Pergelaran Teater Tradisional dan Teater Kreasi

Perencanaan pementasan teater berhubungan dengan persiapan dan latihan. Persiapan pementasan teater meliputi pemilihan teks drama, sutradara, pembantu sutradara, pemain, dan penyusunan buku kerja. Latihan meliputi pemanasan (fbwplay), inti, dan penenangan. 

l. Jadwal Kegiatan Pementasan 

Perencanaan pemetasan teater diperlukan perincian kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan. Menurut D. Djajakusuma dan Tarigan, kegiatan-kegiatan tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga tahap kegiatan, yaitu: 

a. Tahap persiapan. 

b. Tahap latihan. 

c. Tahap pementasan (malam perdana). 

a. Tahap Persiapan 

1) Memilih teks drama (naskah drama) 

Tekas drama yang dipilih disesuaikan dengan tujuan. Teks drama bisa dibuat sendiri atau naskah orang lain. Apabila tekas drama yang dipilih ada] naskah orang lain, sebaiknya meminta izin lebih dahulu. Jika mampu, teks drama dapta dibuat snedin', teks drama yang baik memenuhi syarat-syarat anatara lain: memiliki nilai pendidikan, memiliki keindahan, dan dapat membimbing manusia ke arah tata susila yang baik.

Pergelaran Teater Tradisional dan Teater Kreasi

2) Memilih sutradara 

Sutradara sangat dibutuhkan dalam pementasan teater. Oleh karena itu, sangat penting untuk memilih sutradara yang tepat. Sutradara yang baik adalah sutradara yang dapat membimbing semua komponen pelaksana pementasan teater, bekerja sama, serta harus aktif dan kreatif. 

3) Memilih pembantu sutradara 

Dalam menjalankan tugas, sutradara perlu mendapat bantuan, baik ketika latihan, maupun ketika pementasan, (malam perdana). Orang yang membantu sutradara adalah asisten sutradara dan perencana setting (dekorasi, m'as, busana, lampu, dan musik) 

4) Memilih pemain (casting) 

Memilih pemain adalah tugas sutradara. Pemain hendaknya dipilih sesuai dengan karakter tokoh yang akan diperankan. Pemain yang baik adalah pemain yang dapat menjiwai dan menghayati tokoh yang diperankan, kreatif, wajar, dan dapat mengesankan para penonton. 

b. Tahap latihan 

Tahap latihan meliputi tiga kegiatan, antara lain pemanasan, inti, dan penenangan. 

1) Pemanasan 

Pemanasan dilakukan setiap kali latihan Pemanasan meliputi pernafasan, konsentrasi, dan latihan suara (lihat pada bab di atas).

2) Inti 

Kegiatan inti dapat dibagi menjadi bebrapa tahap sebagai berikut :

a) Latihan membaca, pada latihan ini para pemain membaca naskah atau teks drama secara nyaring. 

b) Latihan blocking, yaitu latihan gerak dan pengelompokan pelaku. 

c) latihan karya, yaitu memadukan gerak dengan dialog. Pada tahap ini pemain harus sudah hafal teks dan gerakannya Pada tahap ini pemain juga sudah terbiasa dengan barang yang dibawanya (hand prop). 

d) Latihan pelicin, yaitu latihan secara menyeluruh dari adegan demi adegan, dari babak demi babak, hingga selesai. 

e) Latihan umum, yaitu latihan menyeluruh yang dipadukan dengan dekorasi dan tata musik. Pada latihan ini para pemain bisa menyempurnakan gerak dan dialognya. 

Latihan-latihan inti dilakukan secara bertahap, tidak sekaligus dalam sekali latihan.

3) Penenangan 

Setelah latihan inti, kegiatan selanjutnya adalah penengah. Tahap ini hanya melakukan pernapasan dan konsentrasi. Tahap penenangan dilakukan agar pemain kembali pada keadaan semula, tidak terus dibawa emosi tokoh yang diperankan. Tahap ini dilakukan setiap kali latihan. 

c. Tahap pementasan 

Tahap ini adalah tahap yang paling dinanti-nantikan setiap pemain. Pemain tentu saja ingin melihat hasil dari latihan-latihan yang dilakukan sebelumnya. Namun, ada hal yang lebih penting untuk diperhatikan dalam pementasan ini, yaitu faktor penonton. Karena sebaik apa pun latihan yang telah dilakukan, tetapi jika penontonnya tidak tertib, maka pertunjukkan tidak akan sukses. Penonton yang baik adalah salah satu faktor penentu kesuksesan pertunjukan.

2. Teknik Permainan Teater 

Rendra dalam bukunya Tentang Bermain Drama. menjelaskan teknik bermain peran. Sebelas langkah teknik bermain peran, yaitu : 

a. Mengumpulkan tindakan-tindakan pokok yang harus dilakukan oleh sang pemeran dalam drama itu. 

b. Mengumpulkan sifat-sifat (watak) sang peran. Kemudian, dihubungkan dengan tindakan pokok. Tentukan tindakan mana yang harus ditonjolkan. 

c. Mencari sifat-sifat yang harus ditonjolkan oleh pemeran. 

d. Mencari tekanan-tekanan kata pada kalimat yang harun diucapkan oleh pemeran. 

e. Memadukan gerakan-gerakan (pantomomic) dengan air muka (mimik) agar dapat mengekspresikan watak tokoh yang diperankan. 

f. Mengatur ketepatan waktu (timing) agar gerakan-gerakan yang dilakukan dan air muka sesuai dengan ucapan. 

g. Memperhatikan teknik penonjolan ucapan dan penekanan watak tokoh yang diperankan. 

h. Membuat perincian watak-watak yang disajikan dalam tangga menuju puncak. 

i. Usahakan perincian itu jangan berbenturan dengan rencana penyutradaraan. 

j. Mengusahakan business dan blocking, yang sudah ditetapkan bagi sang peran untuk dihafal. 

k. Memusatkan perhatian pada pikiran dan perasaan peran yang dibawakan. 

Setelah itu. Rendra dan tokoh-tokoh lain juga menjelaskan teknik-teknik lain sebagai berikut:

1) Teknik muncul 

Teknik bermain dalam teater salah satunya adalah teknik pemain muncul dalam pentas atau panggung. Kemunculan pemain utama dengan pemain pembantu harus dibedakan. Pemain utama harus mendapat penonjolan kcuka muncul dl atas pentas atau panggung. Pemain pembantu tidak perlu mendapat penonjolan supaya tidak mengaburkan arti pemain utama dengan pemain pembantu. Untuk menonjolkan pemain bisa melalui level. Pemain sebelum masuk panggung. berdiri sejenak di atas level sehingga posisinya lebih tinggi dibandingkan dengan pemain yang lain, lalu berdiri di atas panggung bagian tengah. supaya mendapat perhatian penonton. Setelah mendapat perhatian penonton, pemain segera menyesuaikan gerakan-gerakannya sesuai daengan watak tokoh yang diperankan.

Lakukan adegan drama berikut! 

Di tengah panggung terdapat meja kursi tamu. Di samping kanan agak ke tepi dipasang level yang diapit dua kayu yang berfungsi sebagai pintu masuk. 

P ak Bejo : (masuk dari sisi kiri panggung. Pak Bejo langsung masuk sambil membawa kemoceng. Kemudian, ia membersihkan meja kursi dengan kemocengnya. Ia bernyanyi lagu daerah secara pelan-pelan). 

Bu Marto : (masuk dari sisi kanan panggung. Ia berdiri sejenak di atas level. Kemudian berjalan menuju tengah panggung. Ia melihat sejenak ke arah Pak Bejo yang sedang asyik membersihkan meja kursi. Pak'bejo tidak tahu ndoro majikannya datang). Jo! Sudah satu minggu juragan pergi. Biasanya tiga hari sudah pulang, apa dagangannya belum laku, ya 10? (sambil menatap jauh ke depan). 

Pak Bejo : (kaget sejenak. Kemudian memandang ndoro juragannya dengan penuh perasaan) Sudahlah, Ndoro! Kalau dagangannya sudah laku, pasti juragan pulang. 

Bu Marto : Aku takut, kalau ada apa-apa pada juragan. 

2) Teknik memberi isi 

Dialog-dialog dalam pertunjukan teater harus memperhatikan watak tokoh yang sedang diperankan. Kata-kata atau kalimat-kalimat mana yang harus mendapat tekanan, nada yang tinggi, atau pengucapan dengan tempo yang cepat atau pelan. Selain itu, padukan dialog-dialog itu dengan gerakangerakan tangan, kaki, kepala, muka, atau yang lainnya. 

Praktikkan adegan drama berikut ini dengan memperhatikan tekanan, nada, atau tempo kata, dan kalimat!

Blocking, dua lelaki yang berdiri saling membelakangi. Jarak keduanya lebih kurang satu setenga meter: Mereka adalah kakak beradik yang sedang menyelesaikan masalah keluarga. Kakaknya bernama Marto, tangannya dlSllangkan sebagai tanda keangkuhannya. Adiknya bemama Manan. 

Manan : (membalikkan badannya, berjalan mendekati mario, kid berbicara di belakang kakanya ). Mas, apa mas tidak kasihan pada ayah, ia sedang sakit, Mas! 

Marto : (masih dalam posisi semula). Aku sudah tidak lagi dianggap anaknya. 

Manan : Itu hanya emosi sesaat, Mas! 

Marto : (membalikan badannya, menatap adiknya dalam-dalam). Emosi sesaat? Apa katamu, emosi sesaat! Perlakuan ayah yang mebeda-bedakan aku dengan kamu sudah lama. Sudah lama ia lakukan, hanya karena kamu anak yang berpretasi sedangkan aku tidak. 

3. Teknik pengembangan (progresi) 

Pemain dalam teater harus bisa mengembangkan gerak dan dialog-dialognya supaya lebih bervariasi, sehingga penonton tidak akan cepat merasa bosan.

Teknik pengemangan dapat dilakukan melalui variasi pengucapan, seperti tinggi-rendanya suara, panjang-pendeknya pengucapan atau cepat-lambatnya tempo suara, dan van'asi jasmani, seperti berpaling, pindah tempat (mavmg), atau gerak anggota badan. 

Perhatikan adegan berikut ini untuk memperjelas pengertian teknik pengembangan (progress)! 

Tarna  : Sum, tidakkah kau harus berbicara dengan aku? 

Sumati : Aku ikut bersedih Tama. kau kehilangan ayahmu. 

Tarna : (curiga) Ikut bersedih, Sum! Karena itu? 

Sumati : Atau menurut pikiranmu aku mesti bergirang hati barangkali. 

Tarna : Mengapa tidak? Banyak alasan bagimu untuk bergirang. 

Sumati : (dengan kasih) Tama 

Tarna : (pahit) kau tentunya bertambah-tambah kasihanmu padaku sekarang, kasihan pada anak yatim! 

Sumati : Tidakkah cukup bagitu aku bersedih. 

Tarna : Ya, banyak benar permintaanku padamu, rupanya. Terima kasih! 

Sumati : (melemah) Aku bimbang sekarang. Tarna aku kesal!

Tarna : Terhadapku kau sudah dri dulu bimbang.

Sumati : (tegas) Bukan itu, tapi aku takut, aku terpengaruh oleh sangkaanku terhadap Irwan.

Tarna ; Irwan lagi! Dia sekarang jadi penghalang? Dia yang sudah membawa bencana kepada keluargamu dan aku. 

Sumati : Kau menuduh dia? 

Tarna : Ya! 

Sumati : ( Gemas) Tadi aku sendiri melemparkan tuduhan itu, tetapi jika kudengar dari mulut orang lain, benci aku 

Tarna : Kau kasih padanya? 

Sumati : Tak tahu aku! 

Tarna : Dulu kaukatakan ayahku jadi perintang, sekarang dia tidak ada lagi. 

4) Teknik membina puncak-puncak 

Klimaks atau puncak masalah berhubungan dengan perkembangan dan irama permainan. Puncak masalah dapat diatur sehingga tampak menonjol. Tekanlah intensitas emosi, suara, dan gerakan sebelum puncak masalah ditampilkan atau memindah-minaalzkan pemain untuk mengarah pada puncak masalah sehingga puncak masalah tampak lebih menonjol. 

5) Teknik timing 

Teknik timing berhubungan dengan pengaturan waktu. Dalam pementasan drama pengaturan waktu sangat penting. Menurut Rendra ada beberapa hal yang berhubungan dengan masalah timing, antara lain: 

(a) Hubungan waktu antara gerakan jasmani dengan kata-kata yang diucapkan. Gerakan bisa dilakukan setelah atau sebelum kata-kata diucapkan. 

(b) Timing dapat memberikan penekanan, seperti jika gerakan berhubungan dengan kata yang diucapkan, maka akan memberikan penekanan pada kata yang diucapkan. Jika gerakan dilakukan bersamaan dengan katakata, maka penekanan akan tampak pada emosi pemain. 

Latihlah teknik timing ini dengan melakukan latihan berdasarkan adegan drama berikut! 

Dua orang sahabat sedang menanti sesuatu. Satu duduk tenang. Satu yang lainnyamondar-mandir gelisah. Orang yang duduk bernama Marjo dan yang mondar-mandir bernama Dargo. 

Marjo : (berdiri sejenak lalu mendekat pada Dargo ) Tenanglah, Dargo! 

Dargo : (berhenti lalu menatap Marja) Tenang?! Apa katamu, tenang ?! Aku sudah menunggu dua jam. (Berhenti sejenak lalu membelakangi Marjo, menatap pandangan yang jauh). Mereka sendiri yang berjanji akan datang jam 9, tapi sekarang sudah jam berapa, hah! ' 

Marjo : (mendekati Dargo, dan menepuk-nepuk pundaknya sambil berkata). Sabarlah, Dargo! Mereka pasti datang.

3. Kebutuhan dalam Pergelaran Teater 

Sebelum pergelaran teater dimulai perlu diadakan pendataan kebutuhankebutuhun yang diperlukan. Secara umum kebutuhan yang diperlukan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu kebutuhan yang berhubungan dengan artistik teater, kebutuhan yang berhubungan dengan hand prop, yaitu benda-benda yang dibawa pemain, dan kebutuhan panggung. 

a. Kebutuhan artistik teater 

1) Dekorasi, berhubungan dengan tata panggung dan kelengkapan panggung, seperti meja, kursi, tirai, gambar, dan lai-lain. 

2) Busana, disesuaikan dengan setting dan watak pelaku. 

3) Lampu, terdiri, atas lampu kaki pentas (foot lamp), lampu pentas atas (fisen lamp), lampu pentas luar (heersen lamp), spot light, dan papan skakel. 

4) Sound system 

5) Musik, berfungsi untuk ilustrasi musik atau back sound 

6) Hand prop 

Hand prop adalah benda-benda atau perlengkapan yang sering digunakan seperti kacamata, topi, payung, tas, koper, tas wanita, dan tongkat. Kebutuhan  hand prop ini disesuaikan dengan tuntutan naskah.

c. Panggung 

Perlengkapan ini tidak mutlak. Karena teater tidak mesti dipentaskan di atas panggung. Teater bisa dipentaskan di pelataran atau di arena. Teater tradisional biasanya menggunakan panggung konvensional, yaitu panggung yang menggunakan tirai depan yang bisa dibuka dan ditutup. Bentuk panggung ada bermacam-macam, ada yang berbentuk empat persegi panjang, jajaran genjang, atau setengah lingkaran.

Baca juga selanjutnya Teater Non Tradisional Daerah

B. Persiapan Pementasan

Pada pelajaran yang lalu, kalian telah membuat naskah drama kreasi yang berdasarkan teater tradisional! Pelajarilah naskah tersebut! Kemudian, bersiaplah untuk mementaskan naskah drama yang telah disusun! 

1. Merncanakan Pementasan 

Sebelum kalian mementaskan drama, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu, yaitu: 

a. Memilih naskah drama, jika kalian sudah siap naskah sendiri itu lebih baik. 

b. Memilih sutradara. 

c. Memilih pembantu sutradara. 

d. Mempelajari naskah drama. 

e. Menyusun buku kerja. 

f. Memilih para pelaku.

2. Pengelolaan Pementasan Untuk mengelola pementasan diperlukan staf produksi dan tata artistik. 

Staf produksi, antara lain'sebagai berikut: 

a. Produser, bertugas mengurus produksi secara keseluruhan, memilih karyawan, menentukan anggaran, membuat program kerja, dan memilih naskah. 

b. Sutradara, bertugas memilih pelaku dan mengoordinasi seluruh pelaksanaan tugas-tugas teater atau drama. 

c. Stage Manager, bertugas membantu sutradara dalam mengoordinasi seluruh pelaksanaan tugas-tugas teater dan drama. 

d. Desainer, bertugas menyiapkan aspek-aspek visual, seperti setting, dekorasi, lampu, kostum, make-up, dan sound system. 

e. Petugas yang mengatur pentas, dekorasi, tata lampu, tata busana, tata rias, dan tata suara (musik).

f. Pembisik, bertugas membantu pelaku yang mungkin lupa dialog atau lupa bertindak. 

Tata artistik terdiri atas: 

1 ) Dekorasi, dekorasi tidak boleh berlebihan karena dapat menutup unsur pokoknya. Dekorasi harus ekspresif, merangsang penonton untuk menangkap situasi yang sedang ditammlkan. 

2 ) Tata Lampu, lampu pentas terdiri dari atas lampu kaki pentas, lampu pentas atas, lampu luar pentas, spot light, dan papan skakel.

3) Tata suara, tata suara sangat penting dalam pementasan drama. Oleh karena itu, tata suara harus dipersiapkan dengan baik sehingga penonton terdepan tidak pekak dan penonton yang ada di belakang masih lelap mendengarkan dengan jelas. 

4) Tata musik, tata musik sering kali disebut latar musik atau backround. Tata musik berfungsi untuk mendukung penggambaran peristiwa atau situasi. 

5) Tata rias, seorang tata rias harus memahami peran dan watak yang akan dibawakan oleh pelaku. Bahan-bahan tata rias di antaranya bedak, lipstik, dan eye shadow. Alat-alat tata rias di antaranya adalah kapas. sisir, dan cermin. 

6) Tata busana, tata busana sangat diperlukan untuk mendukung watak pelaku dan mendukung setting pelaku.


C. Pergelaran Teater Tradisional dan Kreasi

Tahap terakhir dati penyelenggaraan pementasan drama adalah malam perdana Malam perdana adalah pementasan atau pergelaran yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Supaya pergelaran dapat berjalan dengan baik, ada beberapa ha] yang perlu diperhatikan. selain yang sudah dijelaskan pada bagian di atas. 

l. Acara Pergelaran 

Acara pergelaran perlu disusun sebaik mungkin supaya pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik. Secara umum acara dapat disusun sebagai berikut: 

a. Pembukaan 

b. Sambutan dari ketua penyelenggara 

c. Informasi sekilas tentang drama yang akan dipentaskan 

d. Pengenalan para pelaku 

e. Pergelaran drama 

f. Evaluasi 

g. Penutup 

2. Penataan Ruangan Pergelaran 

Penataan ruangan pergelaran berhubungan dengan tata pentas. Teater tidak selalu dipentaskan di atas panggung, tetapi bisa juga dipentaskan di pelataran atau arena. Oleh karena itu, penataan ruangannya pun berbeda-beda. Hal ini juga berhubungan dengan penonton. Pada pentas konvensional, biasanya menggunakan panggung yang didepannya diberi tirai depan dan penonton berada di depan panggung. Tempat pentas biasanya dilengkapi dengan kordenkorden pembatas hiasan atas. Penataan ruanagn bersifat statis. Panggung letaknya di belakang. Penonton berada di depan panggung duduk berjajar.

a. Penataan mangan pergelaran zaman Yunani kuno 

Penataan pergelaran yang paling tua adalah panggung Yunani Kuno, yaitu arena bentuk lingkaran. Tempat pertunjukan (disebut thealron) dan tempat penonton masih berbentuk datar. Penonton duduk atau berdiri melingkari tempat pertunjukan. Antartempat pertunjukan dan penonton terdapat gan! pembatas yang disebut prosenium. Garis ini tidak boleh dilanggar oleh penonton.

b. Penataan ruangan pergelaran zaman Romawi 

Pada zaman Romawi mangan pergelaran mengalami perubahan. Ini sangat tampak pada tempat duduk penonton yang dibuat bertingkat. Dari depa ke belakang bertingkat-tibkat semakin tinggi. Arena pergelaran ini biasanya digunakan untuk mengadu manusia (disebut gladiator) dengan binatang buas. 

c. Penataan ruangan bentuk pentas 

Pertunjukan dengan bentuk pentas tidak memerlukan panggung. Penataannya memiliki berbagai macam bentuk, yaitu bentuk setengah linglaran, bentuk tapal kuda, bentuk huruf L, bentuk huruf U (angkare), atau bentuk segitiga.

Ada juga bentuk arena yang disebut aphiteater, yaitu tempat pertunjukan yang lebih rendah dari tempat duduk penonton. Tempat duduk penonton dibuat bertingkat-tingkat. Bentuk amphiteater dapat dilihat di TIM, di Prambanan (tempat pentas Ramayana), atau di Pandaan. Pertunjukan yang menggunakan bentuk arena menuntut gerak dan dialog pemain yang lebih kuat, karena penonton jaraknya lebih dekat maka tidak bisa menempatkan pembisik (Waluyo, 200l:14l).

d. Penataan ruangan pertunjukan masa kini 

Pertunjukan masa kini biasanya menggunakan gedung. Ruangan biasanya berbentuk persegi panjang. Di dalam gedung sudah ada panggung dan tempat duduk penonton, tempat duduk penonton di depan panggung dan bejajar ke belakang mendatar.

3. Teknik Penyajian Pergelaran 

Teknik penyajian pergelaran taeter biasanya menyesuaikan dengan bentuk ruangan pertunjukan. Teknik penyajian pergelaran secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : teknik pertunjukan dengan panggung dan teknik pertunjukan dengan arena (tidak ada panggung). Biasanya teater tradisional menggunakan arena. Namun, pada bab ini yang akan dibahas hanya teknik pergelaran yang menggunakan panggung. 

Baca juga di bawah ini


Pergelaran dengan menggunakan panggung lebih mudah pengelolaannya daripada menggunakan arena (tidak menggunakan panggung). Pergelaran ini lebih mudah karena biasanya menggunakan gedung yang sudah dipersiapkan untuk pentas. Biasanya kedua sisi panggung terbuka sehingga para pemain bisa keluar-masuk melalui kedua sisi tersebut. Pemain bisa keluar-masuk melalui wing. Setting seperti itu sering disebut drop and wing, namun pemain juga bisa kelaur-masuk melalui tempat khusus sementara sisi-sisi lainnya ditutup. Taknik ini disebut box setting.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel