Langsung ke konten utama

Isi Pengertian Seni Musik Tradisional

A. Fungsi dan Latar Belakang Musik Tradisionl

Ungkapan perasaan manusia yang dikeluarkan dalam bentuk suara manusi. disebut musik vokal. Ungkapan melalui alat musik disebut musik instrumental.

Dari hal tersebut musik dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu: 
  • Musik vokal, adalah musik yang sumber bunyinya dari suara manusia 
  • Musik instrumen artinya dengan alat musik. Contohnya: gitar, kendang, drum, piano, organ, gambang. suling, gong, mandolin, tamborin, cello, dan bas. 
  • Musik campuran (vokal dan instrumen). Contohnya: menyanyi dengan diiringi gitar, kendang terbang, gamelan. 
Musik berdasarkan jenis atau alirannya dibagi menjadi dua macam. yaitu: 

  • Musik tradisional (musik daerah) 
  • Musik modern. 
Musik tradisonal ialah musik yang secara turun-menurun lahir dari budaya daerah. Alat musik yang digunakan dibuat secara sederhana baik dari bahan, teknik maupun nada dan iramanya. Sebagai contoh: terbang, kendang, kolintang, angklung, calung, seruling bambu, rebab, gong, kentongan. 

Isi Pengertian Seni Musik Tradisional

1. Fungsi Musik

Fungsi musik secara umum meliputi fungsi individu dan fungsi sosial. 

a. Fungsi individu 

Musik sebagai media ekspresi atau ungkapan batin dan rasa manusia. 

Ungkapan tentang rasa sedih, gembira, kekaguman terhadap alam. ungkapan cinta, dan pemujaan terhadap Tuhannya. 

b. Fungsi sosial 

Digunakan untuk kepentingan sosial atau masyarakat. Antara lain fungsinya: 

1) Sebagai sarana komunikasi dengan masyarakat dan untuk memberikan tanda. Contoh: kentongan, lonceng, bedug, bendhe. 

2) Diperdengarkan untuk upacara hari-hari besar agama! keagamaan, upacara kenegaraan, pengantin adat. 

3) Untuk mengiringi gerak tarian klasik atau tradisional, contohnya gamelan Jawa, gamelan Bali, gamelan Sumatra, gambus atau orkes Melayu. 

4) Sebagai sarana hiburan, misalnya gamelan (Bali, jawa. Sunda), orkes. 

5) Untuk mengiringi upacara adat tradisi daerah dan religius. contohnya gamelan Bali, angklung. gamelan Jawa sekaten, dan terbang jidur. 

6) Untuk mengiringi tatasuara Pergelaran wayang orang. wayang kulit (purwa). wayang golek. ketoprak, dan ludruk (Jawa Timur). 

7) Untuk pembelajaran atau pendidikan agar memiliki rasa peka. rasa indah dan halus serta membentuk budi pekerti luhur. Di samping itu, seni musik Nusantara memiliki peranan penting bagi perkembangan dan pelestarian seni budaya nasional. Peranan musik daerah Nusantara, antara lain: 

a) Sebagai kebanggaan seni budaya daerah yang mempunyai karakter dan ciri khas daerah.

b) Sebagai media ekspresi dan komunikasi sosial budaya bagi masyarakat daerah setempat.

c) Sebagai dorongan untuk cinta dan bangga terhadap potensi musik tradisi daerah.

d) Musik daerah merupakan kekayaan budaya nasional.

2. Fungsi Musik Tradisional 

Musik tradisi adalah musik yang bersumber dari tradisi budaya daerah secara turun-menurun yang bersifat sederhana. Musik tradisi disebut juga musik daerah. Musik tradisi di setiap daerah mempunyai fungsi yang berbeda, hal ini tergantung dari karakter, adat, dan budaya masyarakat yang mempengaruhi. Namun secara umum fungsi musik tradisi daerah Nusantara ini mempunyai banyak persamaan. 

a. Sebagai musik duniawi yang digunakan untuk hiburan dalam acara pesta atau acara gembira. seperti angklung, kolintang, uyonuyon, dan degung. 

b. Sebagai musik sakral atau religi yang bersifat religius (keagamaan), seperti untuk upacara keagamaan, upacara adat, dan upacara perkawinan. 

c. Sebagai alat atau media untuk bercerita (dongeng), seperti kentrung dengan alat instrumen terbang dan vokalis yang melantunkan lagu (tembang) berisi cerita babad, wayang, dan cerita rakyat. 

d. Sebagai pengiring suatu tarian (gerak tari) tradisional, seperti Tari Serampang Dua belas, Tari Jaipong, Tari Payung, Tan" Ngremo, Tari Jawa, Tari Lenso, dan Tari Topeng. 

3. Latar Belakang Musik Tradisional 

Latar belakang musik tradisional adalah berkaitan (tidak bisa lepas) dengan kehidupan masyarakat. Musik ini dipengaruhi oleh adat, tradisi dan budaya masyarakat setempat. Pada umumnya, musik tradisi menjadi milik masyarakat bersama. Trdak diketahui siapa pencipta dari musik tradisi, baik yang berupa musik instrumen maupun vokal. Musik tradisonal dengan kesederhanaannya merupakan warisan seni budaya leluhur yang memiliki nilai tinggi (luhur). Karena tingginya nilai-nilai yang terkandung dalam musik tradisi ini, maka musik ini selalu dicintai dan dipertahankan/dilestarikan oleh masyarakat. 

Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam musik tradisional dengan latar belakang sebagai berikut:

a. Seni musik sebagai alat ekspresi untuk mencetuskan isi hati, ide, gagasan manusia. Contoh, ungkapan rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa (lagu “Syukur Tuhan”). 

1) Di dalam gamelan Jawa ada beberapa gending yang dapat mengungkapkan rasa duka atau kesedihan, yaitu gending atau lagu megatruh, dunno, dan mijil. Rasa gembira diungkapkan dengan lagu pucung, rasa kasih mesra melankolis diungkapkan melalui lagu sinom parijotho. 

2) Gamelan Bali menunjukkan ungkapan ekspresi yang dinamis dalam mengiringi gerak tari. 

3) Suara seruling dan gamelan Sunda sebagai ekspresi rasa lembut, syahdu, dan pilu yang menyayat hati akan menimbulkan rasa haru bagi yang mendengarkan. 

b. Musik tradisi mengandung nilai seni yang tinggi (artistik) dan nilai indah (estetis). Dalam hal ini musik tradisi dapat menjadi musik seni. Musik seni adalah musik yang diciptakan untuk keindahan musik itu sendiri. 

Berikut ini contoh musik tradisi yang menjadi musik seni: 

1) Uyon-uyon (gamelan Jawa Tengah) yang memainkan lagu atau gending-gending langen "Gito Sri Narendro” dan “Kutut Manggung". 

2) Musik tradisi Jawa Barat, seperti “Gending Cianjuran” yang menonjolkan vokal khas (pesinden) Cianjur dan Celempungnya yang merupakan jenis musik yang mengutamakan vokal (nyanyian) dan gending.

c. Musik tradisi dapat dijadikan sebagai alat bermain bagi anak-anak dan orang dewasa. 

Musik tradisi yang berisi permainan terdapat pada lagu-lagu dolanan (bermain) yang hampir dimiliki oleh setiap daerah. Lagu-lagu dolanan tersebut tidak hanya digunakan untuk hiburan semata tapi juga merupakan salah satu bentuk puisi tradisional yang mampu menumbuhkembangkan emosi, fantasi, dan imajinasi yang memiliki nilai-nilai pendidikan. Contoh lagu tradisional untuk permainan, yaitu: 

"Meyong-Meyong" (Bali), “CublakCublak Suweng” (Jawa Tengah), “Ampar-Ampar Pisang” (Kalimantan), “Jula-Juli” (Surabaya), “Anak Kambing Saya" (NTT), “Ayo Mama” (Maluku), dan “Jali-Jali” (Jakarta). 

d. Musik tradisi sangat komunikatif dengan masyarakat sebagai salah satu media komunikasi. Contohnya, antara lain: 

1) Musik! religius (keagamaan) yang mengandung unsur pemujaan kepada sang pencipta merupakan media komunikasi manusia dengan Tuhannnya, seperti musik Dayak, musik Gamelan Sekaten, gamelan Bali, musik Batak, dan Gambus (Riau). 

2) Pukulan kenthongan di pedesaan sebagai alat komunikasi, Tong-tek untuk siskamling dan membangunkan sahur pada bulan puasa dengan nada dan irama yang indah merupakan alat komunikasi yang menarik.

Pukulan beduk di masjid serta musik lesung (alat penumbuk padi) memiliki pola ritmik sebagai sarana memanggil umat. 

e. Musik tradisi (daerah) mengandung nilai-nilai budi pekerti yang luhur, karena di dalamnya terdapat ajaran sikap perilaku yang baik, berisi ajaran agama. ada pesan etika dan estetika, berisi cerita tentang keteladanan, bersifat penuh dengan kesederhanaan (alat instrumen, lagulagunya, lirik nada. dan iramanya), mengagumi, dan rasa cinta kepada alam sekitar daerah tempat tinggalnya (cinta tanah air). Hal ini dapat kita lihat pada isi lagu-lagu daerah seluruh Nusantara, sebagai contoh: !) Lagu '*limang-Timang Anakku Sayang" (Sumatra Timur). Lagu ini mengungkapkan cinta kasih sayang seorang ayah kepada anaknya sebagai buah hati, mendoakan pada Tuhan supaya sang anak kelak menjadi orang yang berguna. 

2) Lagu "Kampuang Nun Jauh di Mato” (Sumatra Barat). Lagu ini menceritakan kerinduan seorang perantau yang jauh dari kampung halaman dan keluarga yang dicintai. Ini berarti ada ikatan batin manusia dengan tanah air tumpah darah dari daerahnya. 

3) Lagu (tembang “ilir-Ilir" dari Jawa). Lagu ini merupakan gagasan Sunan Kali Jaga, salah satu dari wali sanga. Lagu ini berupa ajaran agama bagi generasi muda, berisi keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan. Ajaran agar selagi masih muda (ibarat pengantin baru masih luas jangkauan, masih kuat) mencari ilmu dunia akhirat, membersihkan diri dari dosa, untuk bekal kembali menghadap Tuhan kelak. Ajaran untuk menjalani hidup dengan senang (bersorak). 

4) Lagu dolanan "Enthik-Enthik” (Jawa) Lagu ini berisi pendidikan budi pekerti bagi anak-anak. Lagu yang bercerita tentang falsafah hidup manusia bersaudara agar rukun tidak iri dan dengki pada sesama saudara yang mempunyai kelebihan (tinggi) yang digambarkan dengan lima jari tangan manusia.

B. Musik Tradisional Setempat

Musik tradisional Nusantara beraneka ragam sesuai banyaknya daerah dan suku bangsa yang menghasilkan karya musik tersebut. Musik tradisional setempat memiliki ciri khas, karakter, dan keunikan tersendiri. Pernahkah Anda menyaksikan pertunjukan musik tradisional setempat atau tempat Anda berada? Dengan melihat pertunjukan musik tradisi tersebut, Anda dapat mengungkapkan pengalaman musikal. Bagaimana indahnya musik tradisi, karakteristik, atau yang menjadi ciri khasnya. Apa alat musikyang digunakan dan gaya lagu apa yang dipakai? Apa yang menjadi daya tarik musik tradisi sehingga disenangi/digemari masyarakat setempat? Untuk itu, kita perlu mengenal jenis-jenis musik tradisi setempat dan perkembangannya yang ada di wilayah Indonesia. Jenis-jenis musik tradisional setempat, antara lain sebagai berikut: 

1. Musik Tradisional Betawi (Jakarta) 

Musik daerah (musik tradisional) Jakarta atau Betawi adalah sebagai berikut: 

a. Gambang Kromong 

Gambang kromong merupakan campuran antara gamelan dengan alat musik umum. Tangga nadanya adalah pentatonis Cina. Instrumennya terdiri dari biola, rebab, bonang, kecrek, gendang, gong, dan gambang. Lagu-lagunya bersifat humor (gembira). 

b. Tanjidor 

Tanjidor merupakan kesenian tradisional Betawi dengan ciri khas menggunakan alat musik terompet dengan bas drum. Pemain dalam keadaan berdiri ketika bermain musik.

2. Musik Tradisional Jawa Tengah dan Jawa Timur 

Salah satu musik Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menonjol atau populer adalah musik gamelan. Laras (nada) gamelan ada dua macam, yaitu: :

a. Gamelan laras slendro yang menggunakan tangga nada pentatonis l, 2. 3, 5. 6. !. (ji, ro, lu, mo, nem, ji), dan 

b. Gamelan pelog yang menggunakan tangga nada diatonis l. 2. 3. 4. 5, 6, 7 (ji, ro, lu, pat, ma. nem, pi). Fungsi gamelan adalah untuk mengiringi pergelaran wayang kulit. wayang orang, ketoprak, tari-tarian Jawa. upacara Sekaten. dan klenengan untuk upacara adat. 

c. Musik tradisi yang lain 
  • Musik kentrung dengan menggunakan terbang 
  • Gong gumbeng dengan alat musik sederhana (saron, siter. kendang dan gong dari bambu besar yang ditiup). 
  • Terbang jidor sebagai pengaruh budaya Islam.
  • Nam. Musik lesung. 
  • Musik kenthongan atau thethek, menggunakan alat kentongan. 
  • Musik calung, terbuat dari bambu, terdapat di daerah Banyumas atau Purwokerto.
  •  Musik terbang.

3. Musik Tradisional Bali 

Musik Bali hampir sama dengan musik Jawa (gamelan). Hanya resonator pada gamelan Bali lebih tinggi daripada resonator gamelan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Gamelan Bali lebih ekspresif dan dinamis iramanya. Tangga nada yang digunakan adalah tangga nada pentatonis. 

4. Musik Tradisional Minahasa (Kolintang) 

Musik tradisi Minahasa memiliki alat musik khas yang disebut kolintang, semacam gambang yang terbuat dari kayu, tangga nada yang digunakan adalah nada diatonis. 

5. Musik Tradisional Sulawesi Selatan 

Musik tradisi Sulawesi Selatan terdiri dari dua jenis, yaitu musik Makassar (gandrang bulo) dan musik Bugis (idiokordo). 

Instrumen musik keduanya terdiri dari:

a. Gendang ( genderan dan terbang atau rebana) 

b. Keso: reba dengang dua dawai yang digesek (Makassar) 

c. Kecapi (Makassar) dan kacaping (Bugis) 

d. Popandi atau talindo (musik satu dawai dipetik).

e. Alat musik tiup yang terdiri dari puwi-puwi (hobo), basing bugis (suling kembang), dan basing-basing (klarinet). 

6. Musik Tradisional Sulawesi Utara 

Instrumen musik dari daerah ini terdiri dari: 

a. Garpu tala dari bambu dan suling bambu 

b. Tegonggong (gendang kulit) 

c. Salude dan arababu dengan dawai 

Musik daerah ini mendapat pengaruh dari agama Kristen.

7. Musik Tradisional Kalimantan 

Musik khas suku Dayak dengan instrumen yang terdiri dari : 

a. Kasapi atau sampek (alat musik petik) 

b. Suling yang disebut juga dengan kedire. kledi, atau keruni. 

c. Gendang besar dan kecil. . 

d. Gong (tawah) 

8. Musik Tradisional Jawa Barat (Sunda) 

Musik tradisional Sunda (Jawa Barat) sangat banyak ragam dan jenisnya. antara lain : 

a. Celempungan 

Musik ini mengutamakan nyanyian (vokal) atau gending. Alat musiknya antara lain berupa celempung (bambu besar yang diberi dawai), kecapi, rebab, gendang, dan gong. 

b. Kliningan (klenengan) 

Kliningan adalah permainan musik gamelan dengan menggunakan nyanyian, yang dilengkapi dengan seperangkat gendang. Fungsinya untuk mengiringi tarian klasik atau modern. 

c. Calung 

Calung adalah seperangkat alat musik dari bambu yang termasuk alat musik pukul dengan nada pentatonis berlaras slendro dan pelog. Calung terdiri dari berbagai bentuk seperti calung gambang. calung gamelan. dan calung jinjing. 

d. Angklung Angklung adalah alat musik dari bambu yang cara memainkannya dengan dikocok. Nada yang digunakan adalah nada pentatonis dan diatonis.

e. Gamelan Degung 

Gamelan degung adalah seperangkat alat musik (gamelan) yang mempunyai cm dan warna musik tersendiri. Instrumen musiknya terdiri dari saron, rincik, bonang, peking, jengglong, gong, seperangkat gendang, rebab, kecapi, dan suling. 

f. Tarling 

Tarling adalah musik daerah dari Cirebon dengan ciri khas lagu yang bersifat humor (lucu). Instrumennya bermula dari gamelan bambu dan kecapi, lalu meningkat menjadi gamelan besi atau perunggu, gitar dan suling. Nama tarling diambil dari singkatan gitar dan suling. 

9. Musik Tradisional Batak, Sumatra Utara 

Musik daerah ini disebut dengan musik gondang atau musik tataganing, yang membawa penanaman kesadaran musik diatonis yang harmonis, mendapat pengaruh dari musik gereja. 

Instrumen musiknya, antara lain: 

a. Seruling (salonat, salodap, tarafat, sordam), 

b. Gendang (tataganing atau gondang), 

c. Kulcapi, hapetan, hasapi, arbab yang dapat dilaras atau distem, 

d. Tanggctong atau nungneng. Cara memainkannya dengan memukulkan suatu benda, sumber bunyi dari tali atau dawai.

e. Gerantung (semacam gambang) dan gong.

10. Musik Tradisional Riau 

a. Orkes Melayu membawakan lagu-lagu Melayu asli. Pada perkembangan selanjutnya, orkes Melayu menjadi musik Melayu atau musik Dangdut. Alat musik orkes Melayu, antara lain gendang melayu, akordeon, dan gong kecil. 

b. Musik gambus, umumnya bertemakan Islam dan cinta. Pemainnya sekaligus berfungsi sebagai penyanyi. Instrumen dapat berupa gambus, biola, dan rebana. 

11. Musik Tradisional Minangkabau, Sumatra Barat 

Musik yang terkenal adalah talempong. Talempong berupa campuran alat musik daerah setempat dengan alat musik barat, seperti :

a. Alat musik perkusi (musik pukul) yang terdiri dari ketipung, rebana, gendang sedang, gendang besar (doi), talempong, dan gong. 

b. Alat musik tiup atau puput tanduk, puput batang padi, suling, serunai, dan saluang bansi. c. Alat musik barat (gitar, biola, terompet). 

12. Musik Tradisional Aceh 

Musik ini bersifat religius, dan bernapaskan Islam. Alat musiknya berupa gambus, rebana, canangtring, gendang, hareubab, dan suling (serirnai). 

13. Musik Tradisional Maluku 

Hampir seluruh Maluku mempunyai kesamaan instrumen berupa: 

a. Komo, musik tiup dari siput 

b. Gendang (tifa) 

c. Idiokoro (alat musik tabuh) 

d. Arababu (rebab) musik gesek dari tempurung 

e. Gong. , Orkes suling bambu dengan ambitus (luas suara) dari suara bas sampai sopran. 

14. Musik Tradisional Papua 

Musik daerah Papua menggunakan instrumen musik sangat sederhana yang mendapat pengaruh dari Maluku. Alat musik yang menarik dari daerah ini, antara lain: 

a. Genderang yang dibuat dari kulit biawak yang artistik. 

b. Rebana, tifa, rebab. 

c. Sekakas.

Baca juga selanjutnya Konsep Apresiasi Seni Rupa

C. Karakteristik atau Keunikan Musik Tradisional

Karya musik tradisional (daerah) di wilayah Nusantara sangat banyak jenis dan ragamnya. Setiap karya musik tradisional memiliki keunikan dan karakteritik tersendiri yang menjadi ciri khas dan daya tarik. 

Lahir dan perkembangannya musik tradisional sesuai dengan tradisi dan makna kehidupan sosial budaya masyarakat di daerah setempat. 

Beberapa karya musik tradisional setempat, antara lain dicontohkan sebagai berikut: 

l. Musik Tradisional Gamelan 

Arti gamelan adalah seperangkat alat musik yang cara membunyikannya dengan cara dipukul atau ditabuh, dimainkan secara bersama dan yang merupakan suatu ansambel atau symphony. 

Tangga nada yang digunakan adalah laras slendm dan pelog. Musik tradisional ini paling banyak terdapat di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I. Yogyakarta, Sunda (Jawa Barat), Bali, Lombok, dan Palembang (Sriwijaya). Media (bahan) gamelan dibuat dari logam seperti besi, kuningan, dan perunggu serta kayu.

a. Kelompok instrumen pada gamelan 

Satu perangkat (unit) gamelan yang lengkap terdiri dari instrumen (alat musik) sebagai berikut. 

1) Kelompok kendang yang terdiri dari kendang bem, kendang ciblon besar dan kecil, serta ketipung. 

2) Kelompok pencon yang terdiri dari alat mnsik bonang wrung, bonang penerus, kethuk atau kempyang, kenong, kenong pengkuk, kempul, dan gong.

3) Kelompok blimbingan yang terdiri dari gender barang, gender penerus, dan slenthem. 

4) Kelompok balungan yang terdiri dari saron, demung, dan peking. 

5) Kelompok pelengkap yang terdiri dari alat musik siter (kecapi), celempung, rebab, gambang yang terbuat dari kayu, suling dari bambu, pada perkembangannya sekarang ada yang dilengkapi dengan drum dan terompet. 

Masing-masing kelompok instrumen mempunyai fungsi yang berbeda satu sama lain.

b. Fangsi Instrumen (alat musik) pada gamelan 

Setiap alat musik gamelan memiliki fungsi tersendiri. Fungsi kendang adalah Pengatur irama, tempo, dan pengatur perubahan tempo lambat dan cepat. Disebut juga sebagai konduktor atau komando. 

Fungsi instrumen pencon (kethuk, kenang, kempul, dan gong) adalah menjaga kestabilan tempo. Kebersamaan, kekompakan, kestabilan tempo dan irama sangat diperlukan agar tidak terjadi saling mendahului. 

Fungsi instrumen balungan (demung, saron, peking, dan slentbem) adalah sebagai pemangku lagu atau pembawa melodi pokok. 

Fungsi instrumen pelengkap (siter, rebab, gambang, celempung, dan suling) adalah sebagai pelengkap lagu agar terdapat komposisi bunyi musik yang harmonis. Fungsi pelengkap (pangrengga) lagu ini bisa ditambah dengan musik vokal, yaitu sinden (vokali putri), gerang (back sound pria), dan tukang keplok (tepuk tangan). 


c. Bentuk dan susunan tangga nada (laras pada musik gaamelan)

Tangga nada dalam gamelan Jawa disebut laras. Laras gamelan terdiri dua macam, yaitu laras slendro dan laras pelog. 

1. Gamelan laras slendro 

Tangga nadanya pentatonis (penta =lima, tone : nada) karena hanya memilikl lima buah nada. Susunn tangga nada gamelan laras slendro paralel dengan susunan tangga nada pentatonis nonsemitone musik umum (barat).

Susunan tangga nada gamelan berubah-ubah sesuai dengan pathet yang digunakan.

a. Pathet 6 (nem)

2 (ro) 3 (lu) 5 (ma) 6 (nem) 1 (ji) 2 (ro)

b. Pathe 9 (sanga)

5 (ma) 6 (nem) 1 (ji) 2 (ro) 3 (lu) 5 (ma)

c. Pathet Manyura

6 (nem) 1 (ji) 2 (ro) 3 (lu) 5 (ma) 6 (nem)

2. Gamelan laras pelog

Memiliki 7 buah nada yang disebut dengan tangga nada septatonis (septime = tujuh, tone = nada).

Susunan tangga nada laras slendro paralel dengan susunan tangga nada pentatonis non semitone musik umum (barat).

Susunan tangga nada laras pelog dapat berubah sesuai pathet yang digunakan. 

a. Pathet barang 

6 (nem) 7 (pi) 2 (ro) 3 (lu) 4 (pat) 5 (ma) 6 (nem)

b. Pathet lima 

5 (ma) 6 (nem) 1 (ji) 2 (ro) 3 (lu) 4 (pat) 5 (ma) 

c. Pathet enem

2 (ro) 3 (lu) 4 (pat) 5 (ma) 6 (nem) 1 (ji) 2 (ro)

Pelog lima dan pelog enem sering disebut sebagai gamelan laras pelog pathet bem. Gamelan laras slendro dan laras pelog bila dijumlahkan nada-nadanya II 5 nada + 7 nada : 12 buah nada. Jumlah nada ini sama dengan musik umum (barat) ada l2 buah nada (7 nada natural dan 5 nada kromatis). 

Perbedaan antara musik gamelan dengan musik umum (barat) dalam megiringi penyanyi (vokalis), yaitu pada musik gamelan, penyanyi harus dapat menyesuaikan suara gamelan (laras dan pathet) yang digunakan. 

Sebaliknya pada musik umum (barat) penyanyi bebas memilih nada dasarnya sesuai suara penyanyi (musik menyesuaikan penyanyi). Karena alternatif nada dasar yang ditawarkan ada 12 buah nada. yaitu:


d. Karakteristik atau keunikan ulat mualk gamelan 

Dari beberapa alat musik (instrumen), gamelan mempunyai karakteristik atau keunikan tersendiri. seperti yang disampaikan di bawah ini: 

1. Saron 

Saron merupakan salah satu dari seperangkat alat musik gamelan. 

Termasuk instrumen pukul karena cara membunyikannya dengan cara dipukul (ditabuh).

Dilihat dari segi akustiknya saron termasuk instrumen idiophone karena sumber suara berasal dari alat itu sendiri. Bilah (wilahan) bahannya terbuat dari logam (perunggu) diletakkan di atas kotak yang disebut rancakan saron. 

Ada tiga macam jenis saron, yaitu: 

a) Saron demung yang bewujud besar, suaranya besar dan rendah, 

b) Saron ricik yang bersuara sedang, 

c) Saron peking yang berbentuk kecil. suaranya melengking kecil atau 

tinggi. Nada (titi laras) sama seperti nada pada gamelan yang lain. 

2. Rebab 

Rebab adalam salah satu bagian dari alat musik gamelan. Rebab hampir terdapat di seluruh Indonesia. hanya namanya yang berbeda, misalnya DKI Jakarta menamakan rebab sebagai tehyan. Rebab dibunyikan dengan cara digesek. 

a. Bentuk rebab terbagi menjadi tiga bagian, yaitu watangan, bathokan; dan sikilan (kaki). 

l) Watangan (watang) : galah), terdiri atas: 

a) Menur dan irah-irahan, di mana bagian paling atasnya beguna sebagai hiasan. 

b) Bahu (nongol) kupingan, dan melathi yaitu bagian watangan yang berupa dua lubang kecil untuk tempat kawat yang diikat. Gunanya untuk menyetern (kendor atau kencangnya kawat).

2) Bathokan. Wujudnya mirip jantung manusia, dibuardari tempumng kelapa (bathok), namun ada yang dibuat dari kayu. Di belakang bathoknya dihiasi dengan kain sutera atau beludru yang direnda atau disulam dengan benang emas. Di bagian depannya ditutup dengan babat (kulit sapi atau kambing). Di tengah babat namanya srenten. Bathokan dan bagian tersebut mewujudkan resonator yang berguna untuk mencari nada yang dikehendaki. 

3) Sikilan (kaki), letaknya di bawah untuk menahan bathokan. Di bawahnya ada cakil, yaitu tempat untuk menambatkan kawat. Di bawah sikilan ada palemahan atau bagian terbawah, bentuknya bundar kecil. 

4) Senggreng (kosok) adalah alat untuk menggesek yang terbagi menjadi enam macam, yaitu: 

a) Bendha: srengeng bagian untuk pegangan tangan, dan 

b) Sirah baju]: bagian pucuk yang diukir berbentuk kepala buaya atau ikan siri. 

5) Rangkung adalah kayu yang menghubungkan sirah bajul dengan bendha. 

6) Bubat: bulu, rambut ekor kuda, diikatkan di bendha dan sirah bajul. Di ujungnya dibungkus dengan kain merah yang disebut lombokan. 

b. Jenis-jenis rebab 

Berdasarkan unsur rupa atau warnanya, rebab dibagi menjadi 

1) Rehab byur (satu warna), yaitu bvur ireng (hitam), byur soklat (cokelat), dan byur kuning (kuning). 

2) Rebab ponthang (dua wama), yaitu: 

a) Watangnya kuning, lainnya cokelat. 

b) Watangnya cokelat, lainnya kuning 

c) Watangnya hitam, lainnya kuning.

c. Bahan (media) rebab 

Dilihat dari bahan (media) yang digunakan, rebab dibagi menjadi tiga macam, yaitu :

1) Rehab kayu, dibuat dari bahan kayu (kayu kemuning, sana, mentaos, galih asem, dan kayu lontrok) 

2) Rebab gading, 

3) Rebab sungu (tandhuk). 

d, Fungsi rebab dalam gamelan (karawitan), yaitu: 

1) Sebagai pemimpin lagu 

2) Senggreng (gesekan dawai) laras slendro dan lartas pelog sebagai pathetan 

3) Sebagai pembukaan (buka) gendhing atau lagu.


3 Gender 

Gender adalah jenis musik gamelan yang cara membunyikannya dengan cara ditabuh (dipukul). Alat ini terbuat dari bahan logam (besi, perunggu atau kuningan) untuk bilhnya, untuk badannya dari kayu dan untuk bumbungnya dari bahan bambu.

a) Macam dan jenis gender 

Macam gender ada dua, yaitu gender gender barung (gender besar) dan gender penerus (gender kecil). Satu gender dinamakan satu pangkon atau satu rancakan.

Jenis gender terdiri dari gender selendro, gender pelog atau bem atau nem atau panunggal, dan gender pelog barang. 

b) Macam nada (titi laras) gender meliputi tiga macam, yaitu: 

1) Gender laras slendro 


2) Gender laras pelog penunggul atau bem atau nem


3) Gender laras pelog barang


c) Fungsi gender

Fungsi gender atau kegunaan gender dalam musik gamelan ada empat macam, yaitu:

1) Sebagai penuntun suara atau paduan vokalis (sinden) saat akan mulai nembang (bernyanyi) dan menuntun rebab waktu nglaras (mengambil nada).

2) Untuk pengiring atau iringan, yaitu mengiringi rebab waktu pathetan atau dalang waktu suluk (menyanyi).

3) Sebagai penyelaras lagu agar komposisinya harmonis dan sebagai pembuka (mengawali) lagu atau gendhing.

4) Mewakili membuka gendhing atau lagu bila rebab atau bonang tidak ada serta memimpin jalannya gendhing atau lagu.

Masih banyak lagi jenis alat musik gamelan yang masing-masing mempunyai karakter atau keunikan yang menarik. Musik gamelan ini banyak digunakan di daerah Jawa, Sunda, dan Bali yang pada umumnya banyak persamaan.

Hanya ada perbedaan sedikit, yaitu pada cara permainannya, antara lain sebagai berikut:

l) Gamelan Sunda adalah permainan musik yang lebih mengutamakan vokal (penyanyi atau Sinden). Lebih tampak jelas pada perminan musik kliningan (klenengan).

2) Gamelan Jawa adalah permainan musik yang seimbang antara vokal dan instrumental, tidak ada salah satu yang menonjol, keduanya seimbang (sama berat).

3) Gamelan Degung sudah dikenal sejak zaman kerajaan Padjajaran. Gamelan degung adalah gamelan tradisional/klasik daerah Sunda (Jawa Barat) yang memiliki ciri-ciri khas berupa corak lagunya yang lembut, menyayat hati, dan instrumen yang sederhana dengan tempo lambat dan kalem.

4) Gamelan Bali adalah permainan musik yang mengutamakan instrumental (permainan alat musik). Hal ini dikarenakan fungsi gamelan (musik) Bali lebih banyak digunakan untuk mengiringi gerak tarian yang dinamis dan ekspresif.

Alat-alat musik (instrumen) yang digunakan gamelan degung antara lain ialah:

a) Bonang degung yang fungsinya sebagai melodi dan instrume pengiring kala lagu dibawakan oleh suling atau rincik.

b) Rincik atau cempres adalah semacam saron dengan 17 wilah atau bilah musik pukul yang berfungsi pembawa lagu.

c) Suling degung yang berfungsi sebagai pembawa lagu.

d) Gendang indung dan kalunter fungsinya sebagai pelengkap birama. Pada umumnya musik atau gamelan degung hanya membawakan lagu-lagu secara instrumental, jarang diikuti oleh vokalis atau pesinden (penyanyi).

e) Jenglong berfungsi sebagai pembawa nada dasar, ada yang digantung atau ada yang disusun berderet seperti gender.

4. Musik Kolintang Musik kolintang merupakan musik tradisional dari daerah Minahasa. Sulawesi Utara… Musik ini berjenis idiophone, yaitu instmmen yang ditabuh atau diketuk. Musik kolintzmg tennasuk musik perkusi melodis. Tangga nada yang dipakai adalah diatonis yang mampu membawakan lagu jenis minor dan mayor serta mampu membawakan berbagai macam lagu dengan berbagai macam nada dan irama, seperti lagu-lagu daemh, lagu pop Indonesia, lagu wajib Indonesia, dan keroncong.

Pemain kolintang memainkan alat musik dengan posisi berdiri. Setiap group kolintang terdiri sekitar tujuh orang. terdiri atas melodi. ritme. pengiring. kontrabas, dan bas. Bentuk penyajian kolintang dapat berupa instrumentalia atau dengan vokalis (penyanyi). Musik kolintang juga dapat digunakan untuk mengiringi grup paduan suara.

a. Bentuk alat musik kolintang

Bentuk alat musik kolintang sama seperti gambang. saron. dan gender pada gamelan, yang setiap instrumennya terdiri dari bilahan (wilahan) yang dibunyikan dengan ditabuh (dipukul). Perbedaannya. pada musik gamelan bilahnya terbuat dari logam (besi, perunggu) dan dimainkan dengan duduk. Tangga nada (titi laras) yang dipakai adalah pelog dan slendro. yang terbatas dalam membawakan lagu-lagu. Seni musik kolintang saat ini sudah banyak dikenal masyarakat seluruh Indonesia dan dijadikan kekayaan budaya nasional.

b. Media alat musik kolintang

Bahan yang digunakan untuk membuat alat musik kolintang adalah kayu. Jenis kayu yang baik untuk membuat kolintang adalah kayu banderan yang terdapat di hulu sungai daerah pegunungan Lembean Minahasa. Kayu yang lain adalah kayu walesi, kayu wolo, kayu telor, kayu mawenang, kayu wiutangar, dan kayu waru. Kayu tersebut digunakan untuk bahan pembuat wilahan (bilahan). Adapun untuk tempatnya yang berbentuk kotak (box) dapat dibuat dari kayu jati, kayu kalimantan atau kayu lain yang berkualitas.

5. Gambang Kromong

Gambang kromong merupakan grup musik jenis orkes yang merupakan perpaduan (campuran) musik gamelan dengan musik Barat (Eropa) dengan menggunakan tangga nada pentatonis Tionghoa.

Gambang kromong adalah musik tradisional khas Betawi. Awal mulanya musik ini dimainkan oleh penduduk asli Betawi dengan orang-orang keturunan Tionghoa yang berdomisili di perkampungan. Bentuk musiknya masih sangat sederhana. Lagu dimainkan dalam irama gambang, sedangkan pembawa melodi dari alat musik rebab dan biola.

Perkembangan komposisi (susunan) instrumen gambang kromong meliputi:

a. Alat musik gamelan yang menggunakan gambang, rebab, bonang, seruling, gendang, tehyan (seperti rebab), dan gong.

b. Alat musik barat yang menggunakan terompet, piccolo, gitar, biola, dan saksofon.

Permainan orkes ini dilengkapi dengan vokalis (penyanyi atau biduan) pria dan wanita. Lagu-lagu yang dibawakan berirama gambang yang bersifat humor dengan pantun yang menarik beirisi kritikan atau sindiran. Lagu-lagu gambang kromong yang terkenal, antara lain: “Jali-jali”, “Kicir-kicir”, dan “Ondel-ondel”. Tokoh musik ini, antara lain Benyamin S. dan Jaja Mihaija.

6. Musik Angklung

Angklung adalah musik tradisional atau musik daerah dari Jawa Barat atau daerah Sunda. Seluruh instrumen (alat musik) ini dibuat dari bahan bambu. Angklung digolongkan sebagai alat musik idiofon, artinya alat musik yang mengeluarkan bunyi atau nada dari “badannya sendiri” bila dipukul atau disentuh. Contoh alat musik idiofon lain adalah gong, tamborin, gambang, gender, saron bonang.,triangel, dan kendang atau gendang drum.

a. Musik angklung sudah dikenal sejak abad XVI yang pemakaiannya digunakan untuk :

1) Memeriahkan acara pesta perkawinan dan hajatan

2) Memeriahkan pesta panen padi

3) Alat tabuh tradisional ronda malam (siskamling),

4) Media pendidikan musik.

Alat musik ini terdapat dua bagian penting yang menentukan tinggi rendahnya nada. yaitu:

(a) Sumber nada dari bambu itu sendiri, dan

(b) Resonator dari udara yang terdapat di dalamnya.

Nada yang digunakan pada awalnya adalah nada pentatonic (5 nada). Selanjutnya, pada tahun 1928. Pak Daeng Sutigna seorang tokoh" musik dari Bandung mengubah nada pentatonic menjadi nada diatonic, dan meliputi diatonic mayor dan diatonic minor. Pada tahun 1947, dia mengadakan pergelaran orkes angklung pertama kali yang dimainkan Pramuka Linggarjati. Sejak itu, musik angklung mulai dikenal dan berkembang di Indonesia. Akhirnya, pada 23 Agustus 1968, angklung diresmikan sebagai alat pendidikan musik di Indonesia.

Pada saat ini musik angklung bahkan sudah dikenal di luar negeri dan banyak orang-orang mancanegara yang tertarik mempelajarinya.

b. Seperangkat alat musik (instrumen) angklung jenisnya terdiri dari:

1) Angklung melodi terdiri dari:

a) Melodi kecil (1 sampai dengan 30) dengan nada g kecil sampai dengan garis tiga. dan

b) Melodi besar (G besar sampai dengan fis kecil).

2) Angklung pengiring (accompagnement). terdiri dari:

a) Mayor (4 tabung). dan

b) Minor (3 tabung).

3) Angklung bas (Contra Gbas)

4) Angklung contra accompagnement, bentuknya sama seperti angklung pengiring, hanya nada oktaf lebih tinggi.

c. Kelompok unit angklung ada tiga macam, yaitu:

1) Satu unit instrumen angklung kecil, terdiri dari :

a) Dua set angklung melodi kecil (g kecil sampai dengan a garis dua atau g sampai dengan a”) memiliki 27 nada,

b) Satu set angklung melodi besar (C besar sampai dengan fis kecil),

c) Satu set angklung accompagnement (8 buah)

(1) Mayor: C7 G7 F7 D7 Bes7

(2) Minor: A minor D minor G minor atan E minor

Untuk lebih lengkapnya dapat ditambah contra accompagnement yang susunannya sama dengan accompagnement.

2) Satu unit angklung sedang, terdiri dari:

a) Dua set angklung melodi kecil (l sampai dengan 27 buah).

b) Satu set angklung melodi (G besar sampai dengan fis kecil).

c) Satu set angklung accompagnement sebanyak 13 buah

(l) Mayor: C7 - D7 - E7 - G7 - A7 Bes7 - B7

(2) Minor: A minor - D minor - E minor - G minor - B minor. Bila ingin lebih ditambah dengan contra accompagnemem.

3) Satu unit musik Angklung Besar, terdiri atas:

a) Dua set angklung melodi kecil (l sampai dengan 30 buah).

b) Satu set angklung melodi besar (G besar sampai dengan lis kecil)

c) Satu set angklung accompagnement sebanyak 24 buah.

(1) Mayor C7 - Cis7 - D7 - Dis7 - (12 buah)

(2) Minor Cminor - Cis minor - D minor - (12 buah)

d. Teknik membunyikan angklung

Teknik atau cara membunyikan alat musik angklung melodi adalah sebagai

berikut:

1) Tabung kecil ditempatkan di sebelah kiri, tabung besar ditempatkan di sebelah kanan

2) Tangan yang digunakan untuk memegang angklung adalah tangan kiri pada silang tiang tengah dan digerakkan dengan tangan kanan pada sudut bawah sebelah kanan. Waktu menggerakkan angklung, bahu tidak ikut bergerak.

Alat musik angklung memerlukan perawatan khusus. Untuk menyimpan dan menempatkannya, sebaiknya dengan dibuat gabungan khusus. Usahakan jangan sampai jatuh atau pecah. Sepanjang hanya dipakai biasa, angklung tak mudah rusak.

e. Bermain Angklung

Memainkan alat musik angklung sebenarnya tidak terlalu sulit. Asal kita mau berlatih dengan tekun serta penuh perhatian. Setiap pemain bisa memegang sebuah angklung atau dua buah angklung bila jumlah pemainnya sedikit.

Latihan awal bermain angklung dapat dilakukan dengan cara sebagal benkut :

1. Membunyikan bersama secara serentak seluruh kelas, dengan aba-aba awal dan akhir.

2. Memainkan tangga nada naik-turun dengan berbagai variasi

3) Memainkan nada secara legato, staccato, lunak, dan keras.


4) Menyanyikan lagunya terlebih dahulu untuk mengenal irama dan biramanya.

5) setiap pemain diharapkan hafal seluruh not, dapat membaca not.

6) Menguasai lagu gabungan angklung. Selama bermain diperlukan kerja sama yang kuat. kesadaran. konsentrasi, dan disiplin.

f. Perkembangan musik angklung

Dalam sejarah seni musik, angklung mengalami perkembangan dan inovasi selaras perkembangan zaman dan majunya iptek serta pengaruhnya.

Baca juga di bawah ini


Pergelaran Teater Tradisional dan Teater Kreasi

D. Lagu-lagu Daerah Setempat (Tradisional)

Lagu-lagu daerah sering disebut dengan lagu rakyat, yaitu lagu yang berasal dan lahir dari tradisi rakyat atau budaya daerah setempat. Tanah air kita kaya akan lagu-lagu daerah. Lagu-lagu (nyanyian) daerah pada umumnya dipelajari dari anggota keluarga. tetangga, dan masyarakat sekitar yang diwariskan secara turun-menurun.

Lagu daerah tidak dikenal siapa penciptanya karena lagu ini adalah milik bersama. Setiap orang dengan mudah dapat menyanyikan lagu tersebut, karena untuk mempelajari sebuah lagu tidak diperlukan pengetahuan musik (dapat membaca dan menulis not balok). Dengan adanya kemajuan Iptek melalui media elektronik (TV. radio. CD, dan kaset). kita dapat mendengarkan banyak lagu daerah di wilayah Indonesia. yang umumnya memikat pendengar dan pemerhati karena lagu-lagu daerah tersebut mengandung nilai-nilai keindahan (estetis) yang unik dan khas. Terkadang kita menemui kesulitan karena tidak atau kurang mengerti dialek atau bahasa daerah setempat. Lagu itu sulit dinyanyikan karena teks dan tangga nadanya berbeda. Namun, kesulitan ini dapat diatasi dengan diterjemahkannya lirik lagu daerah dalam bahasa Indonesia dan dengan mempelajari teori musik (not, susunan tangga nada, birama, dan tempo).

1. Ciri-ciri Lagu Tradisonal/Daerah Setempat 

Ciri-ciri lagu daerah ialah sebagai berikut:


a. Lagu dan musiknya bersifat sederhana,

b. Jarang diketahui siapa nama pencipta lagu,

c. Mengandung unsur kebersamaan atau sosial.

d. Menggambarkan keadaan kehidupan masyarakat dan lingkungan-nya.

e. Isi laga sesuai dengan keadaan masyarakat yang dijiwai budaya setempat.

2. Macam-Macam Lagu Tradisonal Setempat 

Hampir di seluruh daerah di wilayah Republik Indonesia memiliki lagu-lagu tradisional atau lagu daerah setempat. Lagu-laga tersebut dinyanyikan secara turun-menurun oleh masyarakat setempat. Karena pengaruh globalisasi dan kemajuan teknologi informasi melalui TV. radio. surat kabar, majalah, CD/ LCD. kaset maka lagu-lagu tradisional setempat tersebut dapat dikenal dan diterima oleh bangsa Indonesia. bahkan bangsa-bangsa manca negara. Beberapa lagu tradisonal/daerah setempat yang terkenal disampaikan judul lagunya seperti berikut ini:

Judul lagu-lagu tradisonal (daerah) setempat di Indonesia.

a. Daerah Jawa Barat

1. Sapu Nyere Pegat Simpai, 2. Bubuy Bulan, 3. Tokecang Cing, 4. Rayak-rayak, 5. Cangkeling, 6 Panon Hideung, 7. Manuk Dadali

b. Dearah Jawa Tengah

1. Suwe Ora jamu, 2. Tekate Dipanah, 3. Kupu Putih, 4. Gek Kepriye, 5. Pitik Tukung, 6. Gundul Pacul, 7. Sinom, 8. Gambang Suling, 9. Pitik Cilik, 10. Lir-ilir.

c. Daerah Madura

1. Kerban Sape, 2. Tanduk Majeng.

d. Daerah Jawa Timur

1. Tamba Ati. 2. Rek Ayo Rek, 3. Ande-ande Lumute.

e. Daerah Kalimantan Barat

1. Cik-cik Periok

f. Daerah Kalimantan Tengah

1. Ting Dodaiy, 2. Turnpi Wayu, 3. Naluya. 4. Kalayar, 5. Palu Lempang Pupoi

g. Daerah Kalimantan Selatan

1. Ampar-ampar Pisang, 2. Sapu Tangan Bapuncu Ampat. 3. Past! Barantai.

h. Daerah Sulaesi Utara

l. O Ina Ni Keke, 2. Tahanusangkara, 3. Si Patokaan, 4. Esa Mokan

i. Daerah Sulawesi Selatan

1. Pakarena, 2. Ma Rencong

j. Daerah Sulawesi Tengah

1. Tondok Kadadingku

k. Daerah Bali

1. Macepet Cepetan, 2. Dewa Ayu, 3. janger

l. Daerah NTT, Timor

1. 1qu Koda, 2. Desaku, 3. Pai Mura Rame, 4. Moree

m. Daerah Aceh

1. Piso Surit, 2. Bungong Jeumpa

n. Daerah Tapanuli

l. Madekdek Magambiri. 2. Dago Inang sarge, 3. Butet, 4. Sitara Tillo, 5. Sinaggar Tullo, 6. Sengko, 7. Na Sonang do Hita na Dua, 8. Rambadia, 9. Sing Sing So, 10. Anju Ahu, 11. Mariam Tomong.

o. Daerah Sumatra Timur

1. Selendang Mayang, 2. Injit-injit Semut, 3. Timang-Timang Anakku Sayang, 4. Pinang Muda

p. Daerah Sumatra Barat

1. Kambanglah Bungo, 2. Kampuang Nan Jauh di Mato, 3. Rang Talu, 4, Paku Gelang, 5. Malam Baiko, 6. Bareh Solok, 7. Dayung Palinggam, 8. Ayam Den Lapeh, 9. Ka Parak Tingga, 10. Mak Inang.

q. Daerah Sumatra Selatan

1.Mutigh Tighau, 2. Dek Sangke, 3. Tari Tanggai

r. Daerah Riau

l. Tudung Saji, 2. Lancang Kuning, 3. Soleram.

s. DKI Jakarta

1. Ronggeng, 2. Surilang, 3. Kicir-kicir, 4. Jali-jali, 5. Keroncong Kemayoran.

t. Daerah Maluku

1. Sudah Berlayar, 2. Sayang Kene, 3. Lembelembe, 4. Nailnaik ke Puncak Gunung, 5. Kolekole, 6. Huhatee, 7. Gunung Ssalahatu. 8. Waktu Hujan Sore-sore, 9. Burung Kakatua, 10. Ole Sioh, 11. O Ulate, 12. Saule, 13. Sarinande, 14. Goro-gorone, 15. Burung Tantina, 16. Buka Pintu, 17. Ayo Mama.

u. Daerah Papua .

l. Yamko Rambe Yamko, 2. Apuse.

Untuk mengenal lebih dekat lagu-lagu daerah Nusantara, berikut ini diberikan partitur (teks lagu) dengan terjemahan bahasa Indonesia, agar mudah dimengerti, dihayati, dan dinyanyikan.

Postingan populer dari blog ini

Arti makna Nefo dan Oldefo

Federasi Malaysia nantinya beranggotakan semua bekas jajahan Inggris di wilayah Asia Tenggara. Usaha pembentukan Federasi Malaysia juga mendapat dukungan dari pemerintah Inggris, khususnya dan negara-negara Barat pada umumnya. Pemerintah Indonesia yang ketika itu dipimpin oleh Presiden Soekarno melihat pembentukan Federasi Malaysia menyatakan bahwa itu merupakan bentuk kolonialisme baru.
Apalagi, pada saat itu berkembang wacana The New Emerging Forces (Nefo) melawan The Old Established Forces (Oldefo). Nefo adalah lambang kelompok negara-negara yang baru merdeka atau yang menentang imperialisme dan kolonialisme, sosialisme, serta komunis.

Pengertian Nefo, Oldefo, Ganefo

Oldefo adalah lambang negara-negara yang telah mapan dan melaksanakan imperialisme dan kolonialisme/kapitalisme dan negara sedang berkembang yang cenderung pada imperialisme/kolonialisme. Dengan demikian apapun bentuknya imperialisme dan kolonialisme harus dihapuskan.
Pada umumnya hubungan antara negara-negara yang bar…

Materi kandungan Q.S. Yunus ayat 101 dan Q.S. Al-Baqarah ayat 164

a. Kandungan Q.S. Yunus ayat 101
1. Allah SWT menyerukan kepada Rasulullah SAW, orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan agar mereka mau memperhatikan dan berpikir tentang jagad raya ini.


2. Di jagad raya Allah SWT telah menciptakan bintang, bulan, matahari, bumi, langit, asteroid, planet, dan lain-lain.
3. Allah SWT menciptakan matahari dengan sinarnya yang terang hanyalah satu dari sekitar 100 miliar bintang yang terdapat dalam galaksi Bimasakti.
4. Allah SWT telah menciptakan planet, komet, asteroid, meteor, dan satelit yang mengorbit, sebagai benda-benda langit yang senantiasa mengelilingi matahari.
5. Dialah Allah SWT yang menciptakan bumi ini untuk seluruh makhluk yang hidup dan berkembang biak di dalamnya yang memiliki jarak 149.600.000 km antara bumi dan matahari.
b. Kandungan Q.S. Al-Baqarah ayat 164
1. Langit terdiri dari berbagai jenis benda-benda yang berkelompok. Setiap kelompok memiliki tatanannya sendiri secara beraturan dan setiap satuan da…

Beberapa pendapat peristiwa G 30 S/PKI

Menurut Cleren W. Hall dalam Readers Digest edisi November 1996 peristiwa G 30 S/PKI sebagai manuver PKI dan Sukarno untuk melanjutkan skenario politik yang telah mereka susun selama Demokrasi Terpimpin . Versi ini menyimpulkan bahwa Sukarno dan PKI dalang dibalik peristiwa tersebut.
Menurut Benedick Richard Ogusman Anderson dan Ruth Mc. Key yang dikenal sebagai Curnell Paper. Sebuah artikel yang menyimpulkan peristiwa G 30S/PKI adalah peritiwa listen AD dan PKI bukanlah dalangnya.

Sedangkan Peter Dele Scott, menulis dalam Pasific Affairs (1984), bahwa CIA adalah dalang dibelakang G 30 S/PKI. Sementara Kathy Kadene, wartawati kantor berita State New Servis AS, menyatakan bahwa CIA telah memberikan 5000 nama tokoh PKI kepada Angkatan Darat 1965 yang kemudian dibunuh akibat kegagalan G 30 S/PKI.
Kemudian menurut buku putih yang diterbitkan oleh Sekneg mengungkap keterkaitan Presiden Soekarno tidak dinilai sebagai aktor pasif. Presiden Soekarno hanya memberi peluang PKI untuk memenuhi a…