Konsep Apresiasi Seni Rupa

Seni adalah ciptaan manusia dan selalu ada dalam segala lapisan masyarakat sejak zaman Prasejarah sampai sekarang. Ditinjau dari aspek kehidupan manusia, seni selalu dikaitkan dengan fungsi, namun setelah mengenal religi, seni berubah fungsi sebagai sarana pemujaan. Setelah zaman Renaissance, seni berusaha keluar dari keperluan religi sehingga muncul semboyan “Seni untuk Seni”. Sifat seni yang universal memiliki kedudukan yang berubahubah sesuai dengan perubahan pola hidup manusia sendiri, namun seni tetap berperan dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah manusia sendiri.

Kegiatan penciptaan karya seni harus dibedakan dari kegiatan yang lain karena seni memiliki sifat yang lain dan lebih istimewa. Penciptaan karya seni selalu diikuti idealisme penciptanya, sebagai contoh tokoh aliran seni lukis realisme Indonesia, Basuki Abdullah yang setiap melukis objek wanita selalu lebih cantik dari modelnya; melukis wanita memanen padi dibuat dengan model wanita cantik bersih dari lumpur sawah. 

Dapat dikatakan bahwa seni pada dasarnya adalah kegiatan menangkap objek atau peristiwa di sekitar kita dan memberi kesan tersendiri baik visual maupun nonvisual.

Konsep Apresiasi Seni Rupa

Berikut adalah batasan seni menurut bebeiapa pakar seni dan budayawan yang cenderung memadai. 

l. Plato, Lessing, dan JJ Reusseau berpendapat bahwa seni pada hakikatnya adalah peniruan alam dengan segala segi-seginya. Seni yang dihasilkan tentu saja sifatnya naturalistis, artinya ketepatan bentuk alam sangat diutamakan dalam penciptaannya. 

2. Aristoteles murid Plato yang patuh menambahkan bahwa peniruan terhadap alam itu harus ideal, maksudnya di dalam menciptakan seni yang berpijak pada bentuk alam itu hasil seninya sehingga lebih indah daripada yang ditiru. Aristoteles banyak menjiwai seni budaya Yunani klasik. 

3. Poul Klee memberi batasan bahwa seni bukan sekadar refleksi hal-hal yang kasat mata, bahkan dari inner world (alam batin/alam kejiwaan) yang semula tidak tampak menjadi tampak. Paul Klee bertolak dari pendapat bahwa dalam penciptaan seni yang utama adalah penuangan kehidupan batin sehingga menjadi hasil seni yang mempunyai nilai estetis. 

4. Herbert Read memberi batasan tentang seni sangat singkat bahwa seni adalah ekspresi. Dalam hal ini, Herbert Read mengutamakan aktivitas seniman dari pembentukan ide seni sampai pada pernyataannya. Aktivitas tersebut ada tingkatannya, yang pertama aktivitas mengamati kualitas material, warna, suara, sikap dan banyak lagi reaksi-reaksi fisis lainnya. Aktivitas kedua adalah menyusun hasil pengamatan sehingga menjadi ide seni atau pola seni. Aktivitas ketiga adalah menghubungkan ide (hasil persepsi/pengamatan) dengan emosi atau kehidupan perasaan yang kemudian dinyatakan dalam bentuk seni. 

5. Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa seni merupakan perbuatan manusia yang timbul dari hidup perasaannya dan bersifat indah sehingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia. 

Berdasarkan pendapat ini dapat diambil pengertian bahwa dalam seni jelas adanya kegiatan batin atau perasaan untuk menggerakkan jiwa orang lain sesuai dengan perasaan yang dikandung 'oleh penciptanya. Pencipta bermaksud mengadakan komunikasi kepada orang lain lewat hasil seninya. 

6. Achdiat Karta Mihardja memberikan batasan seni sebagai berikut, seni adalah kegiatan rohani manusia yang merefleksikan ralitas dalam suatu karya yang berkat bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitan pengalaman tertentu dalam rohani penerimanya. 

Dengan demikian, seni mempunyai dua aspek, yaitu aspek ke dalam yang merupakan kegiatan pencipta membentuk ide seni atau dengan kata lain disebut kegiatan mencipta. Kedua adalah aspek keluar yang merupakan efek rohaniah kepada penerima, yaitu aspek pengaruh dari hasil seni. 

7. Drs. Sudarmaji memberi batasan bahwa seni adalah segala manifestasi batin dan pengalaman estetis dengan media garis, warna, tekstur, volume, dan ruang. Batasan Drs. Sudarmaji ini pada dasarnya sama dengan batasan Achdiat Karta Mihardja dan ahli seni yang lain, tetapi Sudarmaji mengkhususkan pada bidang seni rupa.

8. Di dalam buku Salah Asuhan karangan Abdul Muis, seni diartikan halus, demikian pula pada buku Sejarah Melayu.

9. I Gede Bagus Sugriwa menerangkan bahwa menurut etimologi kata seni berasal dari bahasa Sansekerta Sani yang berarti penyembahan, pelayanan, atau pemberian. Hal itu dihubungkan dengan kepentingan bahwa seni bertalian erat dengan keagamaan.

10. Schopenhouer mengajukan batasan seni bertolak dari seni musik bahwa seni adalah suatu usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan. Menurut Schopenhouer, semua seniman mempunyai tujuan yang sama yaitu menyenangkan. Sebagian orang tentu senang pada seni musik, pun seni musik adalah seni yang paling abstrak. Hampir di dalam seni musik, seniman mempunyai kemungkinan untuk menarik perhatian publik secara langsung tanpa intervensi medium komunikasinya yang sering juga dipakai untuk maksud-maksud lain. Hanya seorang komponislah yang betul-betul bebas menciptakan hasil seni sesuai dengan kesadaran sendiri dan tanpa tujuan lain kecuali untuk menyenangkan.

11. Ensiklopedia Indonesia menyebutkan bahwa seni/kesenian meliputi penciptaan dari segala hal atau benda yang karena keindahan bentuknya, orang senang melihatnya atau mendengarkannya.

Everyman Encyclopedia menyebutkan pula bahwa seni adalah sesuatu yang dilakukan orang bukan karena kebutuhan pokok melainkan segala sesuatu yang dilakukan karena kemewahan, kenikmatan, atau kebutuhan spiritual.

Dua pernyataan tersebut boleh dikatakan sama dengan batasan yang diberikan oleh Schopenhouer bahwa tujuan seni terutama untuk kesenangan, kenikmatan, atau kebutuhan spiritual.

1. Jenis-Jenis Karya Seni Rupa 

a. Seni rupa berdasarkan jenis matra dibagi menjadi dua, yaitu: 

1) Seni rupa dwimatra (dua dimensi) yaitu karya seni rupa berbentuk datar atau dua ukuran (panjang dan lebar) yang hanya dapat dipandang dari arah depan saja, misalnya gambar atau lukisan.

2) Seni rupa trimatra (tiga dimensi) dapat dipandang dan dinikmati dari berbagai sisi (arah pandangan). Seni rupa trimatra memiliki ukuran panjang, lebar , tinggi dan volume. Sebagai contoh, seni patung, keramik, dan seni bangun (arsitektur).

b. Karya seni rupa menurut teknik pembuatannya (garapannya) terdiri dari :

1) teknik handmade (buatan tangan);

2) teknik masinal (dikerjakan mesin);

3) teknik komputer.

c. Karya seni rupa berdasarkan alirannya

Dari segi alirannya, karya seni rupa dibedakan menjadi naturalisme, realisme, surealisme, ekspresionisme, impresionisme, primitifisme, dan abstrak (non figurtive).

d. Karya seni rupa ditinjau dari sisi tujuannya dibedakan menjadi dua, yaitu karya seni murni dan karya seni terapan.

1) Karya seni murni diciptkan sebagai sarana atau media berekspresi, rekreasi, terapi, dan komunikasi.

2) Karya seni terapan diciptakan untuk tujuan fungsional (untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis).

2. Unsur-unsur Seni Rupa

Pada prinsipnya dalam berkarya seni rupa harus diperhatikan unsur-unsur antara satu dengan lainnya yang saling berkaitan sehingga dapat menghasilkan karya yang lebih bermakna. Hal-hal tersebut adalah:

a. Titik

Titik merupakan unsur yang terkecil atau sering disebut noktah. Sebuah titik bila dikumpulkan akan menjadikan bentuk lain yang lebih berarti. Suatu contoh kumpulan titik-titik menghasilkan sebuah lukisan atau gambar tertentu yang disebut Pointtelisme.

b. Garis

Merupakan coretan atau dapat diartikan menjadi beberapa pengertian.

1) dua titik yang dihubungkan menjadi satu

2) coretan yang ditarik dari awal hingga akhir

3) batas antara gelap dan terang.

Dalam seni rupa garis merupakan satu faktor yang menonjol, kekuatan atau goresan menandakan ketegasan dan kematangan dalam berkarya; suatu contoh lukisan-lukisan Ekspresionismenya Affandi jelas kekuatan garis sangat menonjol. Di antara teknik gambar bentuk adalah teknik arsir. yaitu teknik dengan cara menumpuk garis-garis sehingga menimbulkan kesan dimensi ruang atau gelap terang.

c. Bidang

Suatu bentuk dengan ukuran luas atau sesuatu yang dibatasi oleh garis dalam dunia ilmu pengetahuan, kita mengenal banyak bidang seperti lingkaran. segitiga. bujur sangkar, dan jajaran genjang.

d. Ruang Ruang ialah sesuatu yang memiliki volume.

e. Tekstur

Tekstur ialah kesan rasa yang ditimbulkan permukaan suatu benda yang dengan meraba akan timbul rasa, seperti halus, kasar, dan bergelombang. Tekstur dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:

1) Tekstur nyata adalah kesan rasa yang ditimbulkan oleh permukaan benda aslinya.

2) Tekstur semu adalah kesan rasa yang ditimbulkan oleh permukaan benda tiruannya dalam bentuk dua dimensi.

f. Gelap terang

Gelap terang merupakan unsur yang paling menonjol karena akan menimbulkan kesan ruang atau dimensi sehingga bentuk yang dua dimensi akan terkesan tiga dimensi.

3. Fungsi dan Tujuan Seni 

Pada dasarnya seni diciptakan untuk memenuhi kebutuhan emosional individu maupun kelompok. Pada Zaman Purba, manusia telah mengenal seni yang fungsi dan tujuannya untuk memenuhi kebutuhan emosional dalam kepercayaan sehingga dimanfaatkan sebagai sarana pemujaan dan upacara tertentu. Fungsi seni dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:

a. Fungsi individual, seni diciptakan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional penciptanya.

b. Fungsi sosial, seni diciptakan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional orang banyak.

4. Cabang-Cabang Seni 

Tuhan menciptakan otak manusia menjadi dua bagian, bagian kanan untuk berpikir dalam bentuk yang eksakta, bagian kiri untuk berkreasi dan berimajinasi. Oleh karena itu, bersyukurlah kita sebagai makhluk berbentuk manusia karena setiap manusia pada prinsipnya memiliki bakat berolah seni.

Seni digolongkan menjadi lima, yaitu seni rupa, seni tari, seni sastra, dan seni drama atau teater.

a. Seni rupa

Cabang seni diekspresikan melalui media dua dimensi dan tiga dimensi. Dua dimensi ialah suatu bentuk yang memiliki ukuran panjang dan lebar atau memiliki luas dan hanya dapat dilihat dari satu arah, seperti peta, lukisan, dan foto. Tiga dimensi adalah suatu bentuk yang memiliki ukuran, panjang, lebar, dan tinggi atau memiliki volume, seperti patung, gedung, dan batu.

Cabang-cabang seni rupa ada beberapa, yaitu seni lukis, seni patung. seni grafis, seni ilustrasi, seni dekorasi, dan seni kriya atau kerajinan.

Berdasar fungsinya, senirupa dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu seni mumi/fine art dan seni pakai/terapan/applied art.

b. Seni rupa mumi (fine art)

Dei'tnisnya ialah penjabaran ekspresi dan ide melalui unsur-unsur seni rupa. yang berfungsi sebagai hiasan semata dan hanya menimbulkan kepuasan batin karena bertujuan untuk kepentingan estetika.

Jenis karya seni rupa murni, antara lain seni lukis dan seni patung, sedangkan cabang yang lain yang lebih banyak untuk kepentingan praktis.

- Seni mpa terapan (applied art) Karya seni yang digunakan untuk mempercantik benda-benda pakai tanpa

mengurangi fungsi dan kegunaan benda yang bersangkutan, namun justru menambah keindahan benda tersebut.

Indonesia dengan beribu-ribu pulau dan tiga ratus lebih suku bangsa menjadikan negara ini kaya budaya dan keseniannya, dari sisi seni kriya hampir setiap suku memiliki spesifik seni kerajinan yang berbeda-beda.

Baca juga selanjutnya Pergelaran Teater Tradisional dan Teater Kreasi

B. Apresiasi Karya Seni Rupa

1. Pengertian Apresiasi Seni 

Apresiasi seni ialah suatu proses penghayatan suatu karya seni yang diamati dan penghargaan pada karya seni itu sendiri serta penghargaan pada pembuatnya. Apresiasi dilihat dari sudut bahasa berasal dari bahasa Inggris dari kata appreciation dengan kata kerja to appreciate, yang berarti menentukan atau menunjukkan ,nilai atau menilai, menilai bobot karya, menikmati, kemudian menyadari kepekaan rasa dan menghayati. Secara umum, apresiasi dapat diartikan sebagai kesadaran menilai lewat penghayatan suatu karya seni.


Penghayatan dalam proses apresiasi seharusnya dilakukan oleh seseorang tanpa prasangka (objektif). Jika proses apresiasi timbul prasangka, penilaian pada suatu karya tidak akan objektif dan berakibat pada penolakan secara emosional terhadap suatu karya seni. Proses apresiasi dapat berjalan apabila pengamat dapat melakukan "wawancara" dengan seniman lewat karya seninya karena karya seni merupakan bahasa simbol. Hal tersebut dapat dilihat dari bentuk, warna, dan isi sesuai dengan ide seniman yang bersangkutan.

Kadangkala antara pengamat dan seniman dalam menerjemahkan atau menginterprestasikan suatu karya seni terjadi ketidaklancaran komunikasi dan sering terjadi selisih pendapat. Sebagai contoh, lahirnya aliran seni lukis “lmpreslonisme”, berawal dari "ejekan" sekelompok pengamat yang memberi kesan pada lukisan karya Pablo Picasso dengan kata “kesan sesat". Adanya berbagai tanggapan yang berlainan tidak mengurangi arti beraprcsiasl karena kehidupan kreatif pengamat terhadap nilai atau bobot mutu karya seni tidak selamanya sama dengan kreativitas.

Pemasalahan di atas menunjukkan bahwa seseorang dalam berapresiasl seni seharusnya objektif, tetapi dalam kenyataannya kita sulit melepaskan sikap subjektif. Akibatnya. sebuah karya seni akan mendapat penilaian yang berbedabeda bagi setiap orang. Hal ini disebabkan oleh kemampuan apresiator berbedabeda. Semakin banyak apresiator. semakin banyak pula perbedaan dan tanggapan akan sebuah karya seni.

2. Proses Apresiasi Seni 

Proses apresiasi seni terbentuk dari dua kemungkinan. Pertama. apresiasi afektif yang terjadi apabila pengamat seni cepat mengalami empati dan rasa puas. Apresiasi afektif tidak mencakup hal-hal yang logis. Kedua. apresiasi kreatif, adalah pengamat seni sadar dalam melakukan penghayatan dan penilaian serta menggunakan aspek logika dalam menentukan nilai suatu karya seni.

Apresiasi afektif dapat digolongkan dengan kata lain orang-orang yang hanya dapat menikmati karya secara langsung dengan kata baik, bagus, jelek, dan sejenisnya, tanpa didasarkan pada logika, tidak dapat menjelaskan letak baik dan jeleknya suatu karya. Apresiasi kreatif dilakukan melalui proses pengamatan, pemahaman, tanggapan, penilaian, sampai penghayatan pada sebuah karya seni.

Menurut Verbeek, pengamatan bukanlah menggunakan satu indra saja, melainkan pemberdayaan seluruh pribadi. Artinya, pengamatan bukanlah merupakan penjumlahan dari penginderaan, tetapi satu dunia kejiwaan yang terorganisir. Ketajaman pengamatan seseorang tergantung pada pengetahuan, pengalaman, perasaan, keinginan, dan anggapan seseorang. Pengamatan terhadap sebuah hasil karya seni merupakan pengamatan terhadap suatu objek yang terdiri dari totalitas yang penuh arti.

Apresiasi kreatif melalui beberapa tahapan khusus, antara lain:

a. pengamatan objek karya seni;

b. aktivitas fisiologis;

c. aktivitas psikologis (terjadinya persepsi sampai evaluasi, kemudian timbul interprestasi, imajinasi, dan dorongan berbuat kreatif);

d. aktifitas penghayatan;

e. aktivitas penghargaan.

Dengan demikian, proses apresiasi ialah proses aktif dan kreatif sehingga secara efektif pengamat dapat memahami nilai seni, yaitu untuk mendapatkan pengalaman estetik. Apresiasi seni menuntut keterampilan dan kepekaan estetik yang memungkinkan seseorang mendapatkan pengalaman estetik dan penghayatan karya seni.

Estetik dan Artistika ialah dua kata yang selalu ada dalam dunia seni. Estetika ialah keindahan, keindahan wujud karya yang dapat menarik perhatian orang lain. Pengalaman artistik adalah pengalaman yang didapat melalui kegiatan berolah seni, kegiatan dalam mencipta karya seni. Orang yang berolah seni dikatakan seniman, sastrawan, penggubah, komponis, penganggit, dan lain lain.

Seorang pelaku seni tidak cukup hanya memiliki ketajaman rasa dan cepat mengolah imajinasi, namun juga diperlukan pemusatan perhatian terhadap karya yang dibuat, ketekunan daya imajinasi dan fantasi yang tinggi, daya nalar dalam berpikir yang tajam, dan pengalaman dalam dunia seni sehingga tuntutan berolahkarya dapat melahirkan hasil yang memiliki nilai seni yang mampu memiliki daya saing.

Pengalaman Estetika adalah pengalaman yang diperoleh dari kegiatan mengamati seni, dari pengalaman tersebut dapat menyerap dan menangkap nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah karya seni sehingga dapat menghargai karya seni secara objektif. Pengamat seni disebut apresiator, pemerhati, atau kritikus.

Dalam proses pengamatan seni dibutuhkan kemampuan memusatkan perhatian. kepekaan perasaan, daya fantasi yang tinggi, kepekaan menangkap rangsangan dan karya sem. dan mampu menilai secara tepat dan benar.

Kemampuan berapresiasi yang benar selalu diawali dengan kegiatan pengamatan yang benar pula.

Proses pengamatan terjadi tiga tahapan, yaitu:

a. Tahapan fisis

Proses kegiatan awal dengan cara melihat, mendengar dengan indra, kemudian menerima rangsangan yang bersangkutan.

b. Tahapan fisiologis

Proses tahapan ini merupakan kegiatan yang berlanjut dari melihat atau 'mendengar kemudian menyalurkan ke syaraf otak manusia.

e. Tahapan psikologis

Proses tahapan ini terjadi reaksi sebagai aktivitas rasa sehingga mengenali objek yang sedang diamati.

3. Manfaat Apresiasi 

Dalam keadaan bagaimanapun, seni selalu hadir dan diperlukan oleh masyarakat . Dari masyarakat primitif sampai masyarakat modern, seni selalu memainkan peranan yang sangat penting. Perkembangan masyarakat modern menyebabkan seni selalu memainkan peranan yang sangat penting. Perkembangan masyarakat dengan budaya modern memerlukan pendidikan seni sebagai penyeimbang pola pikir dan hidup yang serba matrealis. Seni dapat membuka pandangan masyarakat tentang dunia yang kongkrit, unik dan menakjubkan. Dalam era modern, seni tidak hanya dinikmati dalam waktu senggang. Seni tidak hanya mengasyikkan sebagian orang yang mempunyai perasaan dan instuisi tertentu, tetapi seni mengandung pesan atau misi untuk menyampaikan nilai dari pengalaman estetika seniman, seni mendidik ke arah kreativitas artistik yang mempunyai andil dalam membentuk masa depan bangsa.

Pengalaman estetik yang diperoleh dari tanggapan terhadap karya kurang lebih akan mempengaruhi moral dan sikap sampai pada perilaku siswa yang sedang tumbuh yang memiliki kebiasaan suka meniru dan mengikuti mode yang sedang berkembang. Mereka akan mudah terkena pengaruh dari lingkungan masing-masing. Seni dapat membentuk moral generasi muda karena antara estetika dan etika saling berhubungan dan saling mengisi.

Apabila di dalam masyarakat dikatakan terjadi kemerosotan atau dekadensi moral, akibatnya akan terjadi pergeseran-pergeseran nilai etika. Hal itu dimungkinkan karena interpretasi yang salah terhadap dunia seni dan film khususnya, walaupun faktor ini bukan merupakan salah satu penyebab.

Berangkat dari kenyataan tersebut, pendidikan seni dapat digunakan sebagai sarana untuk meluruskan kembali, mendidik, dan membentuk sikap etis terutama seni yang kreatif, nyaman, indah, serta menyegarkan.

4. Menilai Karya Seni Rupa 

Pada prinsipnya, seni rupa dapat digolongkan menjadi dua. yaitu seni rupa dua dimensi dan seni rupa tiga dimensi. Karya seni rupa dua dimensi hanya dapat dilihat dari satu arah, memiliki ukuran luas (panjang dan lebar). contoh lukisan, peta, mozaik, dan anyaman. Karya seni rupa tiga dimensi adalah karya yang dapat dilihat dari berbagai arah, memiliki volume (ruang) contoh patung, bangunan, dan mobil.

Menurut fungsinya, seni rupa dapat digolongkan menjadi dua. yaitu seni murni (fine arr) yang berfungsi sebagai penghias dan seni pakai (applied an) yang berfungsi sebagai pendukung benda pakai atau seni terapan.

Seni kriya atau seni kerajinan dapat dikatakan sebagai seni terapan karena pada prinsipnya merupakan seni hias dan seni pakai. Proses penciptaan seni kriya memerlukan keterampilan dan kecekatan. Pada umumnya, seni kriya cenderung digunakan sebagai barang produksi atau seni industri.

Proses pemahaman apresiasi sangat berpengaruh dalam menentukan nilai suatu karya seni terapan. Oleh karena itu, langkah yang perlu diperhatikan ialah pengamatan, penghayatan, dan pengalaman memahami karya yang bersangkutan atau sejenisnya sehingga muncul sikap simpati pada karya yang dinilai.

Apresiasi terhadap karya seni dapat dikatakan benar dan memiliki tingkatan cukup tinggi apabila telah mendekati kebenaran, sesuai nilai yang terkandung dalam karya seni yang diamati.

Baca juga selanjutnya di bawah ini :


Teater Non Tradisional Daerah


Dalam proses apresiasi terjadi empat tahapan kegiatan, antara lain sebagai perikut:

a. Kegiatan mengamati

Reaksi terhadap rangsangan yang datang dari objek dengan cara observasi, meneliti, menganalisa, dan menilai sehingga terjadi respon tentang objek karya yang diamati, ketepatan tanggapan tergantung sikap kritis pengamat. b. Kegiatan menghayati Proses selektif terhadap objek karya dan penyesuaian bobot yang terkandung dalam karya dengan hasil olahrasa yang dilakukan, namun kadang apresiator langsung menerima karya seni yang bersangkutan secara keseluruhan tanpa mengkritik, sifat tersebut dinamakan empati.

c. Kegiatan evaluasi

Evaluasi dapat terjadi apabila apresiator dapat mengukur nilai seni yang dievaluasi dengan memberi kritik membangun pada karya seni yang diamati secara objektif.

d. Kegiatan mengapresiasi

Perasaan bergetar, hanyut dalam dunia maya yang terkandung dalam sebuah karya seni seakan-akan merasakan getar yang sama dengan pencipta karya seni yang bersangkutan. Apresiator tersebut disebut simpati pada karya seni yang diamati, orang tersebut seakan-akan berada antara sadar dan tidak sadar terhadap objek yang dihayati, kesadaran yang diiringi dengan penalaran rasio yang matang untuk menilai dan memberi kritik serta saran, namun tidak mengurangi rasa simpati, justru menambah nilai. Orang semacam ini telah memiliki tingkat apresiasi yang benar terhadap karya seni.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel