berikut ini diharapkan dapat membantu siswa dalam menentukan kriteria karya. 

1) Prinsip seni atau asas seni meliputi dua hal sebagai berikut 

a) Komposisi (susunan) 

Dalam membuat karya seni rupa baik yang berwujud dua dimensi atau tiga dimensi, atau dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari komposisi. 

Arti komposisi ialah susunan. Hasil karya seni rupa yang baik atau indah antara lain ditentukan oleh pengaturan atau penyusunan unsur-unsur seni rupa dalam satu kesatuan. Adapun unsur-unsur yang pokok adalah garis, arah, bentuk (shape), ukuran, warna, gelap terang (value), tekstur (texture). serta unsur titik atau noktah ( spot). Bila seseorang menyusun unsur-unsur seni rupa tersebut, berarti ia menciptakan bentuk atau desain.

Kita harus berpegang teguh pada prinsip-prisnip organisasi unsur atau prisnipprinsip desain yang meliputi: 

(1) keseimbangan atau kesetimbangan (balance); 

(2) kesatuan (unity); 

(3) irama (rhythm atau ritme); 

(4) kontras (berbeda jauh); 

(5) selaras atau serasi (harmony). 

2) Unsur-unsur seni rupa 

Unsurunsur seni rupa yang pokok antara lain meliputi garis, arah, bangun (bentuk), ukuran, warna, gelap terang, tekstur, dan titik (spot). 

a) Garis 

Garis ialah unsur yang sederhana dan mudah untuk digunakan sebagai alat ekspresi dan merupakan unsur yang paling kuno digunakan dalam seni. Garisgaris bisa berkesan sangat emosional dan kadangkadang beku. Kesan dan watak garis tipis lembut akan berbeda dengan garis tebal.

b) Arah 

Unsur arah bisa dirunjukkan dengan lurus, belok, horizontal, vertikal, condong, dan lain sebagainya. Arah condong belok-belok berkesan dinamis, gerak vertikal dan horizontal lebih berwatak stabil dibandingkan dengan arah condong.

c) Bangun/bentuk keseluruhan (shape). 

Shape dapat dijadikan area atau bidang atau polu (benntuk) contohnya lingkaran, segitiga, segi banyak. dan benjolan.

d) Ukuran 

Kita mengenal berbagai ukuran misalny lebar sempit. Ukuran tersebut dapat menimbulkan kesan pada penghayatannya sendiri-sendiri. 

e) Gelap terang (value) 

Gelap terang bisa berasal dari warna dan juga bisa dari cahaya. Contoh wam. putih, abu-abu, lalu hitam pekat. Cahaya yang jauh pada suatu benda memberikan kesan gelap terang. 

f) Warna 

Warna merupakan unsur yang banyak digunakan dalam penerapan karya seni rupa. Menurut teori warna Goethe (jerman), warna dibagi menjadi tiga jenis sebagai berikut: 

(1) warna primer (pokok), yaitu merah, kuning, dan biru; 

(2) warna sekunder (campuran dari wama-wama primer), antara lain: 

(a) orange, campuran dari warna merah dengan kuning); 

(b) violet (ungu); campuran dari warna biru dan merah; 

(c) hijau; campuran warna kuning dan biru. 

(3) warna tersier (campuran warna warna primer dan sekunder) contoh warna krem, cokelat, abu-abu, dongker, hijau muda, biru langit, pink (merah muda), dan lain sebagainya. Warna yang berlawanan atau berhadapan disebut warna komplimen. 

Biru >< orange 

Merah >< hijau 

Kuning >< violet 

Kesan warna-warna ini adalah kontras.

Penggunaan warna dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan sebagai berikut. 

(l) Warna harmonis 

Warna harmonis digunakan atau diterapkan secara naturalis (seperti yang terlihat pada alam) atau sesuai penglihatan kita, misalnya dalam melukis laut biru, daun hijau, tanah cokelat, gunung biru, rambut hitam, dan lain-lain. 

(2) Warna heraldis 

Warna heraldis digunakan dalam pembuatan lambang atau simbol yang mempunyai arti tertentu, misalnya merah berarti berani, putih berani suci, biru berarti damai, hitam berarti abadi, dan kuning berarti jaya.

(3) Warna Murni 

Warna murni digunakan dengan bebas, warna sebagai warna, tidak terikat oleh alam, dan tidak diartikan. misalnya pada karya-karya seni modern.  

g. Tekstur  

Tekstur adalah nilai raba dari suatu permukaan (permukaan yang kasar dan halus). Tekstur ada dua macam yaitu :

(1) tekstur nyata. dan 

(2) tekstur semu. 

h. Titik (spot) 

Titik atau noktah atau spot banyak digunakan dalam karya seni rupa. misalnya lukisan pointilisme (terdiri dari unsur titik). 

b. Fungsi seni 

Setiap jenis karya seni rupa atau kerajinan tangan mempunyai fungsi tertentu yaitu: 

l ) fungsi primer atau fungsi pribadi; 

2) fungsi sekunder atau fungsi sosial; 

3) fungsi fisik atau fungsi pakai. 

c. Komponen (unsur Seni) 

Unsur seni terdiri dari: 

1) subjek; 

2) bentuk; 

3) isi.


B. Apresiasi Karya Seni Kriya Daerah

Untuk memupuk dan meningkatkan sikap menghargai atau menilai karya sent. perlu lebih banyak melihat dan mendatangi pameran karya seni rupa. Hal tersebut dapat terlaksana kalau lingkungan sekolah terdapat sanggar sem atau musium seni rupa. Namun, bila hal tersebut belum memungkinkan, dapat dilakukan dengan cara menampilkan karya siswa di kelas atau di depan kelas yang strategis, diberi judul sederhana yang menarik, seperti “KARYA SENI BULAN INI" atau judul yang menarik lainnya. 

Negara Indonesia yang terdiri dari bermacam suku bangsa. adat istiadat, dan seni budaya daerah yang berbeda merupakan kekayaan budaya Nasional dan kebanggaan bangsa.

Seni kriya (seni kerajinan) banyak dihasilkan oleh berbagai daerah di Indonesia yang masing-masing mempunyai keunikan dan ciri khas tersendiri. Seni kriya di daerah pada umumnya memiliki bentuk dan pengerjaan yang masih bersifat tradisional sehingga tidak banyak perajin (kriyawan) yang terkenal, seperti perupa seni lukis dan pematung. 

Nilai artistik seni kriya daerah Nusantara terletak pada motif, ornamen (ragam hias). dan pekerjaan yang rumit dan unik serta mengandung kekaguman atas keuletan dan keterampilan perajin yang menimbulkan kekaguman. 

Potensi seni kriya daerah banyak dipengaruhi oleh tersedianya bahan di daerah tersebut. 

1. Penciptaan Seni Kriya (Seni Kerajinan) 

Karya cipta seni kriya yang baik (memenuhi kepuasan pencipta dan pemakai) harus memenuhi faktor-faktor sebagai berikut 

a. Faktor estetis ( mempunyai nilai indah) 

Karya seni kriya dikatakan indah apabila letak dan susunan (komposisi) unsurunsur seninya tepat, baik bentuk maupun letaknya sehingga tampak serasi atau harmonis. Di samping itu. harus ada unsur kelembutan, kehalusan. kerapian, dan kerajinan.

b. Faktor artistik 

Suatu karya seni dikatakan mempunyai nilai artistik bila karya tesebut mempunyai nilai seni yang meliputi prinsip seni. unsur seni, dan fungsi seni. 

c. Faktor kegunaan (applied) 

Faktor kegunaan merupakan yang terpenting bagi seni kriya (seni rupa terapan). Dalam hal ini perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut. 

1) Keluwesan (flexibility) terdapat pada hubungan yang serasi antara bentuk-bentuk dengan nilai gunanya. misalnya kerajinan topi yang enak dipakai dan indah dipandang. 

2) Keamanan (security) 

Benda seni kriya harus menimbulkan rasa aman bagi pemakai dan penggunanya. 

3) Kenyamanan (comfort) 

Setiap benda kriya sebaiknya membuat nyaman dan senang pemakai atau penggunanya. 

d. Faktor tempat 

Karya kriya (kerajinan) yang diciptakan harus mempertimbangkan segi tempat yang digunakan untuk meletakkan benda kriya tersebut. 

e. Faktor rasa bahan (karakteristik bahan) . 

Faktor rasa bahan adalah sifat dari suatu bahan, misalnya, sifat tanah liat, plastisin yang elastis, logam yang bersifat keras, kayu yang lunak dan keras. dan rotan yang bersifat lentur. 

f. Faktor selera 

Karya seni kriya hendaknya dapat memenuhi selera atau permintaan pangsa pasar atau pemakai. karena memilik tujuan komersial.

2. Perjalanan Sejarah Seni Kriya (Seni Rupa Terpan) di Indonesia

Seperti halnya kesenian, seni kriya yang merupakan seni rupa terapan mengalami perkembangan dalam perjalnannya di wilayah Nusantara.

a. Periode prasejarah atau zaman kuno 

Pada masa ini hasil karya seni kriya diciptakan untuk keperluan upacara penyembahan roh nenek moyang (kepercayaan animisme), benda-benda kriya untuk peralatan rumah tangga, perhiasan, untuk keperluan berburu atau perang. 

b. Periode zaman Hindu dan Budha 

Benda-benda seni kriya yang dihasilkan umumnya digunakan untuk kepentingan agama. Teknik cara pengolahan dan media yang digunakan sudah mengalami kemajuan seperti, teknik cor, etsa, dan grafik. Bahan terbuat dari batu. kayu, perunggu, tembaga, kuningan, dan emas. 

Contoh benda-benda seni kriya yang dihasilkan adalah patung, bejana, keris, tombak, piala, kentongan, kendi, perhiasan (gelang, kalung, dan anting), jambangan air suci, wayang, topeng, cermin, kriya tenun, dan kain batik.

c). Periode Islam 

Pada zaman Islam, seni kriya dipengaruhi oleh ajaran dan budaya Islam yang mengharamkan (melarang) penggambaran atau perwujudan makhluk hidup sebagai karya seni. 

Oleh karena itu hasil dari benda-benda seni atau karya seni kriya berupa stilasi dari tumbuhtumbuhan berupa ragam hias, kaligrafi, dan hiasan motif geometris dan arabes, wayang kulit (buatan Sunan Kalijaga dan Sunan Giri), hiasan seni bangun masjid. 

d). Periode sekarang 

Masuknya pengaruh budaya Barat ke wilayah Nusantara dimulai pada zaman penjajahan Belanda. Pengaruh dari Cina dan negara lain juga mempengaruhi perkembangan karya seni rupa wilayah Nusantara, Makin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan karya seni kerajinan (seni kriya) bertambah kaya ragam dan bentuknya serta dikenal di mancanegara yang dapat menjadi sumber devisa negara. 

Benda-benda seni yang dihasilkan antara lain kerajinan ukir kayu, anyaman bambu, kerajinan kuningan, perak bakar, kerajinan kulit, rotan, bambu, batik tulis atau print dengan berbagai motif dan corak, kain tenun, kerajinan keramik kerajinan cenderamata, wayang kulit atau golek, mainan anak-anak, hiasan interior dan eksterior. 

3. Jenis-Jenis Karya Seni Rupa Terapan Nusantara 

Nusantara dengan ribuan pulau dan ratusan suku bangsa merupakan negara yang kaya akan hasil karya seni dan budaya. Kita perhatikan lingkungan kita masing-masing banyak hasil karya seni kriya atau kerajinan yang memiliki nilai seni yang cukup tinggi. namun tinggal bagaimana kita dapat menghargai. menilai lalu melestarikan sebagai ciri khusus daerah yang dapat mengangkat nama daerah sehingga dapat menuju kemajuan daerah yang bersangkutan. 

Di bawah ini merupakan contoh daerah pengrajin karya seni kriya yang mampu membawa nama daerah dalam percaturan daerah masing-masing di tingkat regional, Nasional, bahkan internasional. 

a. Seni ukir, daerah pengrajin : Jepara. Bali. Asmat 

b. Kuningan, daerah pengrajin : Juana Kab. Pati 

c. Seni Perak, daerah pengrajin : Kota Gede Jogyakarta 

d. Keramik, daerah pengrajin : Kasongan Yogyakarta 

e. Batik, daerah pengrajin : Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Madura, Lasem, Rembang. 

f. Songket /Ulos, daerah pengrajin : Batak, Sulawesi, Nusa Tenggara, Timor, Sumatra Selatan. 

g. Wayang Golek, daerah pengrajin : Sukabumi, Cirebon, Tasikmalaya.

h. Kerajinan kulit, daerah pengrajin : Yogyakarta, Solo, Cibaduyut (Bandung), Madiun. 

i. Cinderamata, daerah pengrajin : Bali, Solo, Jogyakarta. 

j. Bordir, daerah pengrajin : Tasikmalaya, Kudus.

4. Kunjungan ke Pameran Seni atau ke Galeri/Sanggar dan Penilaian karya Seni Terapan 

Tuhan menciptakan otak besar manusia terbagi menjadi dua. kanan dan kiri. bagian kiri untuk bertikir eksakta/logika. sedangkan yang bagian kanan untuk kreativitas. Kreativitas merupakan hal yang tidak dapat dikesampingkan karena dengan kreativitas, seseorang dapat menata langkah. strategi dalam menjalani hidup, Kreativitas seni merupakan langkah awal dalam angan-angan manusia. 

Dalam kreativitas seni harus ditumbuhkan sikap menghargai suatu karya seni. Untuk dapat menghargai perlu belajar banyak dengan cara melihat,. membandingkan, kemudian menghayati dan menghargai sehingga terjadi proses pengolahan ide yang kemudian timbul rasa ingin berbuat. berkarya seni. 

Kunjungan ke pameran seni atau ke sanggar seni merupakan langkah awal agar terjadi dorongan dari dalam diri manusia untuk berbuat yang lebih dari yang sudah mereka lihat. Bagi masyarakat perkotaan pameran. sanggar ndak menjadi masalah, karena banyak sanggar yang dapat dikunjungi. Pameran seni pun sering digelar sehingga lebih leluasa, namun bagi daerah merupakan kendala yang perlu diperhatikan bersama sehingga pameran kelas atau sekolah perlu di adakan untuk menumbuhkembangkan sikap apresiattf . 

Baca juga selanjutnya



Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kunjungan ke pameran atau galeri: 

a. Mencatat karya dan senimannya. 

b. Klarifikasi karya berdasar golongannya. 

c. Menilai beberapa karya yang dianggap baik menurut apresiator. 

d. Membuat laporan dan penilaian. 

e. Mengikuti sarasehan bila ada.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel