Konsep Isi Pengertian Teater Tradisional di Indonesia

A. Sejarah Teater

Teater berasal dari bahasa Greek (Yunani), yaitu thearron. Theatron adalah nama tempat untuk mengadakan pesta dan persembahan para dewa. Pesta diadakan untuk dewa Apollo, yaitu dewa yang memberikan kemakmuran. Persembahan untuk dewa Dyonesos, yaitu dewa penghancur. Pada acara pesta, masyarakat mendatangi suatu tempat padang yang luas, yang dibuat gunungan tanah melingkar. Di tengah arena itu dibuat pusat persembahan yang disebut theatmn. Pada saat itu, masyarakat berpesta ria. Mereka menari mengikuti gerakan binatang. ada yang mengikuti gerakan seperti macan, dan ada juga yang mengikuti gerakan seperti domba. Mereka diperbolehkan saling mengejek sehingga suasananya riang gembira, santai, dan penuh humor. 

Namun, pada acara persembahan masyarakat tidak boleh saling mengejek. Mereka tampak sedih. bahkan banyak yang berteriak histeris dan menangis. Pada acara persembahan itu seekor domba jantan disembelih. Acara persembahan biasanya diadakan pada musim kemarau dengan harapan musim kemarau cepat berlalu (Tjokroatmojo dkk., 1985 : 15 17). 

Konsep Isi Pengertian Teater Tradisional di Indonesia

Setelah mengalami perkembangan, pengertian teater juga mengalami perkembangan. Teater tidak hanya diartikan sebagai tempat pertunjukan, tetapi juga diartikan sebagai kegiatan pertunjukan atau tontonan. Sebagai kegiatan pertunjukan, teater mempunyai ciri-ciri, yaitu teater sebagai seni yang berhubungan dengan seni gerak. seni dekorasi, seni tata rias. dan seni tata busana. Selain itu ciri-ciri yang lain adalah teater sebagai seni kolektif dan memerlukan penonton.

Peranan teater pada saat ini juga mengalami perkembangan. Teater tidak hanya untuk keperluan upacara, tetapi juga untuk aktualisasi pengembangan kreasi, menghibur, dan memberikan informasi tentang nilai-nilai kebenaran. Sebagai seni, teater bisa mengasah afektif masyarakat. Teater juga dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan. Dengan berlatih teater, siswa dapat melaksanakan tiga ranah mjuan pendidikan sekaligus, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. 

Pada kesempatan ini kita akan belajar Seni Teater. Pembelajaran seni teater mencakup keterampilan olah tubuh, olah pikir, dan olah suara. Kita juga akan belajar mementaskan teater yang dipadukan dengan seni musik dan seni tari. Namun. sebelum itu semua dipelajari, kita akan mencoba mempelajari sejarah perkembangan teater. 

Dalam kehidupan sosial dan budaya, teater mempunyai beberapa fungsi antara lain adalah:


B. Fungsi Teater

1 . Teater Berfungsi untuk Keperluan Upacara 

Asal mula teater digunakan untuk kepentingan upacara, yaitu upacara persembahan kepada dewa Dyonesos dan upacara pesta untuk dewa Apollo. Teater di Indonesia juga ada yang berfungsi untuk keperluan upacara. Teater ini biasanya disebut teater tradisional. Teater yang berfungsi untuk kepentingan upacara tidak membutuhkan penonton karena penontonnya adalah bagian dari peserta upacara itu sendiri.

2. Teater Berfungsi sebagai Media Ekspresi 

Teater merupakan salah satu bentuk seni. Jika seni musik menekankan pada suara, seni teater menekankan pada laku dan dialog. Seniman teater akan mengekspresikan seninya dalam bentuk gerakan tubuh dan ucapan-ucapan. 

3. Teater Berfungsi sebagai Sarana Hiburan 

Pengertian teater dapat berhubungan dengan tempat, tetapi dapat juga berhubungan dengan kegiatan pertunjukan. Teater dibutuhkan oleh lingkungan masyarakat untuk hiburan. Oleh karena itu, teater perlu dipersiapkan dengan baik sehingga jika dipentaskan, penonton akan merasa terhibur. 

Konsep Isi Pengertian Teater Tradisional di Indonesia

4. Teater Berfungsi sebagai Media Pendidikan 

Teater adalah seni kolektif, artinya teater tidak bisa dikerjakan oleh satu orang, tetapi harus dikerjakan oleh banyak orang. Lewat teater, orang akan diajak untuk berorganisasi dan bekerja sama. Jika dipentaskan. teater akan memberikan pesan-pesan kepada penonton. Melalui cerita, penonton tidak terasa dididik untuk mengerti kebaikan dan kejahatan.

C. Perkembangan Teater Tradisional

Teater tradisional adalah teater yang berkembang di kalangan rakyat. yaitu suatu bentuk seni yang berakar dan bersumber dari tradisi masyarakat lingkungannya. Teater ini dihasilkan oleh kreatifitas suatu suku bangsa di beberapa wilayah di Indonesia sehingga teater tradisional lebih bersifat kedaerahan. Teater tradisional bertolak dari sastra lama, atau sastra lisan daerah yang berupa dongeng, hikayat, atau cerita-cerita daerah lainnya. 

1. Sejarah Teater Tradisional di Indonesia 

Teater tradisional di Indonesia berawal dari kegiatan upacara tradisional dan upacara keagamaan. Pada saat pemujaan dimulai, masyarakat memerlukan kegiatan yang bersifat dukungan lahiriah pada upacara yang bersifat rohaniah. Upacara ini biasanya diadakan pada saat melahirkan, perkawinan, atau waktu kematian. Selain itu, upacara diadakan untuk kegiatan bercocok tanam. meminta kesuburan, meminta hujan, pengusiran hama dan penyakit. dan upacara panen padi.

Semua kegiatan tersebut biasanya didukung kegiatan berupa peristiwa teater, kejadian teater, dan perilaku teater dengan jalan mengadakan tari-tarian atau tetabuhan (musik). Oleh karena itu. tater tradisional di lndonesia tidak baru lepas dari unsur tari dan musik. Gerak yang dilakukan di dalam peristiwa teater tersebut merupakan tari-tarian yang digunakan untuk keperluan upacara. Teater untuk keperluan upacara biasanya tidak ditemukan unsur cerita. alur cerita. atau unaur-unaur sutra lainnya. tidak ada penonton dan pelakunya adalah peserta upacara itu sendiri (Achmad. l990 : Sl 52). 

Dalam perkembangan lebih lanjut. masyarakat memerlukan teater yang dapat dijadikan sebagai sarana hiburan. Maka lahirlah teater yang khusus diperlukan untuk keperluan hiburan mayarakat. Teater ini bukan untuk keperluan upacara sehingga gerakan-gerakan tari dan musik sudah diubah. disesuaikan dengan keperluan hiburan. Penataan busana. dekorasi, dan unsur-unsur sastra lain, serta alur cerita sudah ada dan dipeniapkan dengan baik. Maka. dari sinilah di daerah-daerah di wilayah Indonesia muncul teater-teater daerah yang disebut teater tradisional. 

Menurut Kasim Ahmad dalam Waluyo (200l :71 -75). teater tradisional dibagi mejadi tiga macam. yaitu: 

a. Teater rakyat 

Teater rakyat berkembang di tiap-tiap daerah. Hampir semua daerah di lndonesia memiliki teater rakyat. Teater rakyat disebut juga teater daerah. Cerita teater rakyat biasanya diambil dari kehidupan masyarakat di daerah setempat. Pengelolaan teater rakyat sangat sederhana sehingga sekarang banyak amp teater rakyat yang bangkrut. 

b. Teater klasik 

Jika dibandingkan dengan teater rakyat, pengelolaan teater klasik lebih baik dan lebih mapan karena segala sesuatunya sudah diatur. Cerita diambil bukan dari cerita rakyat dan pelakunya sudah terlatih. Punggungnya tidak lagi menyatu dengan penonton, contohnya adalah wayang orang. 

c. Teater transisi 

Teater ini sebenarnya bersumber dari teater daerah, tetapi cara penyajiannya sudah dipengaruhi gaya barat. Dekorasi, tata rias, dan tata busananya dipengaruhi gaya barat. Contoh teater transisi adalah Komedi Istambul dan Sandiwara Dardanela.

2. Ciri-Ciri Teater Tradisional 

Teater tradisional tiap tiap daerah memiliki keunikan yang berbeda hula. Namun. secara umum teater tradisonal memiliki ciri ciri yang bersilat nama (kecuali teater transisi). yaitu: 

a. Tidak ada naskah 

Teater tradisional biasanya tidak menggunakan naskah. Para pelaku hanya diberi garis besar ceritanya. Mereka berbicara secara spontan mengikuti pembicaraan pelaku lain. Oleh karena itu, pelaku dituntut bisa berimprovisasi. Jika tidak bisa, jalannya pertunjukkan akan tersendat-sendat. 

b. Persiapan dilakukan secara sederhana 

Pada umumnya teater tradisional tidak memiliki perencanaan yang formal dan tidak ada penjadwalan secara rinci. Persiapan, latihan, dan persiapan dilaksanakan secara sederhana. Misalnya, persiapan dilakukan tanpa menggunakan naskah, pelaku hanya diberi garis besar ceritanya. Sutradara tidak membuat perencanaan latihan secara formal, latihan hanya dilakukan pada saat akan pentas. Pada saat pelaksanaan, persiapan peralatan pun dilakukan secara sederhana. Dekorasi. tata rias, tata busana, tata lampu, dan tata musik dipersiapkan secara sederhana juga.

c. Ceritanya monoton 

Cerita teater tradisional biasanya monoton, tidak beragam dan tidak bervariasi seperti bervariasinya kehidupan manusia. Biasanya cerita diambil dari cerita rakyat daerah setempat, seperti dongeng, hikayat, atau cerita kepahlawanan (epos) daerah setempat. Ini berbeda dengan teater modern yang ceritanya lebih bervariasi. Teater modern bercerita tentang segala aspek kehidupan manusia, seperti keagamaan, ekonomi, kemasyarakatan, dan budaya.

d. Menyatu dengan masyarakat

Teater tradisional daerah bersifat fleksibel, artinya pertunjukan itu bisa dilaksanakan di mana saja. teater tradisional daerah tidak memerlukan tempat khusus. Bahkan, bisa menyatu dengan masyarakat. Hal ini disebabkan karena teater tradisonal daerah tidak memerlukan perlengkapan yang kompleks, biasanya perlengkapan dipersiapkan dengan sangat sederhana. 

3. Jenis-Jenis Teater Tradisional 

Jenis-jenis teater tradisional banyak macamnya, sebanyak kebudayaan daerah yang terdapat di Indonesia. Pada kesempatan ini teater tradisional yang akan dibahas adalah tater tradisional daerah yang hanya berkembang di sekitar daerah tersebut. Teater tradisional tersebut, di antaranya adalah: 

a. Cepung 

Cepung adalah teater tradisional yang berasal dari desa Jagaraga, Kecamatan Kediri, Lombok Barat. Cepung termasuk teater tutur karena cepung berasal dari sastra liaan yang dituturkan dan belum diperagakan secara lengkap. Dituturkan dalam pengertian yang luas dan sering dilakukan dengan menyanyi serta diiringi oleh suatu tabuhan (musik).

Para pemain Cepung semua pria, disebut sekaha. Para pemain Cepung terdiri dari: pemain suling (suling besar, pendek, khusus untuk cepung), pemain suling kecil. seorang yang mengeluarkan bunyi tingkahan kendang, seorang yang membaca surat-surat pada daun lontar, dan penyanyi yang duduk sambil menari-nari menggerak-gerakkan badan dan kedua tangannya. Surat pada daun lontar di Pulau Lombok pada umumnya ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa-Madura. Surat yang digunakan khas dalam pemainan Cepung disebut lontar monyeh, menggunakan bahasa Sasak. Bentuk Cepung dapat dilihat pada gambar di atas. 

b. Barong 

Barong adalah perpaduan antara seni teater. seni tari. dan seni musik (menyanyi). Karena pada saat pementasan ketiga unsur seni tersebut sama-sama dominan. Seni teater dapat dilihat dari ceritanya, yaitu berkisah tentang pertarungan antara “kebajikan” melawan “kebatilan". Barong adalah makhkluk mitologi melukiskan “kebajikan" dan Rangda adalah tokoh jahat menggambarkan “kebatilan”. Gerakan para tokoh berupa gerakan-gerakan tari, dilakukan sambil bernyanyi. 

Berikut ini ringkasan cerita “Barong” yang diambil dari naskah karya “Putra Barong”: 

Pembukaan 

Barong dan kera sedang berada di dalam hutan yang lebat. Tiga orang bertopeng yang menggambarkan kejahatan, datang dan membuat keributan. Mereka merusak ketenangan huta. Ketika mereka bertemu dengan kera, mereka berkelahi. Seekor kera dapat memotong hidung salah seorang di antara mereka.

Babak Pertama 

Dua orang penari muncul dan mereka adalah pengikut Rangda yang sedang mencari pengikut-pengikut Dewi Kunti yang sedang perjalanan untuk menemui Patihnya. 

Babak Kedua 

Pengikut-pengikut Dewi Kunti tiba. Salah seorang pengikut Rangda berubah menjadi setan (semacam Rangda) dan memasukkan roh jahat kepada pengikut Dewi ,Kunti yang menyebabkan mereka bisa menjadi marah. Keduanya menemui Patih dan bersama-sama menghadap Dewi Kunti. 

Babak Ketiga 

Muncullah Dewi Kunti dan anaknya, Sahadawa. Dewi Kunti telah berjanji kepada Rangda untuk menyerahkan Sahadewa sebagai korban. Sebenarnya Dewi Kunti tidak sampai hati mengorbankan anaknya kepada Rangda. Tetapi setan (semacam Rangda) memasukkan roh jahat kepadanya yang menyebabkan Dewi Kunti menjadi marah dan berniat mengorbankan anaknya. Lalu Dewi Kunti memerintahkan Patihnya untuk membuang Sahadewa ke dalam hutan. Ternyata Patih pun tidak luput kemasukkan roh jahat oleh setan. Sahadewa dibawa ke hutan dan mengikatnya di muka istana Sang Rangda.

Babak Keempat 

Turunlah Dewa Siwa dan memberika keabadian kepada Sahadewa. Pemberian keabadian ini tidak diketahui oleh Rangda. Rangda datang mengoyak-ngoyak Sahadewa. Ia hendak membunuh Sahadewa, tetapi Sahadewa tidak bisa dibunuh karena kekebalan yang telah dianugerahi oleh Dewa Siwa. Akhimva. Rangda menyerah kepada Sahadewa. Ia memohon untuk diselamatkan agar ia masuk sorga. Permintaan Rangda dipenuhi oleh Sahadewa dan Rangda mendapat sorga. 

Babak Kelima 

Kalika adalah pengikut Rangda. Ia menolak menghadap Sahadewa. Penolakan ini menimbulkan perkelahian. Ketika berkelahi dengan Sahadewa, kalika berubah-ubah bentuk. Mula-mula berubah menjadi “Babi Hutan ". Kemudian berbah menjadi “Burung ". Akhirnya. Kalika berubah menjadi Rangda. Oleh karena kesaktian Rangda, Sahadewa tidak bisa membunuhnya. Kemudian Sahadewa berubah menjadi “Barang”. Barang dan Rangda sama-sama sakti. Perkelahian mereka tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Pengikut-pengikut barong pun tidak bisa membunuh Sang Rangda. 

c. Makyong 

Makyong adalah teater tradisional yang berasal dari Pulau Bintan, Riau. Makyong berasal dari kesenian istana. Makyong dilakukan pada saat siang hari atau malam hari. Lama pementasan kurang lebih tiga jam. Pemain makyong kurang lebih terdiri atas lima orang, baik laki-laki, maupun perempuan dan seorang pencerita yang disebut Awang. Para pemain baik laki-laki, maupun perempuan semuanya menggunakan topeng. Maka, pertunjukan Makyong sering disebut sendratari topeng. Cerita dalam pertunjukan Makyong diambil dari cerita-cerita Hikayat Melayu. 

Contoh cerita Hikayat Melayu (cerita keempat belas) 

Kata sahibul hikayat: maka tersebutlah perkataan raja Majapahit sudah hilang tiada beranak laki-laki; ada baginda beranak perempuan, namanya radin galuh Wi Kesuma; ialah dirajakan oleh patih Aria Gajah Mada. 

Hatta berapa lamanya. maka ada seorang penyadap pergi bermain ke laut, maka ia mendapat seorang budak hanyut, berpegang pada sekeping papan. Maka diambilnya budak itu tiada khabarbarkan dirinya daripada lama di laut itu tiada makan dan minum, karena belum maut belum mati; seperti kata amirul mukminin Ali, karama 'Llahu wajhahu : “La mauta illa bi 'l-ajal ", yakni tiada mati melainkan dengan ajal. Maka oleh si pen yadap itu ditetekannya air kanji ke mulut budak itu, maka budak itupun membuka matanya, mka dilihat dirinya di atas perahu. Maka oleh si penyadap budak itu dibawanya kembali ke rumahnya, dipeliharakannya dengan sepertinya .maka ada berapa hari lamanya maka budak itupu baiklah; maka si penyadap itu bertanya kepada budak itu : “Siapa engkau ini dan siapa namamu. dan apa sebabnya engkau hanyut kepada sekeping papan itu ? ” maka sahut budak itu : “Hamba anak raja Tanjung Pura, piut sang Maniaka, anak raja yang pertama turun dari bukit Sigunlang Mahameru itu;. nama hamba radin Kirana Langu. akan hamba ini tiga bersaudara, dua orang Laki-laki seorang perempuan. Sekali peristiwa ayah hamba pergi beramai-ramaian ke pulau bermain, telah datang ke tengah laut maka ribut pun turun, ombak pun besar, maka perahu ayah balm pun nada teperbela oleh orang, maka perahu itu pun rusaklah.

d. Mamanda 

Mamanda adalah teater tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Tema cerita Mamanda pada umumnya menggambarkan penentang” antara penguasa yang kurang bijaksana melawan warga masyarakat yang baik. Cerita Mamanda biasanya diambilkan dari cerita Syair Abdul Muluk. Mamanda dilaksanakan di tempat terbuka. Nama Mamanda diambil dari kebiasaan pemeran raja yang memanggil mangkubumi dengan sebutan “Mamanda”. Bentuk tetaer ini meliputi tiga unsur, yaitu gerak, tari, dan nyanyian. 

Teater tradisional Mamanda pertama kali berkembang di Margasari, kabupaten Tapir. Cerita Mamanda pertama kali diambilkan dari cerita Syair Abdul Muluk. Namun, pada awal abad ke-2O, sekitar tahun 1937, muncul aliran Tuban di hulu Sungai Tengah. Aliran Tuban ini sudah mengembangkan cerita masa kini untuk pertunjukan Mamanda. 


D. Unsur Estetis Teater Tradisional

Unaur-unsur estetia teater tradisional dapat dilihat dan unsur intrinsik, dekorasi, tata musik, tata rias, dan tata busananya. Teater tradisional sebagian besar belum menggunakan tata lampu dan tata suara sebagai unsur-unsur artistiknya. Adapun unsur instrinsik teater adalah sebagai berikut. 

1. Unsur Latar (Setting) 

Setting dalam teater mempunyai tiga unsur, yaitu tempat, ruang, dan waktu. Ketiga unsur ini harus saling mendukung. Setting tempat berhubungan dengan lokasi di mana cerita itu berlangsung, misalnya di Riau. Lombok Barat. atau di Bali. Cerita-cerita teater Mamanda berada di Kalimantan Selatan. Ini tentu saja berkonsekuensi terhadap tata busana dan tata musik. Berbeda apabila cerita itu tentang “Barong”. busana dan musiknya pun bernuansa Bali 

Setting ruang berhubungan dengan ruang dalam, luar, balairung, pendirian, atau alam terbuka. Ini tentu saja berkonsekuensi terhadap tata dekorasi. Jika setting di dalam balairung, perabotnya terdiri atas kursi singgasana raja dan permaisuri, kursi para menteri, dan hiasan yang lain yang mendukung cerita tersebut Jika di ruang pendopo harus diperhatikan juga interior dan perabotnya. Ruang alam terbuka lebih kompleka lagi karena alam terbuka pengertiannya lebih luas; di jalan, di hutan, di tanah lapang, atau di tepi pantai. 

2. Unsur Perwatakan dan Penokohan 

Perwatakan sering disamakan dengan penokohan. Namun, keduanya sebenarnya berbeda. Hal ini disebabkan karena penokohan erat hubungannya dengan perwatakan. Apalagi di dalam teater tradisional. Penokohan berhubungan dengan nama pelaku, jenis kelamin, usia, bentuk fisik (gemuk atau kurus). dan kejiwaannya. Perwatakan berhubungan dengan sifat pelaku, seperti pemarah, penyabar, keras, lemah lembut, pemberani, penakut atau pengecut. 

Di dalam teater, penokohan dapat dikelompokkan kedalam tigamacam yaitu: tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan tokoh tritagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang pertma kali mengambil prakarsa dalam cerita. Tokoh protagonis adalah tokoh yang pertama menglami benturan-benturan atau masalah-masalah. Tokoh protagonis memiliki sifat yang baik sehingga penonton biasanya berempati kepada tokoh protagonis. contoh Sahadewa dalam cerita “Barong". 

Tokoh antagonis. adalah tokoh menentang tokoh protagonis, atau tokoh yang menentang cerita. Tokoh antagonis selalu menghalangi jalannya tokoh protagonis. Tokoh antagonis biasanya memiliki sifat jahat. contoh Rangda dalam cerita “Barong". 

Tokoh tritagonis, adalah tokoh membantu tokoh protagonis atau tokoh antagonis, contoh Dewi Kunti dalam cerita “Barong“. 

Tokoh protagonis dan tokoh antagonis disebut tokoh sentral. artinya tokohtokoh tersebut adalah tokoh yang menggerakkan jalannya cerita. Tokoh tritagonis disebut tokoh utama. Tokoh sentral dan tokoh utama dapat digolongkan ke dalam tokoh penting (mayor). Tokoh pembantu adalah tokoh yang melengkapi tokoh mayor. Tokoh pembantu digolongkan ke dalam tokoh minor, contoh tokoh Patih dalam cerita “Barong" (Sumarjo dan Sainl KM.. 1986:145). 

3. Unsur Alur Cerita 

Alur cerita disebut juga plot. yaitu rangkaian cerita yang saling berhubungan satu sama lain dengan menggunakan hubungan sebab-akibat, Keindahan alur cerita dapat dilihat dari tiga unsur. yaitu ketegangannya (suspen), dadakannya (surprise), dan ironi dramatiknya (dramatic Irony). 

Alur cerita yang baik dapat menimbulkan ketegangan (suspen) pada penonton. Penonton selalu penasaran dan ingin mengetahui cerita berikutnya yang merupakan akibat dari sebab sebelumnya. Alur cerita yang baik tidak mudah ditebak oleh penonton sehingga penonton ingin menyaksikan pertunjukan sampai selesai. Susupen semacam ini tentu tidak dimiliki teater tradisional yang ceritanya monoton karena diambilkan dari cerita rakyat yang sudah diketahui sebelumnya. Teater tradisional akan menarik jika Ceritanya sudah dikreasi oleh penulis naskah drama. 

Dadakan (surprise) adalah unsur cerita yang mengagetkan penonton karena dugaan penonton tidak tepat. Hal ini terjadi karena pengarang membelokkan alur cerita. Walaupun demikian, alur cerita harus tetap ada hubungannya dengan cerita sebelumnya. Cerita yang dibelokkan tetap merupakan akibat dari cerita sebelumnya. Surprise juga tidak ada dalam teater tradisional. 

Unsur artistik alur cerita yang terakhir adalah ironi dramatik (dramatic irony). Ironi dramatik harus mendukung ketegangan dan dadakan melalui pernyataan. pernyataan dan tindakan-tindakan tokoh yang seolah-olah menamatkan apa yang akan terjadi kemudian. Ironi dramatik tidak boleh mengganggu unsur ketegangan dan mengaburkan unsur dadakan (Sumatjo dan Saini KM.. 1986:141 142). Perhatikan unsur-unsur artistik dalam teater berikut ini! 

a. Dekorasi

Dekorasi adalah penataan tempat pertunjukan yang disesuaikan dengan tempat kejadian dalam cerita. Dekorasi ini bisa berupa gambar, hiasan, meja, kursi, atau pelengkapan lain di tempat pertunjukan. Teater tradisional menggunakan dekorasi sebagai unsur estetis. Masing-masing daerah memiliki ciri-ciri yang berbeda. Ciri-ciri tersebut berhubungan dengan kekhasan cerita di dalam teater tradisional. contoh: dekorasi di dalam pertunjukan “Barong" dilengkapi dengan penjor sebagai ciri khas daerah Bali. 

b. Tata musik 

Musik di dalam teater tradisional sangat diperlukan karena sebagaian besar teater tradisional menggunakan seni tari sebagai unsur dominan gerak. Seni . tari tidak bisa lepas dari tata musik maka teater tradisional juga tidak bisa lepas dari unsur musik. Tata musik teater tradisional berhubungan dengan alat musik tradisional daerah setempat, contoh pertunjukkan “Randai” selalu menggunakan gendang melayu, atau pertunjukan “Barong” lelalu menggunakan cengceng. Gendang melayu adalah alat musik tradisional Sumatra dan cengceng adalah alat musik tradisional Bali. 

c. Tata rias 

Tata rias berhubungan erat dengan watak tokoh. Selain untuk menggambarkan watak tokoh. teater tradisional menggunakan tata rias juga untuk melengkapi keindahan di dalam pertunjukannya. Hanya saja. tata rias teater tradisional kurang bervariasi karena cerita teater tradisional juga kurang bervariasi. Tokoh hitam-putih sangat jelas. Tokoh jahat berwajah merah. sedangkan tokoh baik berwajah putih. Untuk melengkapi tata rias ini. beberapa pertunjukkan teater tradisional menggunakan topeng sebagai pelengkapnya. contoh penunjukkan Makyong, teater tradisional dari Kepulauan Bintan, Riau. baik pemain lakilaki maupum perempuan semuanya mengenakan topeng. 

d. Tata busana 

Tata busana teater tradisional tidak berbeda dengan tata musik teater tradisional. Jika tata musik teater tradisional menggunakan alat musik tradisional. tata busana teater tradisional juga menggunakan busana tradisional sebagai unsur estetisnya. Pertunjukan Makyong menggunakan busana tradisional Riau, pertunjukkan Randai menggunakan busana tradisional Sumatra Barat. atau pertunjukkan Barong menggunakan busana tradisional Bali.

Baca juga selanjutnya 



E. Pesan Moral Teater Tradisional

Pesan moral berhubungan erat dengan suatu nilai, yaitu hakikat suatu hal. Pesan moral ialah hal-hal yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau penonton tentang akhlak dan budi pekerti manusia. Menurut Natawidaja nilai dibagi menjadi tiga, yaitu nilai material. nilai moral. dan nilai spiritual. Nilai material berhubungan dengan segala sesuatu yang disandarkan kepada faktor kebendaan, contoh manusia dinilai dari kaya atau miskin, cantik atau jelek. Nilai moral berhubungan dengan tinggi-rendahnya akhlak seseorang. 

Teater tradisional memberikan pesan tentang baik dan buruk dalam kehidupan. kehidupan baik-buruk ini digambarkan sangat jelas, bagaikan hitam dan putih. 

Nilai moral dalam cerita “Maling Kundang" di atas adalah nilai moral yang rendah. Pesan moral yang ingin disampaikan pengarang kepada penonton adalah agar kita jangan durhaka/berbuat jahat kepada orang tua. 

Nilai moral yang terdapat di dalam cerita “Timun Emas” di atas adalah nilai moral yang sangat tinggi. Timun Emas adalah anak yang patuh dan menghormati orang tua. 

Beberapa contoh nilai moral yang terdapat di dalam pertunjukan teater tradisional adalah: 

1. Nilai Moral dalam Pertunjukan “Barong” 

Di dalam pertunjukan “Barong” bahwa penentangan antara Barong dengan Rangda adalah sebagai lambang pertentangan antara kebajikan dengan kejahatan. Tokoh Barong sebagai lambang kebajikan, sedangkan Rangda sebagai lambang kejahatan. Di dalam pertunjukan “Barong”, Rangda tidak bisa dibunuh, artinya bahwa kejahatan selalu ada dan sulit untuk dihilangkan. Nilai moral yang dapat diambil dari pertunjukan “Barong” adalah bahwa kita harus selalu memerangi kejahatan, walaupun sulit dihilangkan. 

2. Nilai Moral dalam Pertunjukan “Mamamia” 

Pertunjukan “Mamanda”, tetaer tradisional dari Kalimatan Selatan, menggambarkan pertentangan antara kaum penguasa yang kurang bijaksana melawan warga masyarakat yang baik. Nilai moral yang dapat diambil dari pertunjukkan “Mamanda” adalah bahwa penguasa yang tidak bijaksana akan selalu ditentang oleh warganya. Maka. sebagai penguasa hendaknya bersikap bijaksana.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel